
Argeil di seret dua orang polisi saat dirinya baru saja sampai di pekarangan rumahnya, dia mencoba melarikan diri tapi naas salah satu kakinya harus mendapatkan timah panas dari polisi, setelah aksi kejar-kejaran di antara mereka.
Pelapor utamanya adalah Afzriel Tan,setelah mendapatkan cukup bukti dia akhirnya menjebloskan Argeil ke dalam penjara karena kasus yang sama dengan Merrie.
Argeil mengutuk dalam hati, dia sebenarnya sudah menyembunyikan semua bukti kejahatannya, tapi entah dari mana pria tua itu bisa menggalinya kembali dan sekarang menjebloskannya ke dalam penjara.
Setelah mendapatkan penanganan di rumah sakit untuk mengambil peluru yang bersarang di kaki kanannya, Argeil harus di paksa ke kantor polisi untuk mendekap di sana.
Di dalam penjara, dia berpapasan dengan Merrie yang kebetulan saat ini sedang menerima tamu, yaitu Liana.
"Hah akhirnya kita bertemu lagi," ucap Merrie menyindir Argeil.
"Jangan sombong kamu Merrie, aku tak akan lama berada di tempat terkutuk ini!" ucap Argeil lalu dia di tarik oleh salah satu polisi penjaga dan memasukkannya ke dalam jeruji besi.
"Mama, mama tenang saja,Liana akan meminta kakek untuk meringankan masa hukuman mama," ucap Liana menenangkan mamanya.
"Liana mama berterima kasih kamu masih mau peduli dengan mama, tapi sebaiknya kamu fokus ke sekolah kamu saja, sebentar lagi kenaikan kelas kan?" ucap Merrie,Liana mengangguk paham kekhawatiran mamanya, jika dia tak bisa berkonsentrasi di sekolahnya maka beasiswa yang selama ini dia dapat akan di cabut.
"Iya ma, Liana akan fokus di sekolah, tapi bagaimana dengan mama?" tanya Liana khawatir.
"Mama gak apa-apa sayang," balas Merrie.
Liana lalu memeluk Merrie sebelum wanita itu kembali ke jeruji besi.
Di sisi lain, Zelia yang masih berkabung dengan kepergian calon bayinya perlahan mulai menata kembali hati wanita itu.
Dia menyadari tak mungkin selamanya akan larut dalam kesedihan, itu hanya akan membuat orang-orang yang mencintainya merasa sedih.
"Sudah siap sayang?" tanya Andrew saat keduanya di kamar.
"Sudah, ayo kita berangkat," ajak Zelia sambil menggait manja lengan Andrew.
Keduanya lalu berangkat ke kampus bersama, Andrew berjanji untuk menjaga istrinya semampu dia, meski kesibukannya sudah mulai memadat kembali.
"Sayang, bagaimana kalau kita berbulan madu lagi?" tanya Zelia antusias saat mereka di dalam mobil, membuat Andrew mengkerutkan keningnya dan memasang kembali telinganya baik-baik barangkali dia salah dengar.
"Bulan madu?kamu serius?" tanya Andrew sambil mengernyitkan dahinya.
"Lah serius, memang kamu gak mau?" Zelia tampak cemberut mendengar respon Andrew seperti heran begitu.
"Tentu saja aku mau, mau banget malah," ucap Andrew sambil mengukir senyuman manisnya, kini dia lebih antusias dari Zelia.
"Kalau begitu biarkan aku yang memilih tempatnya," ucap Zelia.
"Baiklah, kamu pilih saja, nanti kita rundingkan waktunya."
Zelia mengangguk setuju dan kembali fokus melihat jalanan, Andrew juga begitu.
Andrew tahu bahwa Zelia ingin sekali memiliki bayi, dia mungkin ingin secepatnya membuat kembali, tapi alasan Andrew menyetujui keinginan wanita itu adalah agar dia bisa sedikit melupakan kepergian calon bayi mereka, agar Zelia tak larut dalam kesedihan terlalu lama.
Setelah pembicaraan mereka di dalam mobil selesai, kini keduanya sudah sampai di kampus, Andrew mengantar Zelia sampai ke kelasnya, memastikan wanita itu baik-baik saja di sana. Sedangkan Andrew juga kembali ke kelasnya setelah mengantar Zelia.