
"Pak, saya mohon jangan hubungi orang tua saya. Saya berjanji, saya tidak akan mengulangi nya lagi". ujar Marsha yang terus memohon, lalu menatap ke arah Lea
" lea, please maafin gue ya, gue janji gue nggak bakal ngelakuin hal itu lagi sama lo. please bantuin gue buat ngomong semua ini". Pinta Marsha Lagi
Lea menatap ke arah Marsha yang terus memohon kepada nya, namun wanita itu malah menyingkirkan tangan Marsha yang memegang erat tangan nya.
Mama indah juga menarik tangan lea untuk dia genggam dua-dua nya.
"Saya nggak mau hanya kata maaf saja ya pak, anak saya ini sudah dibully seperti itu tentu saja saya sebagai orang tua tidak terima anak saya di perlakukan seperti itu, hal itu tidak bisa terus-terusan di beri toleransi. mau sampai kapan sekolah yang terkenal dengan attitude yang bagus dan juga nilai akademik yang sangat baik, serta siswa nya yang berprestasi, tapi di dalam nya ada orang-orang yang suka melakukan tindakan bullying seperti ini dan sekolah tidak menghentikan nya dengan tegas pak". tegas Mama indah
"tante, please.. saya mohon maafkan saya, tapi Lea bukan anak tante kan dan saya juga enggak punya masalah apapun sama Leon, saya juga telah meminta maaf pada Lea, jadi saya mohon.. tolong maafkan saya, saya berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi". mohon Marsha
"Siapa bilang Lea bukan anak saya? dia itu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri dan bukan karena hal itu saja, ini juga untuk membersihkan nama sekolah dari hal yang seperti itu, sudah berapa banyak korban dari tahun ke tahun yang mendapatkan tindakan bullying seperti ini? apa bapak bisa tahu berapa jumlah korban bullying di sekolah ini? tentu tidak kan pak, Saya harap kalian bisa lebih tegas kali ini dalam menyikapi hal seperti itu". tegas Mama indah
"Ma.. sudah ya, Lea juga udah nggak apa-apa kok". ujar Lea berusaha menenangkan mertua nya itu
ada rasa bahagia dan juga haru di dalam hati nya karena mertua nya sebegitu membela nya dan meminta hak untuk diri nya agar tidak di ganggu oleh orang lain lagi.
Untuk menghempaskan para pelaku bullying di sekolah ini, walaupun Lea sendiri cukup prihatin dengan apa yang di alami oleh Marsha, tetapi ia tidak ingin jika ini hanya ucapan janji di mulut saja .
karena jika ini di biarkan, akan ada penerus Marsha dan korban selanjut nya jika tindakan ini masih saja di sepelekan, hal itu membuat Lea lebih setuju kepada mertua nya dari pada mengasihani wajah Marsha yang membuat diri nya selalu kesal kepada nya.
"kamu setuju sama Mama kan?". tanya Mama indah
"setuju mah". jawab Lea menganggukan kepala nya
(Hemm kenapa kak Devan jadi seperti itu ya, tatapan nya juga aneh banget sama gue. apa gue pernah ngelakuin kesalahan sama dia? apa gara-gara gue menolak perasaan nya waktu itu, jadi dia seperti ini?). Tanya Lea menduga-duga di dalam hati nya
Setelah beberapa menit kemudian, akhir nya mereka semua pun berkumpul di ruangan BK dan sudah ada orang tua dari Masha yang habis menampar keras pipi anak nya itu.
bahkan Lea sampai menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, saat papa Marsha melakukan itu di hadapan banyak orang.
terlebih lagi ada para guru dan juga kepala sekolah yang melihat nya.
"kamu ini mau sekolah apa mau tawuran hah??! kamu mempermalukan keluarga nama saja, kamu tuh enggak bisa jadi contoh buat saudara kamu yang lain nya! dasar perempuan berandalan!!". kata Papa Marsha
"pak, maaf.. tolong jangan melakukan anak seperti itu, mari kita bicarakan semua dengan kepala dingin". pinta guru BK itu
"saya sibuk jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?".tanya papa Marsha tanpa basa-basi
"mari duduk dulu pak".
