Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Afzriel Tan Meninggal


Han dan Andrew tengah berdiri di depan sebuah rumah tua. Meskipun sedikit usang namun bangunan itu masih kokoh berdiri. Di sampingnya seorang ibu-ibu tengah menyirami bunga.


Han mencoba menanyakan keberadaan penghuni rumah itu karena dari tadi tak ada jawaban saat keduanya mengetuk pintu.


"Maaf bu, boleh kami tahu dimana pemilik rumah ini?" tanya Han.


"Pemiliknya sudah meninggal tuan seminggu yang lalu," jawabnya.


"Meninggal?" Han terheran.


"Saya juga kurang begitu paham keluarga ini tuan, mereka sangat tertutup."


"Baiklah, terima kasih untuk infonya bu," balas Han.


Dia lalu menuju ke tuan mudanya.


"Bagaimana Han?" tanya Andrew.


"Katanya penghuninya sudah meninggal seminggu yang lalu tuan."


"Jadi dimana anak laki-laki itu?" tanya Andrew penasaran.


"Keluarga ini sangat tertutup tuan,ibu itu bahkan tak tahu tentang keluarga ini," jawab Han. Andrew hanya mendesah pelan. Lagi-lagi dia kehilangan jejak Alea.


"Cari terus Han, meski ke ujung dunia sekalipun."


"Baik tuan," Han mengangguk paham.


Keduanya lalu kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang akhir-akhir ini berantakan karena kesibukan Andrew dalam mencari Alea.


***


Di sebuah rumah megah Liera tengah menikmati hidupnya. Dia bersama dengan Robi. Pria kaya yang baru beberapa hari ini dia kenal.


"Bagaimana rencanamu selanjutnya?" tanya Robi yang mulai tertarik dengan kehidupan wanita di depannya itu.


"Aku ingin membalas dendam pada keluarga Tan itu," jawab Liera tenang.


"Keluarga Tan?" tanya Robi.


"Ya terutama Andrew Tan, dia yang telah mempermalukanku di acara pernikahan kami. Dia juga yang membuat anakku tak bisa melihat dunia ini."


Di mata Liera terlihat jelas bagaimana dendam itu. Robi bisa melihatnya.


"Sepertinya kita memang berjodoh dalam hal ini," ucap Robi.


"Maksud kamu?" tanya Liera tak memahami ucapan Robi.


Pria itu lalu mendekat ke telinga Liera, dia membisikkan sesuatu kepada wanita itu.


"Apa itu benar?" tanya Liera tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari Robi.


"Ya itu benar," jawab Robi.


"Kalau begitu mau kah kamu membantuku kali ini?" tanya Liera.


"Tentu saja, tapi bagaimana bayarannya?" tanya Robi.


"Apapun yang kamu inginkan aku akan memberinya."


"Termasuk tubuhmu?" goda Robi.


Liera mengangguk yakin, dia tak peduli lagi dengan harga diri. Yang terpenting dendamnya terpenuhi.


Hari berikutnya, Andrew terkejut dengan berita kecelakaan yang terjadi pada kakeknya yang dikabarkan oleh pihak kepolisian.


Andrew dan Zelia serta Arkan segera ke rumah sakit. Disana sudah ada Ariana dan juga Zulian. Sang mama menangis di pelukan Zulian.


"Ma, gimana keadaan kakek?" tanya Andrew yang baru tiba.


"Masih di tangani dokter Ndrew," jawab Ariana.


"Pa sebenarnya apa yang terjadi sampai kakek bisa kecelakaan begini?" tanya Zelia pada Zulian.


"Papa juga kurang tahu Zelia, tadi polisi sudah menyelidiki kasus kecelakaan ini."


Pintu ruang penanganan Afzriel Tan terbuka, seorang dokter keluar dari sana.


"Siapa yang bernama Andrew Tan?" tanya dokter itu. Andrew langsung mendekat ke arahnya.


"Saya dok, saya Andrew."


"Mari ikut ke dalam, tuan Afzriel ingin berbicara pada anda," ajak dokter itu. Andrew mengangguk dan akhirnya mengikutinya.


"Kakek," panggil Andrew Tan.


Sang kakek memegang tangan Andrew, dia meminta Andrew untuk mendekatkan telinganya ke bibir pria paruh baya itu.


"Andrew, kamu harus berhati-hati dengan keluarga Alexandra. Kakek titip keluarga Tan padamu." Ucapnya dengan suara pelan namun masih terdengar di telinga Andrew.


Andrew mendelik terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh kakeknya.


"Kek, jangan bicara seperti itu, Andrew yakin kakek akan sembuh kembali."


Tak terasa kedua mata Andrew mulai berair. Saat ini dia merasa bahwa kakeknya sedang berpamitan padanya.


