
Di sebuah taman belakang rumah megah tampak tiga anak berusia delapan tahun sedang bermain bersama.
Dua diantara mereka adalah anak laki-laki, sedangkan satunya perempuan, ketiga anak itu sudah bersama selama setahun ini, menjalin persahabatan ala anak-anak.
Tapi salah satu anak laki-laki selalu bersikap dingin dengan anak perempuan yang selalu mengikutinya, sedangkan anak laki-laki yang satu lagi selalu mengikuti kemana anak perempuan itu bergerak.
Bahkan dia bersikap hangat kepadanya dan selalu menuruti kemauannya.
"Ndrew kamu mau buah apel ini nggak?" tanya Adel kecil, tapi Andrew tak langsung menjawabnya, dia memang mau berteman dengan mereka tapi dia selalu bersikap dingin saat bermain, sebenarnya dia tak seperti anak-anak kecil seusianya yang senang dengan permainan anak-anak.
Dia lebih dewasa dari usianya.
"Aku tidak suka apel," jawabnya kemudian membuat Adel kecil sedikit kecewa.
"Aku mau kok Del," anak laki-laki yang satunya mencoba menghibur Adel,dia adalah Defin kecil.
"Ambil saja kalau kamu mau," kini sikap Adel malah dingin ke Defin, tapi pria itu menerima buah apelnya dengan seulas senyuman kepada Adel.
"Manis," ucap Defin saat mulutnya mencoba memakan buah apel itu.
Andrew hanya menatap interaksi keduanya yang terbilang membosankan, lalu dia meninggalkan keduanya kembali ke dalam rumah.
Adel menatap kepergian Andrew, dia hendak mengikutinya namun tangan mungil Defin mencegahnya.
"Ayo ikut aku," ajaknya.
"Kemana?" jawab Adel tak bersemangat.
"Ikut saja, kamu pasti suka!" balas Defin lalu menarik pelan tangan Adel, membuat dia harus mengikutinya, mereka berlari kecil ke suatu tempat di belakang rumah megah itu.
Keduanya melewati sebuah lorong kecil diantara pepohonan yang rimbun, jalanannya pun seperti tak terlihat ada yang sering melewatinya,Adel sedikit takut, tapi Defin meyakinkan gadis kecil itu, bahwa tak apa-apa,setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah danau kecil yang begitu indah.
"Wauw bagaimana kamu tahu tempat seperti ini Def?" tanya Adel terkesima setelah melihat pemandangan di depannya.
"Aku tak sengaja menemukannya, tapi jangan bilang ke tante dan om ya," peringat Defin, Adel mengangguk.
Keduanya asik menikmati pemandangan itu di pinggir danau.
"Del?" panggil Defin, Adel menoleh kearahnya.
"Kamu suka sekali dengan Andrew ya?" tanya Defin kecil.
"Ya, tapi dia jahat tak pernah melihatku," ucap Adel kecil kecewa.
"Bagaimana denganku, apa kamu juga suka?" tanya Defin polos.
"Ya aku suka, makanya kita berteman," jawab Adel.
"Bagaimana kalau nanti kita besar menikah?" ucap Defin.
"Menikah? seperti mama dan papa?" tanya Adel.
"Ya seperti itu," jawab Defin.
"Tapi aku ingin menikah dengan Andrew," jawab Adel.
"Kenapa harus dia?"
"Karena dia tampan," jawab Adel polos, membuat Defin sedikit kesal, selalu saja Adel menyebut Andrew di depannya.
Tiba-tiba matanya terbuka lebar, bayangan masa kecilnya kembali ke dalam mimpi, Defin segera bangun dari tidurnya,dia duduk bersandar di ranjang itu.
"Aish kenapa memimpikan itu lagi?" ucapnya heran.
Itu adalah ingatan masa kecil Defin bersama Andrew dan Adel, dimana gadis itu lebih memilih Andrew ketimbang Defin yang lebih sering menemaninya.
Sejak saat itu Defin kesepian bahkan hubungannya dengan Andrew tak lagi seperti mereka saat kecil, kini ada jarak dan tembok yang keduanya buat, lantaran kebencian Andrew pada Merrie, yang tak lain adalah tantenya Defin.
Defin pun juga tak menyukai Andrew tapi dia pintar menyembunyikan perasaannya, demi Adel dan persahabatan mereka Defin hanya menyimpannya sendiri.
"Tapi kenapa dia semalam berubah ya? kenapa dia menciumku?" tanya Defin pada dirinya sendiri sambil mengingat kejadian itu.
"Aah kenapa aku harus memikirkannya," gerutu Defin, dia segera beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, hari ini meski libur kuliah tapi dia berencana untuk pergi ke sebuah tempat.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan langkah pria itu, dia berbalik arah menuju ke sumber suara,menunda keinginannya ke kamar mandi lalu membuka perlahan pintu utama apartemennya.
"Siapa?" tanya Defin sambil membuka pintu.
"Def?" panggil tamunya.
"Adel? ada apa? tumben kesini?" tanya Defin terkejut, baru saja dia memikirkan wanita itu, kenapa tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Emm boleh masuk nggak?" tanya Adel, Defin mengangguk dan mempersilahkan Adel masuk.
Setelah itu keduanya duduk di salah satu sofa di ruang itu.
"Mau jus atau kopi?" tanya Defin ingin menyajikan minuman untuk Adel.
"Tidak perlu Def, aku hanya ingin berbicara sesuatu," ucap Adel dengan wajah serius.
"Tentang apa itu?" tanya Defin.
Adel langsung memeluk Defin sambil menangis,pria itu terkejut dengan perlakuan sahabat kecilnya itu.
"Ka-kamu kenapa Del?" tanya Defin.
"Aku dijodohin Def," ucapan Adel bagaikan guntur di siang bolong.
"Dengan siapa?" tanya Defin sambil mendongakkan wajah Adel dengan kedua tangannya, agar kedua pasang mata mereka bertemu.
"Aku gak tahu, tapi papa minta aku buat pulang akhir minggu besok, dia mau ngenalin aku sama dia," jelas Adel.
Defin menggertakkan giginya, kesal sekaligus rasa takut tiba-tiba menelusup ke hatinya.
"Tenanglah aku yakin papamu tak serius, jika kamu tak suka kamu bisa membatalkannya," ucap Defin tenang.
"Ya aku tahu, karena aku sudah punya pilihan sendiri Def," balas Adel.
"Benarkah? siapa pria yang beruntung itu?" tanya Defin.
Adel tampak sedikit kecewa dengan pertanyaan dari pria di depannya itu, perlahan dia melepaskan pelukan dari tubuh Defin.
"Dia seseorang yang dekat denganku tapi terasa jauh."
Defin tak mengerti dengan apa yang di ucapkan sahabatnya itu.
"Apa aku mengenalnya? jika iya akan ku bantu kamu bersamanya Del?"
"Kamu seharusnya kenal Def."
"Oh ya siapa dia? ayolah katakan padaku? jangan main rahasia gini?" ucap Defin sambil tersenyum kecut, dia tak tahu apakah dia akan kuat mendengar jawaban dari Adel nantinya, apakah dia bisa menerima sekali lagi wanita yang berada di depannya itu menyukai sahabatnya sendiri atau seseorang yang Defin kenal.
"Kamu Def," balas Adel.
"Eh!" Defin tak bisa berbicara apapun setelah mendengar hal itu.