Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Sebuah Dendam


Sedangkan di waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Andrew tengah menunggu kedua anaknya. Zelia yang masih belum sepenuhnya sehat harus berhati-hati dalam menggerakkan tubuhnya. Terutama bagian perut wanita itu. Terdapat bekas sayatan dan jahitan pasca operasi.


"Lihatlah Zelia, Alea benar-benar mirip denganmu," ucap Andrew sambil menggendong Alea putri mereka.


Alea Rienda Tan adalah nama putri keduanya,sedangkan sang putra bernama Arkan Riefaldo Tan.


"Tentu saja, bahkan dia akan lebih cantik dari aku, hahaha," tawa Zelia mengelegar.


"Ya itu memang benar, tapi bukan itu yang ku maksud."


"Eh bukan itu? Lalu apa?" Zelia berhenti tertawa mendengar ucapan Andrew.


"Tingkahnya benar-benar sepertimu, lihatlah dia tak mau berhenti menendang perutku dari tadi. Bukankah kau dulu begitu aktif seperti ini?" tanya Andrew.


Zelia tersipu malu jika mengingat masa-masa pertama kali bertemu Andrew. Yah dirinya memang wanita yang terlalu percaya diri. Bahkan dia senang sekali bertingkah hal-hal aneh. Tanpa rasa malu di depan pria itu.


"Uh dia mengingatkanku pada masa-masa itu," batin Zelia.


"Hei-hei dia juga anakmu, gen darimu juga!" Zelia tak terima jika Andrew mengejeknya. Meski kenyataannya memang dia benar-benar wanita yang seperti di pikirkan oleh suaminya itu.


Andrew hanya tersenyum kecil mendengar ucapan itu dari Zelia. Tak mau memperpanjang perdebatan kecil itu lagi.


Keduanya kembali memperhatikan anak mereka. Cantik dan tampan, keduanya membawa kebahagiaan bagi Zelia dan Andrew.


Dari dalam saku celananya, Andrew mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Zelia memperhatikannya.


"Apa itu?" tanya Zelia.


Andrew lalu duduk di sisi ranjang dan meletakkan Alea di samping Arkan yang tertidur pulas itu.


Lalu Andrew membuka kotak merah itu, ada dua cincin yang sama di sana, serta kalung yang menghubungkan cincin itu.


"Ini adalah cincin ukir yang khusus aku pesankan untuk kedua anak kita," jawab Andrew.


"Kenapa memberi mereka cincin sekarang? Mereka terlalu kecil sayang," ucap Zelia.


"Bukan apa-apa, hanya saja jika ada kalung ini keduanya tak akan terpisah, jika harus terpisah pasti keduanya bisa dipertemukan lagi dengan kalung ini."


Zelia menerima ucapan Andrew itu berbeda dari biasanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tiba-tiba rasa takut kehilangan salah satu anaknya menyelimuti hati wanita itu.


Andrew memakaikan kalung berliontin cincin itu di kedua anaknya. Cincin mewah yang terdapat ukiran nama keduanya. Juga silsilah keluarga Tan. Tulisan itu hanya bisa dilihat dengan alat khusus yang dimiliki keluarga Tan.


"Lihatlah kalian sangat cocok memakainya, benarkan Zelia?" tanya Andrew. Zelia hanya mengangguk sambil tersenyum kecut.


Dalam balutan rasa bahagia keduanya tak ingin memikirkan hal yang akan memperburuk suasana hati mereka saat ini.


Di sisi lain Bram sudah sampai di rumahnya, setelah melewati jalanan panjang dari tempat pak Alfan hari ini. Selanjutnya dia harus mencari keberadaan Liera dan menemuinya.


Bram tahu dimana Liera berada saat ini, di kantor polisi kota. Dia harus segera kesana.


Untung saja dia bisa diijinkan menjenguk Liera.


Wanita itu berjalan gontai ke tempat dimana Bram menunggu. Saat keduanya bertemu Liera sedikit terkejut melihat wajah Bram yang terdapat bekas luka. Begitu juga Bram yang terkejut melihat perut Liera yang sudah rata.


"Liera?"


"Bram?" keduanya berucap hampir bersamaan.


"Iya ini aku Liera, dimana anak kita?" pandangan Bram mengacu ke perut wanita itu.


Liera langsung terlihat sedih jika teringat anaknya.


"Liera dimana dia?" tanya Bram tak sabar melihat Liera hanya terdiam dari tadi.


"Dia sudah tidak ada Bram," ucap Liera langsung membuat Bram lemas seketika.


"Apa yang terjadi?" tanya Bram meminta penjelasan.


"Setelah mereka memasukkanku ke dalam penjara, beberapa napi disini menganiayaku dan menendang perutku, aku mengalami keguguran."


Bram mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya. Bram akhirnya membenci Andrew dan Zelia yang mengakibatkan hal ini terjadi.


"Maafkan aku Bram tak bisa menjaga anakmu," ucap Liera sedih. Ya meski dia gak mengakui hubungannya dengan Bram secara terang-terangan. Tapi dia juga merasakan kehilangan karena keguguran itu.


"Aku akan membuat perhitungan kepada mereka yang membuat anakku pergi!" batin Bram.


"Kamu tenang saja, aku tak akan diam melihat semua ini," ucap Bram.


"Kamu mau apa Bram?" tanya Liera.


"Kamu berbuat baiklah disini, mungkin bisa mengurangi hukumanmu, jangan pikirkan hal lain. Aku akan menantikanmu keluar dari sini," ucap Bram. Sejenak hati Liera tersentuh. Hanya pria di depannya itu yang masih ada saat dia terpuruk seperti sekarang.


Tapi semuanya terlambat, Liera tak bisa lagi mengandung. Bagaimana Bram akan menerimanya lagi. Liera semakin terlihat sedih.


"Jangan sedih, apapun yang terjadi aku akan menunggumu," ucap Bram seolah tahu isi pikiran Liera. Wanita itu mengangguk. Hingga waktu menjenguk berakhir. Bram harus pergi meninggalkan Liera.