
Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun tengah berjalan di pinggiran danau. Dengan memakai seragam sekolah lengkap, gadis kecil itu baru saja hendak pulang ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah. Hanya saja jalanannya memang dekat dengan danau kecil di samping desanya.
Dia tinggal bersama kedua orang tua dan kakak laki-laki seusianya. Namun sayangnya sang kakak sangat dingin kepadanya. Bahkan dia tega meninggalkan gadis kecil itu pulang sekolah sendirian.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun mendekatinya. Gadis kecil itu sedikit khawatir jika bertemu dengannya. Pasalnya bukan hanya sekali saja dia mendapat perlakuan tak baik dari anak itu.
"Heh gadis bodoh, kenapa pulang sendiri? pasti kakakmu yang pintar itu malu ya punya adik seperti kamu? Jadi membiarkan kamu berjalan sendirian" ejek anak laki-laki itu.
"Kamu jangan mengejekku, aku bukan gadis bodoh!" gadis itu membela diri.
"Dasar gadis bodoh, ya bodoh aja!" ucap anak laki-laki itu lagi sambil tersenyum sinis.
Si gadis mempercepat langkah kakinya, namun anak laki-laki itu semakin cepat juga untuk mengejarnya.
"Jangan ikuti aku!" teriak gadis kecil itu.
Byuuur
Suara seseorang jatuh ke dalam air begitu terdengar jelas di area danau. Gadis kecil itu yang terjatuh, dia meminta tolong karena tidak bisa berenang.
"Tolong! Tolong aku tidak bisa berenang!" teriaknya.
Anak laki-laki itu yang mendorongnya ke danau. Dia tak segera membantunya, malah dia tersenyum senang melihat gadis kecil itu tenggelam.
Byuuur.
Dari sisi yang lain,seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun menceburkan diri ke danau untuk membantu gadis kecil itu.
Untungnya anak laki-laki itu bisa berenang,dengan beraninya dia menolong gadis itu. Lalu dia membawa si gadis ke pinggir danau dan memberikan pertolongan pertama dengan memberinya nafas buatan.
"Uhuk-uhuk," si gadis tersedak air danau. Tapi dia mulai sadar perlahan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya anak laki-laki berusia tujuh tahun itu.
"Terima kasih aku baik-baik saja," ucap si gadis pelan, wajahnya tampak pucat setelah jatuh ke danau.
Melihat gadis kecil itu selamat, anak laki-laki yang berusia sembilan tahun itu menjadi kesal. Sedangkan anak laki-laki yang satunya lagi mendekat ke arahnya dan memukul wajah anak itu.
"Dasar anak nakal, bagaimana bisa kamu membuatnya hampir kehilangan nyawa," ucap anak laki-laki berusia tujuh tahun itu kesal.
"Jangan sok jadi pahlawan kamu! Dia ini hanya gadis bodoh!" teriak anak laki-laki berusia sembilan tahun.
"Kamu yang bodoh!" ucap anak laki-laki yang satunya lagi. Dia lalu membantu si gadis untuk berdiri dan memapahnya saat berjalan.
"Tidaaak!" teriak Zelia di atas ranjang. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Lagi-lagi dia bermimpi tentang masa kecilnya dahulu.
Robi kecil yang membuatnya hampir kehilangan nyawa, untung saja ada yang menolongnya waktu itu. Tapi Zelia tak tahu siapa anak itu. Lebih tepatnya dia tak sempat berkenalan dengannya.
Setelah menolong Zelia, anak itu pergi tak tahu kemana. Begitu juga Zelia yang meminta kepada kedua orang tuanya untuk pindah ke kota. Dia tak mau di bully terus menerus oleh Robi.
"Ya ampun, lagi-lagi mimpi tentang kejadian itu!" ucap Zelia sambil menghapus keringat di dahinya.
Brak
Suara pintu di buka paksa terdengar keras di telinga Zelia. Namun dia tak tahu itu pintu di sebelah mana.
Andrew mendobrak pintu salah satu ruang di rumah itu. Tampak wanita yang pernah dia kenal di ikat pada kursi di ruang itu.
"Liera?" panggilnya.
"Andrew, tolong lepaskan aku Ndrew," ucap Liera memohon.
"Dimana Zelia?" tanya Andrew tak peduli dengan Liera yang memohon.
"Dia sudah di bawa pergi jauh oleh seorang pria!" ucap Liera bohong.
"Jangan berani membohongiku!Dimana dia?" tanya Andrew sekali lagi. Dia tampak tak bisa bersabar kali ini.
"Aku sudah bilang dia tak ada di sini Ndrew, ada aku bisa menggantikannya, tolong lepaskan aku!" ucap Liera lagi.
"Heh kamu, bahkan aku takut ini adalah jebakan darimu Liera. Jangan harap aku mau membantu melepasmu saat ini."
Andrew pergi meninggalkan ruangan itu,beberapa anak buah Robi sudah di bereskan oleh Han dan para pengawalnya.
Andrew berkeliling di rumah itu, sedangkan Robi tengah tersenyum tipis menatap layar tampilan dari beberapa Cctv yang telah di pasang di beberapa ruangan.
Robi tak akan keluar saat ini untuk menghadapi Andrew. Tapi dia juga tak akan mudah membuat Zelia dan Andrew bertemu secepat itu.
"Zelia!" teriak Andrew di dekat kamar yang di tempati Zelia. Wanita itu bisa mendengar suara Andrew meski hanya suar pelan.
"Andrew aku di sini! Andrew!" teriak Zelia. Namun Andrew tak dapat mendengar suara wanita itu karena ternyata Andrew telah menaruh Zelia di kamar khusus. Dengan alat peredam suara. Meskipun dia berteriak sekeras apapun itu tak akan membuat suaranya bisa terdengar dari luar. Sedangkan suara dari luar bisa terdengar samar baginya.
"Heh kamu gak akan bisa menemukannya Andrew!" ucap Robi senang.
Akhirnya ikan-ikan yang dia beri umpan begitu mudahnya masuk jebakan. Robi hanya tinggal meneruskan rencana berikutnya saja.
Zelia masih berteriak memanggil nama suaminya, namun Andrew sama sekali tak mendengarnya. Bahkan pria itu melewati kamar yang terdapat Zelia di dalamnya.
Zelia juga memukul-mukul pintu kamar itu dari dalam. Namun sayangnya Andrew sudah jauh dari kamar itu.
"Ndrew aku disini!" ucap Zelia pelan kehabisan tenaganya untuk berteriak lagi.
Robi menikmati pertunjukan itu dengan santainya,sambil meminum kopi yang telah di seduhnya. Robi menunggu naskah berikutnya yang telah dia rancang sendiri.
"Aku tak sabar segera melihat kelanjutan dari kisah kalian," ucap Robi sambil tersenyum tipis.