Afzriel Tan menggelengkan kepalanya pelan.


"Kakek sudah tidak kuat lagi Ndrew, kamu harus janji menemukan cicit perempuan kakek."


"Baik kek, Andrew berjanji pada kakek, menjaga keluarga Tan dan juga menemukan Alea."


Afzriel Tan tersenyum, namun sedetik kemudian dia tak bersuara lagi. Bahkan dadanya tak lagi bergerak, menandakan dia telah tak bernafas.


"Kakek," panggil Andrew.


"Dok kakek saya, dok!" Andrew mulai panik.


Dokter langsung memeriksa detak jantung Afzriel Tan. Dan mencoba memberikan pertolongan darurat.


"Maaf tuan Andrew, kakek anda sudah meninggal," ucap dokter itu. Seketika membuat Andrew menangis memeluk kakeknya.


"Kakek jangan pergi kek!" ucap Andrew sambil mengguncang tubuh kakeknya. Dari luar Ariana, Zulian, Zelia, Arkan dan Oliv serta keluarga besar Zelia masuk ke dalam ruang itu.


Mereka semua bersedih terutama Oliv. Dia kehilangan lagi pria yang berada di hatinya untuk kedua kalinya. Tapi kali ini dia kehilangan pria itu selamanya.


Siangnya prosesi pemakaman berjalan lancar. Tak ada lagi air mata di kedua mata Andrew. Meski begitu bukan berati dia tak sedih jika mengingat kembali kakeknya. Dia sangat sedih.


Di rumah, dalam ruang kerjanya dia tengah berbicara dengan Han.


"Han, bagaimana keadaan Flo saat ini?" tanya Andrew. Flo ikut menjadi korban dalam insiden kecelakaan yang menewaskan kakeknya.


"Flo masih koma tuan Andrew, sedangkan sopir kita tewas di tempat."


Andrew hanya bisa menahan kesedihannya, tapi dia sadar bahwa kecelakaan ini harus di cari penyebabnya.


Pria itu tengah memikirkan pesan terakhir yang di ucapkan oleh sang kakek sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


"Lalu bagaimana hasil penyelidikan kasus kecelakaan ini Han?" tanya Andrew sambil memegang keningnya yang mulai pusing. Dia kurang istirahat beberapa hari ini.


"Pihak kepolisian belum memberikan hasilnya tuan," jawab Han.


"Baiklah kamu boleh pergi Han," pinta Andrew.


Han mengangguk dan melangkah ke arah pintu luar. Namun sebelum pria itu benar-benar hilang di balik pintu. Andrew memanggilnya lagi.


"Tunggu Han," panggil Andrew, Han menoleh kembali ke arah tuannya.


"Iya tuan ada lagi yang di perlukan?" tanya Han.


"Kamu cari tahu tentang keluarga Alexandra, kakek bilang kita harus berhati-hati dengan mereka," ucap Andrew yang mulai penasaran dengan keluarga itu.


"Baik tuan."


Han lalu benar-benar pergi dari ruang itu, Andrew yang sendirian kini mulai teringat kembali dengan masa lalunya bersama sang kakek.


Dari kecil dia sudah di rawat oleh sang kakek. Di saat terakhirnya Andrew belum bisa memberikan kebahagiaan pada kakeknya. Dan kini mereka harus terpisah oleh dunia yang berbeda.


Zelia yang berada di ambang pintu, mencoba mendekat ke arah Andrew. Bahkan pria itu tak sadar bahwa istrinya masuk ke ruangannya.


"Ndrew," panggil Zelia sambil melingkarkan tangannya di leher pria itu dari belakang. Andrew terhenyak karena kaget.


"Zelia."


"Aku tahu kamu sangat sedih kehilangan kakek, kita semua juga sedih Ndrew. Tapi jangan pernah berfikir kamu sendiri. Karena kita bisa lakuin semuanya bersama," ucap Zelia memberikan semangat untuk suaminya.


Andrew tersenyum lalu menuntun tangan Zelia agar tubuhnya berpindah di depannya. Mendudukkan wanita itu di pangkuannya.


"Ndrew," Zelia terkejut dengan perlakuan Andrew yang tiba-tiba begitu. Pria itu bahkan memeluk tubuhnya,serta membenamkan wajahnya di dada Zelia.


"Biarkan seperti ini sebentar saja Zelia," ucap Andrew meminta. Zelia hanya bisa menuruti keinginan suaminya itu.


Mungkin dengan begitu bisa menenangkan hati pria yang tak pernah terlihat bersedih sebelumnya. Zelia mengelus puncak kepada Andrew. Memberikan ketenangan bagi pria itu.