Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Kegilaan Sanny


Andrew meminta para pengawalnya untuk memeriksa Cctv sekolah, hari dimana Reihan kecelakaan.


Menjadi seorang ayah yang mengetahui bahwa putrinya dalam bahaya, membuat Andrew begitu geram. Dia harus mendapatkan informasi tentang pelakunya.


Sehari setelah meminta para pengawalnya mencari tahu. Andrew sudah mendapatkan bukti rekamannya. Namun sayangnya. Plat mobil yang di pakai pelaku sengaja di tutup sebelumnya.


Brak! Andrew menggebrak meja kerjanya. Hingga membuat beberapa pengawal di hadapannya terkejut.


"Sial, ternyata pelaku sudah merencanakan semuanya dengan baik! Kalian cari terus sampai ketemu!" perintah Andrew.


"Baik tuan!" jawab salah satu dari pengawal itu.


Setelah para pengawal itu pergi, Andrew berdiri menghadap ke jendela. Sorot matanya menatap jauh ke pemandangan di luar perusahaannya itu.


"Siapa yang berani menyinggung keluarga Tan?" gumam Andrew.


Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit. Alea masih menunggu Reihan. Dia sudah beberapa hari selalu menjenguk pria itu. Memperhatikan perkembangannya. Tapi belum ada sedikitpun perkembangan dari Reihan untuk segera sadar.


Tapi Alea tidak mau menyerah, setiap hari dia mengajak Reihan berbicara. Mengatakan tentang beberapa hal yang mereka alami sebelumnya.


Alea selalu berharap Reihan bisa segera sadar dan kembali seperti dahulu. Alea tidak tega jika melihat Mila yang selalu murung karena sang kakak belum juga sadar dari komanya.


Alea bisa merasakan bahwa Mila sangat takut kehilangan sang kakak. Bahkan di saat seperti ini, kedua orang tuanya benar-benar tidak memperdulikan Reihan.


Hanya untuk menghubungi keduanya saja, Mila sangat kesulitan. Apa lagi bisa bertemu dengan mereka. Mila merasa bahwa keduanya sudah tidak sayang pada kedua saudara itu.


Alea yang mendengar cerita Mila hanya bisa bersyukur. Karena dirinya masih memiliki kedua orang tua yang peduli padanya dan juga kedua saudaranya.


Meski kadang kedua orang tuanya jarang berada di rumah. Tapi Alea tahu semua itu demi dirinya dan juga kedua saudaranya.


"Rei, besok kita sudah harus pergi ke sekolah? Bagaimana denganmu?" ucap Alea pada Reihan yang terbaring di ranjang tanpa bisa merespon apapun.


"Ayo bangun Rei, nanti kita bisa belajar bersama!" ajak Alea.


Tapi semua masih sama, Rei masih diam saja. Hingga suara ketukan pintu ruang itu membuat Alea menoleh ke arahnya.


Raffa masuk ke dalam ruang itu, memberikan senyuman pada Alea.


"Alea," sapa Raffa.


"Kak Raffa?" balas Alea.


"Boleh minta waktunya, aku ingin bicara sama kamu," pinta Raffa.


"Tentang apa kak?" tanya Alea.


"Alea aku masih menyayangimu. Apa kamu masih bisa menerimaku?" tanya Raffa. Dia merasa takut jika Alea akan menolaknya.


Alea masih terdiam, tapi hal di luar dugaan keduanya. Tanpa mereka ketahui jari tangan kiri Reihan bergerak. Meski hanya sebentar.


Kemungkinan Reihan mendengarkan percakapan keduanya. Namun dia masih berada di bawah sadar.


"Tapi kak, aku gak tahu harus menerima kamu atau tidak. Beberapa hari ini aku merasa seseorang memperhatikan kita, entah itu hanya perasaanku saja atau bukan. Untuk saat ini maaf kak, aku belum bisa menerimamu, tolong beri aku waktu sampai masalah ini menemui titik temu."


"Iya Alea aku mengerti, maaf membuatmu tidak nyaman karena perasaanku," jawab Raffa seperti menahan kecewa. Bahwa dia belum sepenuhnya bisa memenangkan hati gadis di depannya itu.


"Makasih kak, buat pengertiannya," Alea merasa bersalah setelah meminta hal itu pada Raffa. Terlihat sekali kekecewaan di wajah pria itu. Tapi ada hal yang kini mengganjal di hatinya.


Tapi saat di jalan, pria itu melihat seseorang yang dia kenal.


"Bukankah itu Sanny?" gumam Raffa.


