
Alea menatap ke depan, dia ingin segera berlari menghampiri pria di depannya itu. Dia ingin mengadu tentang luka di hatinya.
Sedangkan pria di depannya perlahan tapi pasti merentangkan kedua tangannya. Membuka diri untuk sekedar menjadi sandaran.
Jarak mereka berdiri sekarang kurang lebih lima meter. Alea dan Rei saling berhadapan. Gadis itu memutuskan untuk segera kembali ke tempat lahirnya.
Ke rumah yang seharusnya dia kembali dan orang pertama yang mengetahui Alea kembali adalah Reihan.
Sahabat yang baru iya kenal beberapa bulan lalu. Tapi Alea sudah merasa akrab dengannya.
Alea pergi meninggalkan Raffa yang telah menggoreskan luka di hatinya. Tanpa berpamitan pada pria itu. Alea tak akan memberi celah lagi bagi Raffa untuk menyakitinya.
Alea dan Rei kini di bandara. Gadis itu berlari dan memeluk tubuh Rei. Mencari dukungan untuknya. Rei menerimanya dengan senang hati.
"Rei,Raffa jahat!" Alea mengadu, kini dia sangat mirip dengan anak kecil yang bertengkar dengan temannya. Dia mengadu pada Rei yang mengerti keadaan gadis itu sambil berurai air mata.
"Udah-udah jangan nangis terus dong! Jelek banget loh kamu sekarang Alea!"ucap Rei mencoba menenangkan Alea.
"Sialan! Masih sempet lagi ngeledekin aku! Sakit hati nih!" gerutu Alea sambil mengusap air mata. Rei bahkan membantunya.
"Siapa suruh suka sama dia!" Raffa malah memanasi hati Alea.
"Rei kayaknya kamu mau aku tendang ya?" ancam Alea.
"Jangan dong, ntar siapa yang meluk kamu kayak gini!" jawab Rei, Alea lalu sadar dia masih dalam pelukan pria itu. Tiba-tiba dia malu karena memeluknya. Alea mencoba melepaskan diri.
"A-aku gak sengaja meluk kamu!" ucap Alea menjelaskannya, takut kalau ada kesalahpahaman diantara mereka nanti.
"Hahaha, kamu ini!" Rei malah tertawa lepas melihat gelagat Alea yang malu-malu. Pria itu bahkan senang dan menarik hidung Alea.
"Auh sakit tahu!" Alea menepis tangan Rei yang memencet hidungnya.
Keduanya lalu tertawa lepas dengan perjumpaan mereka yang tak pernah akur. Namun sebenarnya keduanya saling nyaman saat bersama.
"Nah gitu dong senyum, biar cantiknya kelihatan!" ucap Rei memuji Alea setelah gadis itu membaik.
"Makasih ya Rei," Alea merasa lega bisa sedikit mengurangi kegundahan hatinya karena Raffa.
"Iya, ayo ikut aku!" ajak Raffa.
"Kemana?"
"Ada deh, ikut aja!" Rei sudah menarik lengan Alea.
"Kemana sih? Tapi aku harus pulang loh Rei!" ucap Alea.
"Ntar aja pulangnya, kamu pasti suka deh tempat ini!" ajak Rei lagi.
Alea terpaksa mengikuti pria itu. Dia sebenarnya enggan pulang karena pasti tak ada orang di rumah. Hanya bibi pembantunya saja yang ada.
"Baiklah!"
Keduanya lalu menuju ke mobil milik Raffa. Di sepanjang perjalanan Alea bertanya-tanya tentang tempat semacam apa yang ingin Rei tunjukkan padanya.
Dan pertanyaan dari Alea pun akhirnya terjawab. Kini keduanya sedang berada di sebuah bukit tak jauh dari bandara.
Alea segera keluar dari mobil. Di ikuti Rei di belakangnya. Alea terpukau melihat pemandangan di depannya. Dia tak percaya ada tempat seindah itu di negaranya. Hutan dan sungai serta villa-villa kecil yang tertata rapi dan juga masih alami.
"Wow ini bangus banget Rei, Dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Alea kagum.
"Aku gak sengaja nemuin ini pas lagi jalan-jalan aja," jawab Rei santai.
Alea lalu berlari ke arah bukit yang lebih tinggi. Menikmati udara yang masih sejuk di sana. Tampak di wajah gadis itu begitu bahagia.
"Coba deh teriak sesukamu, apapun masalah yang sedang kamu alami. Pasti akan terasa lega bisa mengungkapkannya di sini!" saran Rei. Alea menatap wajah temannya itu, dia akan mencobanya.
