
Alea tengah termenung di depan televisi. Alih-alih ingin menonton televisi namun malah melamun. Bagaimana tidak, suasana rumah yang biasanya ramai kini menjadi sangat sepi. Karena beberapa penghuninya sibuk dengan acara mereka masing-masing. Hanya Alea yang tak memiliki rencana apapun di akhir pekan seperti sekarang.
Alea menghela napas panjang saat mengingat bahwa dirinya terlihat buruk di akhir pekan.
Papa mamanya pergi ke luar negeri kembali. Entah pekerjaan atau liburan yang jelas Alea sudah terbiasa di tinggal oleh keduanya. Arya juga pamit bermain dengan teman sekelasnya sampai malam nanti. Sedangkan kakaknya sudah berangkat mendaki gunung bersama beberapa temannya. Tinggallah Alea yang masih bertahan di rumah bersama pembantunya.
Tapi gadis itu melupakan seseorang, yaitu Raffa yang masih di dalam kamar tanpa keluar dari tadi pagi.
"Non Alea," panggil bi Rani. Alea menoleh ke arahnya.
"Iya bi ada apa?" tanya Alea.
"Itu non,dari tadi pagi tuan Raffa belum keluar sama sekali. Bibi coba masuk ke kamar dia masih tidur saja. Bibi jadi khawatir."
Alea baru sadar Raffa masih tinggal di samping kamarnya.
"Ya udah nanti Alea lihat dia bi,"jawab Alea menenangkan pembantunya itu.
"Iya non."
Alea segera menuju ke kamar Raffa. Pintunya tak di kunci. Tapi tak ada suara dari dalam kamar itu. Alea perlahan mengetuk pintunya.
"Kak Raffa? Apa kakak masih tidur?" tanya Alea. Tak ada jawaban dari penghuni kamar itu. Alea semakin penasaran kenapa pria itu tak menjawabnya.
Alea lalu membuka pintunya perlahan dan melangkah masuk ke dalam kamar itu. Matanya menyapu seisi ruangan. Hingga dia menangkap sosok Raffa yang terbaring di atas ranjang dengan selimut tebal menutup tubuhnya.
"Kak Raffa?" Alea segera mendekati pria itu, memastikan keadaannya. Benar saja Raffa bukannya hanya tidur tapi lebih dari itu. Dia tampak menggigil kedinginan. Alea segera mengecek dahi pria itu.Alea terkejut karena ternyata Raffa sedang demam.
"Astaga panas sekali," gumam Alea. Gadis itu bergegas mencari kain dan air hangat untuk mengompres Raffa.
Dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Raffa perlahan membuka matanya karena merasakan sesuatu menempel di dahinya.Tampak wajah Alea di sampingnya.
"Kak Raffa udah sadar, kakak demam jadi aku mengompres dahimu," ucap Alea.
Raffa hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku ambilkan makanan ya kak," Alea hendak pamit untuk mengambil makanan di dapur.
"Kak," Alea terkejut karena Raffa malah memeluknya dari belakang.
"Sebentar saja, aku merasa kedinginan sekali," ucap Raffa pelan.
Alea hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Raffa sementara waktu. Hingga tanpa sadar keduanya terlelap di atas ranjang yang sama.
Ketika pagi menjelang, Alea terjaga dan terkejut melihat dirinya masih di atas ranjang milik Raffa. Dia bergegas bangun dan hendak pergi dari kamar itu. Tapi suara berat Raffa terdengar memanggilnya.
"Alea," panggil Raffa.
"Ya, apa kakak perlu sesuatu?" jawab Alea. Raffa menggeleng pelan.
"Makasih udah jagain aku semalam," ucap Raffa. Alea merona di pipinya, mendengar hal itu.
"Ya kak Raffa, aku ke bawah dulu ambilkan makanan buat kakak."
Alea buru-buru berjalan ke luar kamar Raffa.
Arya yang baru keluar dari kamarnya kebetulan melihat kakaknya yang menutup pintu kamar milik Raffa.
"Kak kamu ngapain?" tanya Arya. Alea yang tak menyadari keberadaan kakaknya terperanjat kaget.
"Arya!" Alea menjadi salah tingkah.
"Itu aku tadi bangunin kak Raffa," jawab Alea sekenanya sambil memasang wajah seimut mungkin agar adiknya percaya.
"Oh gitu, ya udah ayo sarapan kak. Tapi tumben kakak kok masih berantakan gitu?" tanya Arya melihat penampilan kakaknya.
"Hah masak sih?" Alea segera merapikan pakaian dan rambutnya dengan terburu-buru.
"Iya, jelek banget!"
"Kamu tuh yang jelek dek, kakak dari kecil udah cantik kali."
Arya hanya menggeleng sambil berjalan melewati kakaknya itu. Dia sangat lapar setelah pulang dari rumah temannya yang belum sempat makan apapun. Jadi Arya memutuskan untuk segera ke dapur, tanpa memperdulikan kakak perempuannya itu lagi.