Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Si Kembar


Beberapa bulan berlalu hingga akhirnya Zelia mendekati hari perkiraan lahir anaknya. Tepat di minggu ini seharusnya minggu lahirnya sang bayi menurut pemeriksaan dokter.


Hal yang membahagiakan bahwa sebelumnya Zelia dan Andrew sudah melakukan Usg terhadap anak mereka. Hasilnya adalah sepasang bayi kembar, laki-laki dan perempuan.


Zelia yang memiliki gen kembar jelas merasa bahagia karena dia akan segera memiliki anak kembar sama seperti dirinya.


"Sayang, gimana udah ada tanda-tanda akan melahirkan?" tanya Andrew di sela-sela mereka menikmati sebuah acara di televisi.


Zelia menggelengkan kepalanya. Dia lalu mengelus perutnya yang terlihat begitu besar. Kedua bayinya masih saja kuat menendang perutnya.


"Apa perkiraan dokter salah ya Ndrew?" tanya Zelia mulai khawatir.


"Mungkin saja, nanti kita periksa lagi ke dokter ya," ajak Andrew, Zelia mengangguk setuju.


Di siang harinya Zelia dan Andrew pergi ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit keluarga milik Andrew.


Sama seperti biasanya, keduanya langsung menuju ke ruang khusus dokter kandungan.


Setelah melakukan pemeriksaan pada Zelia. Ternyata kedua bayinya dalam posisi sungsang. Dokter menyarankan Zelia untuk segera melakukan operasi caesar.


Andrew dan Zelia memutuskan untuk melakukan operasi karena waktu pun sudah menunjukan bahwa seharusnya kedua anak mereka lahir.


"Silahkan bapak Andrew menandatangani surat persetujuan ini, dan mengurus administrasinya," pinta seorang suster sebelum operasi di laksanakan.


Andrew segera mengurus semuanya, setelah itu dia memberi kabar pada mertua dan juga kakeknya tentang Zelia yang akan melakukan operasi.


Andrew lalu menemani Zelia sebelum dia masuk ke dalam ruang operasi.


"Ndrew aku takut," ucap Zelia memegang erat tangan pria itu.


"Zelia tenanglah, jangan takut semua akan baik-baik saja," Andrew mencoba menghibur Zelia, meski sebenarnya dia lebih takut lagi jika hal buruk terjadi pada istri dan anak-anaknya.


Zelia mengangguk, dan setelah itu dia di bawa ke ruang operasi. Zelia hanya bisa pasrah menjalani semua itu. Demi sang buah hati Zelia harus kuat menghadapi semuanya.


Di dalam pikirannya di penuhi bayangan kulitnya yang di sayat dengan pisau operasi. Betapa memilukan rasanya.


Beberapa menit kemudian para keluarga datang, Andrew menunggu tepat di depan ruang operasi dengan gelisah.


"Ndrew gimana Zelia sekarang?" tanya mommy yang baru datang dengan khawatir.


"Dia baru mulai operasinya ma," jawab Andrew.


"Ya Tuhan selamatkanlah putri dan cucu-cucuku," ucap mommy sambil berdoa untuk anak dan cucunya. Di sampingnya dady juga tampak gelisah memikirkan keselamatan ketiganya.


Afzriel Tan pun datang dengan Ariana. Serta Zulian,ketiganya juga sama khawatirnya. Mereka semua menunggu dalam doa masing-masing untuk kelancaran operasi Zelia.


Beberapa jam berlalu, Andrew bahkan sudah tak sabar ingin segera mengetahui bagaimana keadaan Zelia dan anak-anaknya.


Dia berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi, dan sesekali duduk kembali tapi hanya sebentar saja kemudian berdiri lagi.


Andrew merasa begitu tak tenang sebelum mengetahui bahwa mereka baik-baik saja. Bahkan dia berkali-kali melihat jam di tangannya, waktu seolah begitu lama berlalu. Tapi operasinya belum juga selesai.


Klek.


Suara pintu ruang operasi di buka, Mata Andrew langsung tertuju ke arahnya. Tampak dokter yang masih memakai seragam operasi keluar dari ruang itu. Andrew segera berhambur mendekati dokter dan menanyakan keadaan istri serta anaknya.