"Baiklah aku akan melakukannya,"jawab Alea.
"Haaaaaaaah Raffaaaa Brengseeeeek aku gak akan memaafkanmu!! gak akam pernah!" teriak Alea dengan penuh penyesalan telah mengenal pria itu.
"Wah beneran ini lega banget Rei!"
"Gimana kalau aku yang membuatmu benci padaku? apa kamu akan memaafkan ku Alea?" tanya Rei.
Suasana tiba-tiba berubah sangat canggung. Alea tak tahu kenapa Rei menanyakan hal seperti itu.
Rei lalu memegang kedua pundak gadis itu. Keduanya saling bertatapan.
"Alea aku serius."
"Tergantung kesalahan apa yang kamu buat Rei, aku juga gak ada hak buat membenci kamu. Lagi pula persahabatan itu harus saling memaafkan. Benar kan?" ucap Alea sambil tersenyum.
"Ya kamu benar Alea," jawab Rei.
"Persahabatan ya?" batin Rei kecewa.
Rei lalu melepaskan kedua tangannya dari pundak Alea. Kini gadis itu menghadap ke arah pemandangan di bawah sana.
"Pasti kalau malam bagus banget kan di sini pemandangannya?" tanya Alea.
"Tentu saja, mau coba nunggu sampai malam?" tanya Rei.
"Jangan gila Rei, ini masih pagi. Kamu mau aku kelaparan disini ya?" Alea mengerucutkan bibirnya.
"Haha, ya udah ayo kita makan dulu, di sekitar sini ada resto enak loh?" ajak Rei.
"Ayo! Aku sudah lapar sekali!" Alea sangat bersemangat jika memikirkan makanan. Rei hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alea.
Meski dia hanya dianggap sahabat, setidaknya dia masih bisa melihat senyum dan tawa gadis itu. Bagi Rei sudah cukup untuk membuatnya juga ikut bahagia.
Rei takut jika suatu saat Alea tahu tentang masa lalunya. Dan jika gadis itu membenci Rei, dia tak tahu harus bagaimana.
Keduanya lalu pergi dari tempat itu untuk segera menuju ke restoran. Alea yang sudah lapar ingin segera mengisi perutnya.
Tak jauh dari tempat mereka sebelumnya. Keduanya segera memesan makanan. Tapi beberapa menit kemudian seorang pria mendekati mereka.
"Alea kamu ngapain di sini?" tanya pria itu yang tak lain adalah Arkan.
"Kakak," Alea terkejut tiba-tiba kakaknya sudah berdiri di dekatnya.
"Kamu ngapain di sini sama dia?" tanya Arkan lagi sambil menatap tajam kedua mata Reihan.
"Alea lagi main aja kak. Ayo ikut makan sama-sama."
Alea merasa ada hal aneh yang di sembunyikan oleh kedua pria di dekatnya ini.
"Ayo pulang!" Arkan menarik lengan Alea.
Reihan yang melihat itu segera berdiri dan mencegah tindakan Arkan.
"Lepasin! Alea kesini sama aku. Jadi biar aku yang mengantarnya!" ucap Rei tegas.
"Jangan ikut campur, dia adikku!" ucap Arkan menahan marah.
"Kak Arkan! Apa-apaan sih malu tahu di lihat orang!" ucap Alea kesal melihat keduanya yang bertengkar.
"Alea kamu jangan pernah lagi berteman dengan dia! Kakak gak mau kamu di sakiti pria ini!" niat Arkan melindungi adiknya.
"Kakak salah paham,Reihan orangnya baik kok. Udah jangan marah gini," Alea mencoba menenangkan kakaknya. Namun bukannya malah tenang dia malah semakin menarik lengannya lagi.
Alea merasa sedikit kesakitan tapi tak di hiraukan oleh kakaknya.
Di luar restoran Rei menghentikan lagi tindakan Arkan.
Tapi di luar perkiraan Alea, Arkan tiba-tiba memukul Reihan.
Bugh.
Sebuah pukulan keras mengenai rahang kiri Reihan. Pria itu jatuh tersungkur di jalanan.
"Kakak udah hentikan!" Alea berteriak histeris melihat kakaknya memukul Reihan. Dia segera membantu Reihan.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Alea pada Reihan.
"Udah ayo pulang atau aku pukul lagi dia!" ancam Arkan pada adiknya.
Alea terpaksa menuruti kakaknya. Dia sebenarnya tak tega melihat Reihan yang terluka.
"Gak apa-apa kamu pulang dulu," Reihan memberi isyarat pada Alea.Gadis itu akhirnya pergi bersama Arkan.