
Kini Mutia berjalan dengan sedikit gemetaran, wanita itu juga takut jika ia di bawa-bawa pada kasus Marsha.
ia terus berjalan menunduk, ia tidak menyesali perbuatan nya, tetapi ia juga tidak mau jika harus di skorsing dari sekolah.
karena hal itu bisa membuat nya d iusir dari rumah keluarga nya, Mutia menghentikan langkah nya, lalu mengambil sebuah foto di dalam tas nya dan menatap nya dengan senyuman yang manis.
kini rasa khawatir itu mulai memudar, putra yang berjalan tidak jauh dari Mutia langsung berlari merebut foto itu.
namun Mutia dengan cepat mengarahkan kaki nya ke samping, hingga membuat putra terjatuh.
"aaakkhhh aduh pinggang gue sakit, barbar banget sih Lo jadi cewe". Ucap putra seraya meringis kesakitan
"maka nya lo jangan usil jadi orang!". Ketus Mutia
Satria dan lain nya yang berjalan di belakang Mereka berdua pun langsung menertawakan putra.
saat Mutia mau mengambil foto yang terjatuh itu, tangan putra dengan cepat mengambil nya terlebih dulu, lelaki itu menatap intens foto tersebut dan ia membulatkan mata nya saat melihat foto itu lebih jelas lagi.
gambar foto itu sudah tidak terlalu jelas, karena foto itu terlihat sudah usang, mungkin foto itu sudah lama.
mutia langsung merebut nya kembali dan menatap tajam ke arah putra.
"dasar lo pecicilan banget sih!". ketus mutia
"Lo jangan pernah merusak privasi orang!!". lanjut nya lagi, lalu dia langsung berjalan meninggalkan Putra yang masih terduduk di bawah dengan terdiam
Satria langsung menguluarkan tangan nya, akan tetapi saat putra mulai menerima uluran itu, Satria langsung dengan kasar menarik tangan nya kembali, membuat putra kembali terjatuh.
"aduh sialan!!awas lo ya bangsa*t". Teriak putra
Leon menggelengkan kepala nya dan langsung menggenggam tangan Lea untuk menuju ke kelas.
Lea menghentikan langkah nya dan menatap ke arah Leon dengan tangan nya yang melepaskan dari genggaman tangan suami nya.
"kak, aku mau ke toilet dulu ya. kakak masuk ke kelas aja, enggak perlu nganterin Lea". Ujar Lea
"enggak, aku bakal tunggu kamu di sini ya sayang". Sahut Leon
"ya udah deh, terserah kamu aja. ya udah bentar ya". ujar lea langsung masuk ke dalam toilet
setelah selesai wanita itulangsung menghampiri Leon kembali, namun lelaki itu sedang berbicara dengan teman nya Marsha yang seperti nya sedang membahas sesuatu yang serius.
Lea melangkahkan kaki nya menuju mereka yang nampak sedang mengobrol itu, teman nya Marsha itu, kini tersenyum manis ke arah lea untuk pertama kali nya dan hal itu pun membuat Lea merasa aneh.
namun ia merasa bersyukur, jika mereka benar-benar akan berubah. Lea menarik tangan Leon agar menjauh dari mereka, karena walaupun mereka terlihat baik tapi Lea harus menjaga jarak pada mereka.
" kamu kenapa sayang? ". tanya Leon
" kamu tadi ngapain sih bicara sama mereka". Lea berbalik bertanya
"oh itu, mereka cuma ngasih tahu keberadaan Marsha sekarang dan dia sudah enggak berada di kota ini. aku jadi lebih tenang sekarang, karena aku enggak takut kalau dia akan macam-macam sama kamu, tapi yang aku takutkan jika dia berbuat hal yang nekat, jadi jika terjadi hal apapun kamu harus bilang sama aku ya, kamu juga harus ingat itu jangan pernah menyembunyikan hal apapun dari aku". Jelas Leon memperingatkan
"iya, kamu tenang aja, aku pasti bisa jaga diri dari siapapun yang melakukan hal seperti itu. kalau gitu kamu sana masuk ke kelas kamu, aku juga mau masuk ke dalam kelas". Ujar Lea dan melangkahkan kaki nya seraya melambaikan tangan nya ke arah Leon
Saat Lea masuk ke dalam kelas, ia melihat sisil yang sedang tampak bahagia sekali.
Lea lalu mendekati nya dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan sisil itu, Sisil sendiri yang melihat kedatangan Leaa seperti sudah tidak sabar ingin menceritakan suatu hal kepada Lea.