"Dok gimana istri dan anak saya?" tanya Andrew.


"Selamat ya pak Andrew, ibu dan anak-anaknya selamat," ucap dokter itu. Membuat semua orang yang berada di sana seketika itu menjadi lega.


"Makasih dok," Andrew tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, dia ingin sekali segera memeluk Zelia yang sudah berjuang untuk memberikannya anak-anak lucu.


"Baik dok."


Semua orang di sana memberi selamat pada Andrew, yang akhirnya menjadi ayah juga.


Setelah Zelia sadar dan dipindahkan ke ruang perawatan pasca operasi,Andrew tak bisa meninggalkannya sedetikpun.


Melihat wanita itu harus berpuasa pasca operasi membuat Andrew hendak menangis. Melihat istrinya yang lemas menahan haus dan lapar seperti saat itu.


Pria itu bergantian menjenguk istri dan kedua anaknya. Andrew telah melihat bagaimana menggemaskan kedua anaknya. Tapi dia belum memberikan nama kepada keduanya.


"Aku beri nama mereka siapa ya? Nanti aku tanyakan ke Zelia saja," batin Andrew saat dia melihat kedua buah hatinya dari balik kaca. Keduanya memang di tempatkan di ruang khusus untuk bayi baru lahir.


Di tengah keasikan Andrew melihat anaknya, sebuah telepon masuk ke ponselnya. Andrew segera menerima panggilan itu.


Ternyata itu dari Han yang mengabarkan sesuatu kepada Andrew.


"Halo Han ada berita apa?" tanya Andrew pada Han.


"Tuan ada kabar buruk!" beri tahu Han dari balik ponsel.


"Kabar buruk? ada apa?" Andrew tampak tak senang mendengar hal itu.


"Ruang tahanan mengalami kebakaran tuan, dan Bram ada didalamnya, kami sedang berusaha menanganinya saat ini," balas Han.


"Bagaimana bisa terbakar, cepat padamkan apinya aku akan segera kesana!" perintah Andrew.


"Baik tuan," setelah mengatakan hal itu Andrew segera menutup panggilan di ponselnya.


Dia meremas ponsel di tangannya, dia tak mengira bahwa tempatnya mengurung Bram bisa terbakar.


Andrew lalu berpamitan pada mertuanya yang kebetulan sedang menunggu Zelia.


"Ada apa Ndrew buru-buru pulang?" tanya mommy.


"Ada masalah di rumah ma, mama tolong jaga Zelia sebentar aku pasti akan cepat kembali."


"Baiklah, kamu bisa serahkan Zelia pada mama."


"Makasih ma," Andrew akhirnya merasa tenang jika ada yang menggantikannya menunggu Zelia.


Tak perlu waktu lama untuk Andrew tiba di tempat penahanan Bram. Tampak kobaran api yang sudah pada setengahnya, sedangkan setengahnya lagi masih penuh dengan bara api.


Bisa di pastikan bahwa Bram tak akan selamat jika terperangkap di dalamnya.


"Apa yang terjadi? Siapa yang membakar tempat ini!" tanya Andrew pada Han saat dia sampai di sana.


"Tuan muda, saya juga kurang tahu. Ada yang melihat api keluar pertama kali dari samping rumah dan membakar semuanya."


Han mengatakan apa yang dia tahu dari beberapa saksi di sana.


"Selidiki semuanya Han, cari juga mayat Bram jika masih di sana!" perintah Andrew.


"Baik tuan."


Andrew memutuskan segera kembali ke rumah sakit. Dia tak mau meninggalkan Zelia terlalu lama.


Entah kenapa dia memiliki firasat buruk saat mengetahui salah satu tempat tahanannya terbakar dengan tiba-tiba. Andrew berfikir mungkin ada seseorang yang sengaja membakarnya.


Tapi untuk apa dia harus membakar tempat ini, jika hanya ada Bram yang tak lain hanyalah pria tak berguna itu. Semakin memikirkan hal itu, Andrew semakin pusing saja.