Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Gagal Menjaga Kalian


Pov Andrew


Aku terengah-engah saat sampai di kampus,karena waktuku untuk mengikuti kelas bisnis hari ini sudah akan di mulai, karena menuruti keinginan kakek, aku harus mengurus beberapa hal di perusahaan, tapi kuliah juga penting untuk masa depanku.


Kadang aku merasa bersalah kepada Zelia karena kesibukanku ini, aku tak sempat memiliki banyak waktu untuk memperhatikannya, apa lagi dia sedang hamil seperti saat ini, pasti sebagai wanita dia butuh perhatian lebih dariku.


Bahkan di kampus pun aku jarang bisa bertemu dengannya karena jam kelas kita yang berbeda.


Langkah kakiku terhenti oleh seorang gadis yang membuatku terkejut karena aku mengenalnya.


"Kenapa dia kembali?" batinku bingung saat pandangan matanya bertemu denganku.


"Hai Andrew," sapanya ringan sambil tersenyum, tapi itu malah membuatku bergidik ngeri melihatnya.


"Frielda?" ucapku tak percaya wanita itu masih saja berani berdiri di depanku setelah apa yang pernah dia lakukan pada keluarga kecilku, aku harap kali ini dia tak akan berulah lagi.


"Iya aku Frielda, kenapa kamu sepertinya terkejut sekali?" tanyanya padaku.


Aku benar-benar terkejut apalagi yang akan dia lakukan di sini, aku harus berhati-hati kepadanya.


"Bukan, aku harus segera ke kelas," ucapku menghindarinya, tapi tangannya tiba-tiba memegang lenganku, membuatku terpaksa berhenti melangkah.


"Aku masih menginginkanmu Ndrew," ucapnya tanpa rasa malu.


"Lepaskan tanganku," ucapku dingin setelah mendengar apa yang barusan dia ucapkan tadi.


Frielda mulai melepaskan tanganku tapi dia masih saja menatapku dengan tatapan yang aku tak mengerti, wanita di depanku ini benar-benar membuatku illfeel.


Tak lagi ku pedulikan dia, aku segera melangkah ke kelasku.


Tapi pikiranku menjadi kacau saat di kelas, memikirkan hal terburuk jika Frielda masih di sini, dan Zelia mengetahuinya.


Sedangkan istriku saat ini sedang mengandung anak kami.


Saat pikiranku kemana-mana seseorang menepuk bahuku cukup keras, hingga mengagetkanku.


"Ada apa Han?" tanyaku pada teman sekampusku itu, dia terlihat panik sekali.


"Itu Ndrew, itu-" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk arah luar ruangan.


Aku menjadi semakin bingung dengan apa yang dia ingin sampaikan sebenarnya.


"Itu apaan sih?" tanyaku ikut panik.


"Itu Zelia!" ucapnya padaku.


"Zelia kenapa?" aku langsung saja berdiri ketika Han menyebut nama istriku itu.


"Dia pingsan!" ucap Han membuatku semakin panik, aku berlari meninggalkan dia untuk mencari dimana Zelia berada.


Tampak seratus meter dari tempatku tadi tampak gerombolan mahasiswi sedang melingkari seseorang, aku bergegas ke sana, mungkin saja itu adalah Zelia.


Benar saja setelah sampai di antara mereka, mataku di buat tak percaya, Zelia tengah tergeletak di rerumputan taman itu.


Seketika jantungku berdetak kencang, rasa takut menyelimuti diriku saat ini.


"Zelia!" teriakku memanggil namanya.


Segera ku sibak kerumunan itu untuk memberiku jalan,aku memeluk tubuh Zelia dan mengguncangnya, berharap dia segera sadar.


"Zelia bangun sayang," ucapku penuh ketakutan.


Tak ada respon darinya,segera ku angkat tubuh istriku yang lemas tak berdaya,aku tak tahu apa yang terjadi sebelumnya pada wanitaku ini.


