
Zelia khawatir dengan keadaan James saat ini, itu sangat terlihat dari kegusaran hati wanita itu.
Dari raut wajahnya tampak begitu jelas bahwa wanita itu sedang mengkhawatirkan sang kakak.
"Zelia kamu tenang dulu, James pasti baik-baik saja," ucap Andrew mencoba menenangkan Zelia.
"Aku takut dia nekat Ndrew, James terlihat sangat marah tadi," ucap Zelia.
"Tenanglah dia pasti baik-baik saja," ucap Andrew sambil sesekali melihat ke sisi jalan di luar mobilnya, barangkali bisa menemukan mobil milik James.
Sedangkan pria yang sedang di cari oleh Zelia dan Andrew saat ini malah sudah berdiri di depan pintu sebuah rumah, rumah itu milik Liana.
James segera mengetuk pintu dan seseorang membukanya, tampak Liana berdiri di depan James.
"James?" panggil Liana sedikit heran kenapa pria itu malam-malam ke rumahnya dengan penampilan yang sangat berantakan.
"Kamu kenapa?" James tiba-tiba sempoyongan dan Liana harus memapahnya masuk ke dalam rumah wanita itu.
Bau alkohol tercium dari mulut James, Liana mendesah dalam, memikirkan masalah yang mungkin berat sedang di alami James, sampai membuat dia seperti saat ini.
Liana meletakkan James di sofa miliknya, membaringkan tubuh pria itu di sana, James setengah sadar menatap wajah Liana yang tampak khawatir dengan dirinya.
"Liana aku mencintaimu Liana," ucap James dengan suara paraunya.
"James tenanglah, kamu kenapa mabuk seperti ini?" tanya Liana sambil membuka sepatu pria itu.
"Liana ayo kita kabur dan menikah diam-diam," ucap James lagi,Liana tercengang dengan apa yang di ucapkan pria di depannya itu.
"Kamu ngomong apa sih James,kamu mabuk!" bantah Liana masih belum tahu kenapa dengan James.
Tiba-tiba pria itu bangkit dan memeluk Liana, sedangkan Liana hanya diam tak memberontak sedikitpun.
"Aku gak mau dijodohkan Liana, aku hanya mau denganmu," ucap James.
Air mata Liana perlahan mulai menetes membasahi pipinya karena mendengar ucapan James.
Liana sebenarnya sudah tahu masalah James di jodohkan dari nenek pria itu saat mereka bertemu dahulu, selain pemberitahuan bagi Liana itu juga sebagai tamparan baginya, bagi hatinya yang masih terlalu lemah untuk terikat dengan James.
"James jangan seperti ini aku tak mau kamu menyiksa hidupmu," ucap Liana.
"Katakan Liana kamu mau kan kabur dan menikah denganku?" ucap James lagi,dia setengah sadar mengatakan hal itu.
"Maaf James aku tak bisa, sebaiknya kamu mengikuti keinginan nenekmu, aku bukan wanita yang pantas untuk berada di sisimu," ucap Liana, meski dia mengucapkan hal itu dengan sangat baik, namun di dalam hatinya sudah sangat perih.
James mengendurkan pelukannya, dia lalu menatap kedua mata Liana yang sudah basah oleh air mata.
"Tak ada yang lebih pantas darimu Liana, aku mohon pergilah bersamaku," tekad James sudah bulat ingin membawa cintanya pergi dan menikahinya meski tanpa restu dari sang nenek.
Liana menggelengkan kepalanya.
"Aku tak bisa James," balasnya.
"Kenapa?" James seolah mendapat pukulan telak dari penolakan Liana.
"Apa karena pria itu?" imbuh James lagi.
Liana hanya terdiam tak bisa mengatakan apapun, dia tak bisa mengatakan alasannya kepada James saat ini.
"Kamu tidurlah, aku juga mau tidur," ucap Liana mengalihkan pembicaraan sambil berdiri hendak melangkah ke kamarnya, namun belum sempat kedua kakinya bergerak, James menarik lengan wanita itu.
Membuat Liana jatuh dalam dekapan James, kedua jantung mereka berdetak tak karuan saat ini, hanya mata keduanya yang tak bisa saling berbohong.
Liana mencintai James, begitu pula sebaliknya.
Perlahan James mendekati bibir wanita itu, Liana sadar posisinya dalam bahaya, mereka hanya berdua di dalam rumah saat ini.
Hingga bibir seksi milik James mendarat di bibir tipis milik Liana.
Liana ingin memberontak tapi entah mengapa tubuhnya seolah berlawanan dengan pikirannya, tubuh wanita itu menerima begitu saja perlakuan dari James yang perlahan membopongnya masuk ke dalam kamar.
Ciuman panas pun terjadi, hingga beberapa gerakan tangan James menyadarkan Liana.
"James lepaskan, ini terlalu jauh!" ucap Liana mencoba menghindari James, tapi James seperti sudah di luar kendali lagi.
Pria itu bahkan memaksa Liana dengan sekuat tenaga, James sudah di bawa pengaruh minuman keras.
"Jangan James!" teriak Liana sambil berusaha melepaskan diri dari James.
James tak bergeming, dia tetap melanjutkan keinginannya, mungkin jika mereka bisa memiliki anak, maka Liana akan terikat oleh James dan tak akan pergi meninggalkannya.
Pikiran James kacau, hingga apa yang seharusnya tak terjadi akhirnya terjadi.
James merampas paksa malam pertama pengantin Liana, wanita itu menangis dalam kungkungan tubuh James dengan tubuh yang terasa remuk.
Semua telah terjadi, Liana memang mencintai James, tapi bukan hal seperti ini yang diinginkannya.
Hingga pagi menjelang, James tersadar dan merasakan pusing di kepalanya, dia menatap seseorang yang tidur di sampingnya, entah bagaimana mereka bisa berada di kamar milik Liana, James bahkan tak ingat semalam memaksa gadis itu.
Liana menangis, dia sudah bangun dari tadi tapi hanya ingatan tentang semalam yang saat ini berkeliaran di kepalanya.
Begitu liarnya James memperlakukannya semalam.
"Liana, aku minta maaf?" ucap James saat menyadari kesalahannya, Liana semakin deras mengeluarkan air matanya.
"Aku janji tak akan meninggalkanmu, aku akan bertanggung jawab Liana," ucap James yakin.
James memeluk punggung Liana, memberikan kehangatan bagi wanita itu, juga ketenangan, tapi Liana semakin sedih, bahwa dia kehilangan kesuciannya saat ini.
"Kamu jahat James, bagaimana aku bisa yakin kamu tak akan meninggalkanku nantinya," ucap Liana pelan.
James membalikkan tubuh Liana agar menghadap ke arahnya, menyatukan dahi mereka.
"Liana lihat aku, aku tak akan meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu, percayalah padaku," ucap James penuh keseriusan.
Liana terharu, mungkin ini adalah awal dari perjuangan cinta mereka, masih banyak lika-liku yang akan mereka hadapi di depan sana.
"Aku percaya James," balas Liana.
Keduanya berpelukan dalam cinta yang bergelora, rasa bahagia yang kini menyelimuti mereka,keduanya tak memperdulikan lagi keputusan sang nenek semalam, James akan menerjang semua halangan yang berada di depan matanya nanti.
Demi cintanya kepada Liana, juga kehidupan yang dia inginkan,dia akan melewati semua itu bersama Liana.