
Sore itu Bram perlahan mendorong pintu rumahnya. Di sampingnya Mona berlari kecil lalu masuk ke dalam rumah. Satu wanita lagi yang tak lain adalah Liera mengikuti Bram dan Mona masuk ke dalam rumah milik pria itu.
"Selamat datang Liera, maaf rumahku masih sama seperti dulu," ucap Bram.
"Terima kasih Bram, kamu sudah menerimaku kembali itu sudah cukup," ucap Liera.
Hari ini dia telah bebas dari jeratan jeruji besi yang lima tahun ini telah menahan kebebasannya. Liera merasa lega bisa menghirup udara bebas.
"Mama ini minuman untuk mama," ucap Mona sambil memberikan segelas air putih kepada Liera.
Bram tersenyum kecil dengan kebaikan putri kecilnya, ya meski awalnya dia ingin mengambil nyawa gadis itu tapi seiring berjalannya waktu Mona bisa membuat Bram menyayanginya.
"Taruh saja disitu!" Liera menunjuk meja tak jauh darinya, ucapannya terdengar ketus. Mona seketika takut dan segera meletakkan gelas itu di atas meja.
"Dan jangan panggil aku mama," ucap Liera lagi.
Mona lalu berjalan ke arah Bram. Dari isyarat mata gadis itu,dia menanyakan kepada Bram maksud dari ucapan wanita di hadapan mereka itu.
"Pa, mama gak suka Mona ya?" tanya Mona sambil berbisik kecil. Bram lalu mengelus puncak kepala Mona dan jongkok di depan gadis kecil itu.
"Mona, mama mungkin capek, jadi seperti itu. Kamu main di kamar dulu ya," pinta Bram. Mona mengangguk dan berlari ke kamarnya.
Bram lalu mendekati Liera, dia memeluk wanita itu.
"Liera aku sangat merindukanmu," ucap Bram. Liera tak begitu menerima perlakuan itu. Meski dia pernah berhubungan dengan Bram, tapi hatinya belum sepenuhnya menerima pria itu. Jika saja bukan karena untuk balas dendam Liera tak mau berdekatan lagi dengan Bram.
"Benarkah?" tanya Liera dengan sedikit menggoda.
"Ya tentu saja," jawab Bram, Liera tersenyum dan menarik Bram ke kamar mereka. Keduanya lalu melepas rindu. Seperti dahulu keduanya terbiasa melakukan hubungan yang lebih intim saat bertemu.
Usai melakukan olahraga yang membuat keduanya panas, mereka kini saling menatap satu sama lain di atas ranjang.
"Liera bisakah kamu memperlakukan Mona dengan baik?" pinta Bram. Liera langsung mengkerutkan dahinya. Tak mengerti apa yang diinginkan pria di depannya ini.
"Kenapa harus memperlakukannya dengan baik? Kamu tak lupa kan karena kedua orang tuanya kita kehilangan anak kita?" tanya Liera.
"Ya aku ingat itu, tapi-"
Ucapan Bram terpotong oleh Liera.
"Mungkin," hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Bram.
"Kamu gila Bram!" Liera hendak memakai kembali pakaiannya, tapi tangan Bram mencegahnya.
"Liera aku tahu aku salah, tapi Mona tak harus menanggung kesalahan orang tuanya," ucap Bram. Liera semakin geram.
"Sudahlah Bram aku tak mau membahas ini, tapi aku juga tak bisa memperlakukannya seperti anakku sendiri, jangan memaksaku!" Liera lalu bangkit dan menuju ke kamar mandi.
Bram menghela napas panjang, tak mudah membujuk Liera jika wanita itu sudah membenci seseorang.
"Ini adalah kesalahanku, kenapa aku harus melibatkan Mona dalam kebencian ini. Aku tak mungkin melepaskannya untuk sekarang ataupun nanti." Batin Bram berkecamuk. Dia sadar cepat atau lambat semua kebenaran akan terungkap, tapi rasa sayangnya pada Mona adalah suatu kenyataan. Kebenaran yang tak dia pungkiri.
Perlahan hatinya mulai goyah, jika dia harus memilih, dia tak akan melakukan penculikan itu, tapi jika di sebut sebuah penyesalan. Maka Bram menikmati penyesalan itu. Dia merasakan bagaimana menjadi papa yang baik untuk Mona. Meski belum sepenuhnya baik di dalam pikiran orang lain.
Bram memutuskan untuk merawat Mona sampai dia dewasa, katakanlah dia egois memisahkan putri dengan kedua orang tuanya. Tapi semua sudah terjadi. Bram hanya ingin melihat senyum dibibjr putri kecilnya.
Putri yang tak ada hubungan darah sama sekali dengan Bram. Tapi bisa menelusup di hati pria itu.
"Pa, papa Mona lapar!" teriak Mona dari balik pintu kamar Bram.
Pria itu tersadar dari lamunannya dan segera memakai pakaiannya kembali.
"Ya sayang, tunggu sebentar papa akan buatkan makanan kesukaanmu secepatnya," ucap Bram.
Pria itu berjalan ke arah pintu dan segera membukanya. Mona yang masih di depan pintu menyambut dengan senyuman.
"Uluh anak papa lapar banget ya, maaf ya papa sampai lupa," ucap Bram sambil menggendong Mona dan mencubit pipi tembam gadis kecil itu.
"Papa jangan cubit Mona lagi," ucap Mona sambil cemberut.
Bram hanya tertawa melihat tingkah Mona seperti itu. Dari belakang keduanya, Liera memperhatikan interaksi Mona dan Bram.
Tak terlihat bahwa mereka bukan anak dan ayah yang memiliki ikatan darah. Tapi dari perlakuan Bram, Liera tahu pria itu sangat tulus pada Mona.
Di dapur Bram segera membuatkan makanan untuk mereka bertiga. Hingga akhirnya makanan itu siap dan ketiganya makan dalam diam.
Mona tak berani berkata apapun, sejak merasakan bahwa Liera tak menyukainya. Sedangkan Liera juga enggan bersikap manis pada Mona. Hanya Bram yang sesekali mengambilkan lauk untuk Mona.