Rasa bersalah menghantuiku, aku sebagai suami tak bisa menjaganya.


Segera ku bawa Zelia ke rumah sakit, dengan bantuan sopir keluarga kami, akhirnya tak butuh waktu lama kami sampai di rumah sakit.


Dalam hati aku tak berhenti untuk memohon kepada Tuhan agar Zelia baik-baik saja.


Setelah mengantar Zelia ke ruang penanganan darurat,aku menatap tangan kananku yang penuh dengan darah, aku sempat berfikir apa aku sedang terluka, tapi tak ada rasa sakit yang kurasakan.


Mataku melotot tak kala menyadari sesuatu bahwa tangan kananku tadi menyentuh paha istriku, apakah ini darahnya?


Astaga aku semakin ketakutan, kakiku tak bisa berhenti mondar-mandir di depan pintu.


"Tuan bagaimana keadaan nyonya?" tanya sopirku yang baru masuk ke dalam rumah sakit itu.


"Masih di tangani pak,tolong beri tahu kakek dan mama," ucapku tanpa sempat menghubungi mereka.


Aku terlalu takut saat ini dan entah mengapa waktu sepertinya berdetak begitu lambat.


Rasanya begitu lama menunggu Zelia selesai di tangani, hingga kakek dan mama tiba di rumah sakit dengan wajah panik pula.


"Ndrew apa yang terjadi?" tanya mamaku.


"Andrew nggak tahu ma," ucapku jujur.


Lalu pintu ruangan di depanku terbuka, tampak seorang dokter dengan pakaian lengkapnya sedang berjalan ke arahku.


"Tuan Andrew?" panggilnya, aku mengangguk.


"Bagaimana dok?" tanyaku padanya.


"Maaf pak, bayi anda tak selamat," ucapnya seketika membuatku lemas tak berdaya, separuh nafasku seperti tertahan tak bisa keluar.


"Nggak, nggak mungkin kan dok, ini pasti gak bener kan?" tanyaku sambil mengguncang pundak dokter itu.


"Maaf, sepertinya istri anda mengalami benturan keras,membuatnya keguguran seperti saat ini," jelasnya semakin membuatku tak berdaya.


Dokter itu pergi setelah memberikan kabar buruk bagiku, lalu bagaimana aku menyampaikan ini pada Zelia.


Mommy dan daddy baru saja sampai, mereka tampak panik setelah mendengar kabar dari mamaku.


Aku masih terduduk lemas di kursi, sedangkan mama sedang memelukku sambil menangis.


"Bagaimana keadaan Zelia?" tanya mommy panik.


Aku tak sanggup menjawabnya, aku masih tak percaya ini terjadi.


"Zelia kehilangan janinnya," suara kakek terdengar memecah keheningan di antara kami,selanjutnya suara mommy ikut histeris di dalam pelukan daddy.


Aku tahu mommy pasti sangat kehilangan, lalu bagaimana dengan Zelia.


Ya Tuhan apa salah kami?


Aku segera masuk menemui Zelia, setelah mendapatkan izin dari dokter.


Ku tatap wajah lelah istriku yang masih terbaring di atas ranjang,aku ingin menangis, tapi tak sedikitpun air mata ini mampu mengalir.


Aku harus kuat, tapi ini terlalu berat.


Kehilangan calon anakku membuat separuh hidupku seperti tak berguna,apa yang bisa ku lakukan sebenarnya, kenapa hanya menjaga Zelia saja aku tak bisa.


Apakah ini hukuman untukku?


Satu hal yang terlintas dalam pikiranku adalah siapa yang berani mencelakai Zelia saat itu, siapa orang yang bisa memberikanku kesaksian atas kejadian yang menimpa istriku.


Zelia maafkan aku tak bisa menjagamu dengan baik, batinku benar-benar tersiksa karena di penuhi rasa bersalah pada Zelia dan juga calon bayi kami.


Maafkan ayahmu nak tak bisa menjagamu dengan baik.