Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Keadaan Reihan


Arkan berjalan ke sana kemari di koridor rumah sakit. Dia tidak lagi bisa tenang seperti sebelumnya. Sudah hampir empat jam sejak Reihan masuk ke ruang operasi tapi belum satupun dokter yang keluar dari ruangan itu. Hanya sesekali perawat yang mondar-mandir mengambilkan peralatan untuk dokter.


"Reihan aku mohon bertahanlah,maafkan sikapku selama ini!" batin Arkan menyesali sikapnya yang dingin pada Reihan.


Alea dan Mila pun sama khawatirnya, kedua gadis itu duduk di kursi tunggu bersama Raffa dan Arya.


Raffa yang tadinya ingin berbicara dengan Alea hanya bisa menundanya. Raffa melihat betapa terpukulnya gadis itu saat melihat keadaan Reihan tadi.


Alea masih tak berhenti menangis, dia takut kehilangan Reihan. Juga menyesal karena dirinya lah penyebab Reihan terluka seperti saat ini.


Pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dari sana. Alea dan semuanya mendekat ke arah dokter itu.


"Bagaimana keadaan kakak saya dokter?" tanya Mila sambil terisak.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, tapi dia belum sadar. Kemungkinan akan mengalami koma."


Penjelasan dokter seperti sebuah tamparan bagi semuanya. Terlebih bagi Arkan. Dia seperti merasakan kembali kehilangan sahabatnya yang dulu.


Arkan jatuh lunglai ke lantai. Dia terduduk lemas sambil memegangi wajahnya. Dia menangis lagi. Arkan tak perduli bahwa banyak orang yang melihatnya. Sebagai seorang pria dia seharusnya pantang untuk menitikkan air mata. Tapi karena Reihan dia menangis lagi.


Diantara kesedihan mereka, Zelia dan Andrew datang. Keduanya baru mendengar kabar bahwa Alea hendak di tabrak mobil dan di selamatkan oleh Reihan.


Keduanya yang berada di luar negeri segera pulang untuk melihat keadaan putri mereka.


"Alea kamu baik-baik saja sayang?" tanya Zelia langsung merangkul putrinya.


"Mama, Alea baik-baik saja. Tapi Reihan ma, pa, dia koma!" tangis Alea pecah lagi saat memberitahu keadaan Reihan.


"Kamu tenang dulu Alea. Kita doakan saja Reihan agar bisa segera sembuh. Papa akan mencari tahu mobil siapa yang menabrak kalian!" ucap Andrew geram dengan apa yang dialami putrinya. Jika ini adalah rencana seseorang yang mungkin menjadi musuhnya. Andrew akan mencari sampai mendapatkan pelakunya.


"Iya pa,Alea mohon cari orang itu. Pasti dia sengaja ingin mencelakai ku," ucap Alea.


"Tentu saja, siapa yang berani menyinggung keluarga Tan pasti akan papa beri hukuman berat!"


Mereka semua setuju dengan perkataan Andrew.Ada yang aneh dari kejadian kecelakaan itu. Karena saat itu banyak siswa yang ada di sana. Tapi mengapa hanya Alea yang menjadi targetnya.


Setelah kedatangan kedua orang tuanya, Alea menjadi lebih tenang. Kini mereka bergantian untuk menjenguk Reihan yang sudah di pindahkan ke kamar pasien.


Mila terlebih dahulu masuk, setelah itu Arkan.Pria itu perlahan masuk ke dalam ruang rawat Reihan. Dia bisa melihat bagaimana alat-alat medis itu menancap di beberapa anggota tubuhnya. Di bagian kepala pria itu juga tengah di perban.


Dia menutup mata, tak berdaya di atas ranjang rumah sakit itu.Arkan berjalan mendekatinya. Dia ingin sekali memeluk pria itu.


"Rei,maaf kan aku! Tolong sadarlah!" ucap Arkan dengan bibir bergetar. Dia tak kuasa menahan kesedihannya. Arkan duduk di samping Reihan, dia memegang tangan sahabatnya. Berharap Reihan bisa meresponnya. Namun tak ada gerakan apapun dari pria yang saat ini terbaring tak berdaya itu.


"Aku tahu kamu pasti marah sama aku. Bangunlah, kamu bisa memukulku di manapun kamu suka! Lihat ini wajahku, kamu boleh memukulnya," tunjuk Arkan pada wajahnya. Tapi percuma Reihan masih saja menutup matanya.


Cukup lama Arkan menjenguk Reihan, hingga berganti dengan Alea. Gadis itu menangis di samping tubuh Reihan.


"Bodoh! Kamu bodoh Rei!"


Ucap Alea sambil menangis, dia ingin sekali memarahi pria itu.


"Kamu bodoh, kenapa harus mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan aku!" sambungnya lagi.


"Kenapa kamu baik padaku Rei!" Alea menangis sesenggukan. Sesekali gadis itu mengusap air matanya.


"Rei bangun lah, ayo kita ke tempat itu lagi. Kamu janji kan bakal ngajak aku ke sana lagi!" ucap Alea teringat tentang kenangan mereka.


"Kalau kamu mau bangun, aku akan menuruti satu keinginanmu! Bangunlah Rei!"


Alea menangis di samping tangan Reihan. Dia menundukkan kepalanya hingga menempel pada pinggir ranjang.


Hingga tanpa sadar dia tertidur karena kelelahan yang menderanya. Raffa yang berada di balik kaca pintu menatap sendu pada pemandangan di depan matanya.


Alea seperti jauh dari dirinya, meski gadis itu berada tepat di depan mata. Raffa merasa Alea memiliki perasaan pada Reihan. Entah itu sebagai sahabat atau lebih.


"Kamu begitu peduli dengannya Alea, jika aku yang berada di ranjang itu, apa kamu juga akan sepeduli ini?" batin Raffa. Ada rasa ngilu yang saat ini dia rasakan kala melihat keduanya. Raffa memilih untuk pamit pulang. Dia tahu tak ada gunanya saat ini berada di dekat Alea. Karena gadis itu tak sedikitpun memberikan tempat untuknya.