"enggak bisa, saya ini lagi sibuk dan saya harus segera pergi, jadi cepat katakan apa yang harus saya lakukan. Saya ini bukan pengangguran yang hanya mengurusi anak Badung seperti Marsha ini, jika dia akan di keluarkan dari sekolah, keluarkan saja dia, maka saya akan mencarikan sekolah baru lagi untuk nya". tegas papa Marsha
"Baiklah pak, karena keputusan sekolah bersama sudah bulat, Marsha akan kami skor selama 1 minggu". Ujar kepala sekolah
"ta...tapi pak, seminggu?". tanya Marsha mengulang perkataan kepala sekolah
"Iya benar, jika kamu masih melakukan hal seperti itu lagi, maka terpaksa kami juga akan mengeluarkan kamu dari sekolah ini". jelas kepala sekolah
...****************...
di apartemen Leon terus memeluk Lea yang lagi sibuk memasak makan malam untuk mereka berdua, sehingga membuat nya begitu risih dan terus berusaha menepis tangan Leon dari tubuh nya.
"apaan sih kamu ini, aku lagi masak loh. aku mau masak, kalau kamu gangguin terus kayak gini makanan nya enggak bakal jadi". Ketua Lea
"ya tapi kamu jangan marah dong sama aku, coba senyum dulu, mana senyum manis nya". Pinta Leon
"enggak, aku enggak marah. udah deh sana".
Lea menghela nafas nya dengan panjang dan langsung tersenyum manis ke arah Leon, hingga lelaki itu pun tersenyum bahagia dan memeluk lea dengan erat.
"udah kan? ya udah sana duduk kalau kamu mau makan". Lea mendorong tubuh Leon dan menyuruh lelaki itu duduk
lalu dia langsung berbalik badan dan memasak lagi, setelah masakan pun telah siap, Leon menghentikan lea yang sedang menyiapkan masakan nya itu.
Leon ingin menyiapkan nya sendiri agar Lea tidak kelelahan.
"sini duduk". Ujar Leon seraya menarik kursi
" biar mas aja yang siapin ya".
"Ya udah kalau gitu, awas aja berantakan nanti aku suruh kamu tidur diluar!!". Ancam Lea
"iya siap bos aman".
dengan hati-hati Leon membawa mangkok berisi sayuran dan juga lauk lain nya, tiba-tiba putra datang mengejutkan mereka berdua, karena memang pintu apartemen tadi belum di kunci.
Prangg...
makanan pun terjatuh ke bawah hingga berserakan dan tidak ada yang bisa di makan lagi, hal itu membuat putra menutup mulut nya, sedangkan Lea menatap datar ke arah Leon tanpa berkata-kata.
" sayang ini salah putra, ini bukan salah mas, maaf".
Lea langsung menatap ke arah putra dan lelaki itu pun langsung menggelengkan kepala nya serta melambaikan tangan seakan bukan ialah pelaku nya.
"enggak, bukan gue pelaku nya.. gue enggak sengaja benar dah sumpah, salah kan Leon tuh".
"bodoh amat!!". Lea langsung melangkahkan kaki nya menuju ke arah kamar
kini wanita itu sedang benar-benar merasa jika emosi nya seakan ingin meluap begitu saja, entah kenapa hari ini diri nya ingin sekali Marah-marah.
tapi tiba-tiba Lea menghentikan langkah nya dan memegangi perut nya yang terasa sakit, membuat Leon langsung berlari menuju ke arah nya dan membawa istri nya itu untuk duduk di sofa.
"sayang, kamu kenapa?". tanya Leon panik
"Lea, lo nggak apa-apa kan?". Tanya putra juga
"diam lo! ini semua gara-gara Lo!!". Ketus Leon
"ya sorry lah bro, gue kan nggak tahu kalau lo lagi bawa piring, gue cuma mau bikin kejutan aja buat kalian berdua". sahut putra merasa bersalah
"Hemm mungkin perut Lea sakit karena nggak makan pasti, ya udah kalau gitu gue pesen makanan ya". tawar putra
"ya udah cepat sana, yang enak ya dari resto bintang 5". sahut Leon
"aduh sakit banget".
"apa nya yang sakit sayang? ". tanya Leon
"perut aku sakit kayak kram gitu".
"apa jangan-jangan lo lagi hamidun lagi". ujar putra
"Hamidun apaan? ". Tanya Leon
" Hamil! ". Jawab Putra
Lea dan Leon membulatkan mata nya dan saling menatap satu sama lain saat mendengar perkataan dari putra