Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Mengobati Luka


Bel pulang telah berbunyi, satu persatu para murid beranjak dari bangkunya untuk segera pulang. Begitu pula dengan Alea yang ingin segera pulang, namun apa daya dia tak bisa pergi secepatnya.


Hari ini adalah bagian dirinya piket kelas, dia harus membersihkan kelas sebelum pulang. Seharusnya Alea bersama Winda teman sekelasnya. Namun dia tak masuk hari ini karena sakit. Jadilah Alea yang piket sendirian.


Di belakangnya, Rei masih tidur di bangkunya. Alea menatap malas pada pria itu. Dia tak peduli dengan keberadaannya dan segera membersihkan kelas.


Setengah jam kemudian dia telah selesai, Alea segera mengembalikan peralatannya ke tempatnya kembali.


Brak.


Suara orang terjatuh terdengar begitu nyaring. Alea merasakan sakit di kedua lututnya. Sedangkan susulan gelak tawa terdengar di telinga gadis itu.


Siapa lagi kalau bukan Reihan, dialah biang keladi dari jatuhnya Alea.


Salah satu kaki pria itu sengaja di arahkan pada kaki Alea yang sedang berjalan. Membuat gadis itu tersandung dan jatuh.


"Kamu sengaja ya!" teriak Alea setelah bersusah payah berdiri.


"Emang enak, itu balasan buat kamu yang tadi pagi udah nabrak aku!" ucap Rei sambil tersenyum mengejek.


"Kamu!" Alea mengepalkan tangannya ingin sekali memukul pria itu. Tapi lututnya terasa ngilu. Darah segar mengalir dari salah satu lututnya karena mengenai kayu sapu yang dia bawa tadi.


"Ah!" desisnya menahan sakit.


Rei melihat luka di lutut gadis itu. Namun dia tak perduli. Tapi di dalam hatinya merasa sedikit bersalah.


"Dasar cowok gak berperasaan!" ucap Alea di hadapan wajah Rei. Keduanya sejajar,saling menatap dengan emosi masing-masing.


Rei hanya bisa diam tak menjawabnya. Alea segera pergi setelah mengambil tasnya. Dengan langkah tertatih dia keluar dari kelas.


Di gerbang sekolah Alea tak sengaja bertemu dengan Raffa. Entah kenapa pria itu tiba-tiba muncul.


Raffa yang melihat kaki Alea terluka segera menghampirinya.


"Kenapa kakimu?" tanya Raffa sambil segera berlutut melihat kaki Alea.Alea merasa tak enak, kemudian memundurkan tubuhnya.


"Ini gak apa-apa kok, cuma jatuh aja kak," jawab Alea.


"Kamu yakin?" tanya Raffa.


Alea menganggukkan kepalanya. Raffa yang ragu segera membopong Alea.


"Eh kamu mau apa?" tanya Alea terkejut.


"Sakit kan? aku gendong ke mobil?" ucap Raffa yang langsung membawa Alea ke mobil miliknya.


"Ta-tapi ini di sekolah, nanti ada yang liat salah paham!" ucap Alea sambil berusaha melepaskan diri dari Raffa. Namun pria itu terlalu kuat untuk Alea.


"Udah diam, mau aku jatuhin!" ancam Raffa. Alea menuruti kemauan pria itu. Kedua tangannya mencoba melingkar di pundak pria itu agar tak jatuh.


Kedua mata Alea menatap rahang Raffa. Begitu maskulin jika terlihat secara dekat.


Raffa yang fokus ke jalan menuju mobilnya tak menghiraukan Alea. Bahkan gadis itu sudah merona di kedua pipinya.


Dengan pelan Raffa meletakkan Alea di kursi depan dan memasangkan sabuk pengaman.


Di sudut ruang lantai dua, Reihan memperhatikan keduanya. Ada perasaan familiar saat melihat pria yang tengah menjemput Alea. Tapi Rei tak mengenali siapa pria itu.


Sedangkan di dalam mobil, Alea tak terlalu tahu jalanan yang mereka lalui. Hanya bisa menerka-nerka kemana mereka akan pergi. Sambil di dalam hati bertanya gelisah. Namun tak berani berucap ke pengemudi mobil itu.


Tak butuh waktu lama untuk Raffa sampai di apartemennya. Dia keluar dari mobil dan membuka pintu sebelahnya.


"Ayo keluar," ajak Raffa.


"Ini dimana?" tanya Alea ragu-ragu.


"Ini di apartemenku," Raffa hendak bersiap menggendong Alea lagi.


"Hah apartemen mu?" tanya Alea tak percaya. Dia menolak tangan Raffa saat pria itu merangkul pundaknya.


"Iya, kenapa?" tanya Raffa di depan wajah gadis itu. Sangat dekat, bahkan deru nafas keduanya bisa saling merasakan.


"Kenapa harus ke sini?" tanya Alea sambil menghindari tatapan kedua mata Raffa secepatnya.


"Aku mau mengobati lukamu itu. Tapi perlengkapannya ada di apartemen."


Raffa tak mau berlama-lama dia segera menggendong Alea lagi.


"Aku bisa jalan sendiri! cepat turunkan!" Alea hendak berontak dari gendongan Raffa.


"Kelamaan!" ucap Raffa tanpa melepaskan Alea. Gadis itu hanya bisa menghela napas dalam sambil membenamkan wajahnya di dada pria itu.


Dia malu jika sampai ada yang melihat mereka berdua.


Raffa malah tersenyum melihat Alea membenamkan wajah di dadanya. Ada perasaan aneh yang dia rasakan, namun perasaan itu bisa membuatnya bahagia.


Alea duduk disalah satu sofa dalam apartemen mewah itu. Raffa muncul dari dalam kamar sambil membawa obat dan perban.


Dia lalu berlutut di depan Alea. Membersihkan luka gadis itu.


"Auh sakit!" ucap Alea.


"Tahan bentar,"ucap Raffa sambil fokus mengobati luka di lutut gadis itu.


Alea merasa tersentuh dengan perlakuan Raffa, tanpa dia sadari sudut di bibirnya mulai terangkat membentuk senyuman tipis.


"Nah udah selesai!"ucap Raffa membuat Alea kembali ke kenyataan lagi.


"Makasih kak Raffa," baru kali ini Alea merasa harus bersahabat dengan Raffa, setelah beberapa hari lalu merasa kesal dengan pria itu.


Raffa tersenyum menanggapi Alea.


"Oh ya kamu bisa istirahat disini dulu sementara," pinta Raffa.


"Tapi kak,nanti papa dan mama pasti nyariin aku," jawab Alea.


"Tenang aja, kakak udah bilang kok kamu di sini," jawab Raffa sambil berjalan kembali ke kamarnya.


Alea masih terdiam di sofa itu,memikirkan kenapa begitu mudah kedua orang tuanya mengijinkan dia untuk berdua dengan Raffa di sini.