"Leaaaaa...!!!". Teriak Sisil bahagia
" Lo tahu nggak? sekarang gue lagi senang tahu, kak Devan sekarang baik banget sama gue, apa menurut Lo dia tuh suka sama gue ya? ". ujar Sisil dengan semangat empat lima
"Emang nya apa yang di lakuin sama kak Devan sampai lo sebahagia ini?". tanya Lea yang berusaha memastikan jika Devan beneran tulus kali ini kepada sahabat nya itu
" Iya dia memperlakukan gue layak nya seorang ratu, sikap nya memang kayak benar-benar anggap gue ini orang spesial di hidup nya, gue enggak bisa tidur woi!!! kebayang mulu sama sikap nya yang manis ituu". Ujar Sisil seraya tersenyum senyum
"terus Lo bahagia? ". tanya Lea lagi
"bahagia banget lah". Sahut Sisil
"Kalau gitu gue juga ikut bahagia kalau emang lo bahagia, semoga Lo sama kak Devan beneran berjodoh ya dan akan resmi menjadi pacar nya". Ucap Lea dengan tulus
"semoga aja ya, doain gue. Oh iya kan dua minggu lagi kalau enggak salah hari ulang tahun nya kak devan, gue bingung nih mau ngasih kado apa sama dia. lo bantuin gue cari kado ya". pinta sisil
" Oke deh aman". jawab Lea tetersenyum
sedangkan lea yang sudah biasa dengan sikap wanita itu, hanya tersenyum tipis dan terus melangkahkan kaki nya menuju ke arah kantin.
Mutia berjalan dan menatap ke arah lapangan, ia melihat putra yang sedang bermain bola basket.
tiba-tiba langkah nya terhenti dan terus menatap ke arah lelaki itu dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, saat putra juga tanpa sengaja menatap ke arah nya, hingga tatapan mereka saling beradu untuk persekian detik.
membuat mutia menggelengkan kepala nya dengan cepat dan langsung melangkahkan kaki nya kembali .
"woi!!! Lo ngapain sih bengong gitu kayak tugu monas!". ujar Satria
"Hemmm... enggak ada". jawab putra yang langsung membalikkan badan nya
"Ck! aneh banget sih cewek berandalan itu, hiiihhh.. serem banget ah". gerutu putra
"Cakra si anak manjaahlitaa sini lo!!". teriak Satria
Leon yang mendengar Satria memanggil Cakra langsung menonyor kepala lelaki itu dari arah belakang.
"ngapain sih Lo manggil anak itu". ucap Leon
" Yaudah sih, lagian biar rame. kita juga kurang satu anggota lagi kan, yaudalah santuy skuyyy". Ucap Satria dengan santai
"apa?? gue sibuk ya, jangan minta gue main basket, tapi kalau kalian masak ya udahlah bolehh, ayoo!.". ujar cakra yang langsung menggiring bola tersebut menuju ring basket
"emang sakit jiwa kayak nya deh sepupu dakjaall Lo tuh". ketus putra
"Udah tahu dia kayak gitu, ngapain pada ngajak main dia, lihat noh makin narsis kali dia". Sahut Leon
"Wooii ayo!! kalian kenapa diam aja sihh di sana, enggak akan bisa buat bola itu masuk sendiri ke ring". gerutu Cakra
Leon langsung berlari menuju ke arah Cakra, namun lelaki itu berlari menghindar, sedangkan Lea dan Sisil yang baru saja datang meneriaki mereka semua untuk memberikan semangat.
"semangat ya semua nya". teriak Leon
" Sayang jangan nyemangatin Mereka, semangatin aku aja". protes Leon
" yailah dasar bucin akuuttt!!". ketiga lelaki itu mendorong-dorong tubuh Leon
"idih, iri? bilang bos!!". timpal Sisil
"eh ada dedek Sisil, kok makin hari makin cantik sih".
"idih apaan sih Jones, Jomblo ngenes!". sahut sisil
Satria yang mendengar perkataan Sisil bak belati yang menancap ke hati nya
"aduh sakit hati babang ini dekk". Ujar Satria dramatis
Devan yang baru datang dan ikut bergabung, membuat Sisil langsung tersenyum manis ke arah lelaki itu.
saat Devan menoleh ke arah Sisil, dia tersenyum manis dan mengedipkan salah satu mata nya yang membuat Sisil menganga dan langsung terduduk memegang tangan Lea.
"ya ampun manis banget sih ciptaan tuhan yang satu ini". lirih Sisil dengan memegang dada nya
"semangatin sana, biar lo dapat kedipan lagi, tapi jangan sampai Lo pingsan ya karena gue enggak mau gendong lo". ujar lea tertawa kecil
"iya iya, iikhhh.. Lo enggak dukung banget sih, pingsan nih gue".
"jangan, nanti yang ngangkat lo malah kak Satria lagi". ujar lea tertawa dengan keras
"Leeeaaaaa!!!". teriak Sisil
Lea menghentikan tawa nya dan langsung menatap ke arah Sisil dengan serius
" gue pasti dukung lo sepenuh nya, tapi jangan langsung minta nikah, tunggu tamat sekolah dulu ya". Ucap Lea
"enggak bisalah, gue udah pasti langsung minta di halalin nih kalau kak Devan yang giniin gue". Sahut Sisil terkekeh
cakra melemparkan bola ke arah putra, namun bukan nya menerima bola, putra malah asik berjoget di lapangan, hal itu membuat Cakra menggelengkan kepala nya.
sedangkan Leon menendang bokong putra hingga lelaki itu tersenyum dengan tidak berdosa dan mengambil bola itu dan memulai permainan kembali.