Sekali lagi, Raffa mencoba memperhatikannya. Dia mengurangi laju mobilnya. Dan benar saja bahwa wanita yang dia lihat adalah Sanny. Dia tengah masuk ke dalam sebuah restoran.Raffa yang penasaran akhirnya mengikutinya.


"Kenapa dia bisa berada di sini? Apa mungkin dia sengaja mengikuti ku?" tanya Raffa.


Raffa tiba di depan restoran itu dan segera memakai maskernya. Agar Sanny tak menaruh curiga padanya.


Raffa masuk ke dalam restoran, dia mencari dimana Sanny duduk. Ternyata dia tepat berada di meja sampingnya. Tapi wanita itu tidak sendiri. Dia bersama seorang pria yang Raffa tak mengenalinya.


"Apa yang kamu inginkan?" ucap pria itu pada Sanny. Raffa bisa mendengar jelas percakapan mereka. Meski meja keduanya terpisah oleh penghalang.


"Aku mau kamu menculik gadis ini, terserah kamu mau melakukan apa dengannya, asal dia bisa menderita!" pinta Sanny, Raffa terkejut mendengar perkataan Sanny barusan. Dia curiga bahwa gadis yang di maksud Sanny adalah Alea.


"Siapa dia?" tanya pria itu.


"Dia adalah putri dari Andrew Tan, kamu tahu kan siapa itu?" tanya Sanny.


"Kamu gila ya? kenapa harus berurusan dengan keluarga itu! Aku tidak mau melakukannya!" ucap pria itu menolak.


"Kenapa kamu takut? Bukankah kamu pembunuh berdarah dingin?" sindir Sanny.


"Tapi aku tidak akan menyinggung keluarga itu, sekalipun bayaran yang kamu berikan sangat tinggi!" pria itu melempar foto yang sebelumnya di berikan oleh Sanny padanya. Foto itu adalah milik Alea.


"Dasar penakut!" ucap Sanny kesal. Dia tidak tahu lagi harus menyuruh siapa untuk menghancurkan Alea.


"Kalau tidak ada yang berani, aku akan melakukannya sendiri! Lihat saja aku pasti akan menghancurkanmu Alea!" ucap Sanny pelan.


Raffa mengepalkan kedua telapak tangannya. Darah di seluruh tubuhnya seolah mendidih. Ternyata Sanny benar-benar telah kehilangan kendali.


"Apa jangan-jangan dia yang telah berencana menabrak Alea?" gumam Raffa berfikir tentang kecelakaan yang di alami Alea dan Reihan.


Tanpa menunggu lagi,Raffa segera mendekati wanita itu. Dia mencengkeram bahu Sanny dengan kuat. Membuat Sanny terkejut.


"Raffa?" ucap Sanny saat Raffa sudah membuka maskernya. Dia tampak terkejut dengan kedatangan Raffa yang tiba-tiba, tapi di sisi lain dia merasa senang karena bisa bertemu dengan pria itu lagi.


Sanny berharap bahwa Raffa tidak mengetahui rencananya yang barusan telah berbicara dengan pembunuh bayaran itu.


"Iya ini aku, kenapa terkejut seperti itu?" tanya Raffa sinis.


"Oh siapa yang terkejut, aku hanya terlalu senang saja kamu bisa berada di sini," ucap Sanny mencari alasan.


"Jangan berbohong lagi, aku sudah mendengar semua yang kamu ucapkan tadi pada pria pembunuh itu!" ucap Raffa langsung pada intinya.


"A-aku tidak berbicara dengan pembunuh.Kamu pasti salah mengerti Raffa," bujuk Sanny, tapi Raffa tidak akan percaya lagi.


"Aku peringatkan kamu Sanny, jangan coba-coba menyentuh Alea secuil pun. Kalau kamu berani melakukannya aku akan memastikan kedua tanganmu terpotong!" ancam Raffa. Sanny hanya terdiam menatap pria itu, tapi kedua tangannya mengepal. Menahan amarah yang siap dia keluarkan saat ini.


"Kenapa? Kenapa hanya demi wanita itu kamu bisa mengancam ku seperti ini Raffa!" batin Sanny kecewa.


Setelah mengucapkan hal itu, Raffa segera meninggalkan Sanny sendiri. Wanita itu menyingkirkan semua minuman yang berada di atas meja dengan kedua tangannya.


"Aaah!" teriaknya meluapkan amarah. Kini dia semakin membenci Alea. Karena gadis itu pria yang dia sukai malah membencinya. Sanny berjanji akan menghancurkan Alea.