
Gelap mulai menyelimuti hutan itu,Mona yang masih berada di dalamnya tak berhenti menangis dan berjalan tak tentu arah.
Kedua lututnya mulai nyeri karena tak beristirahat dari tadi. Perutnya mulai lapar karena dari pagi dia belum makan apapun. Begitu juga tenggorokannya yang mulai kering.
Rasa lelah begitu terasa di sekujur tubuhnya, ditambah dirinya mulai lemas karena kehabisan tenaga.
"Pa, papa kamu dimana? Mona takut pa!" teriak Mona dengan suara mulai melemah. Air matanya tak berhenti mengalir di kedua pipinya.
"Aaahh!" teriak Mona ketika kakinya tak menapaki tanah kembali. Tubuh mungilnya terhempas ke depan, sebuah jurang menyambutnya. Mona terjatuh dan tak sadarkan diri.
Di sisi hutan yang lain Bram masih mencari keberadaan Mona, namun tak sedikitpun petunjuk dia temukan.
"Mona?" Bram mendengar teriakan dari putrinya. Segera dia berlari ke sumber suara itu.
Di pinggir sebuah jurang kini Bram tengah berdiri. Dia mengamati jurang yang lumayan dalam itu.
"Mona, apa kamu di bawah sana!" teriak Bram. Tak ada jawaban. Namun tepat di kakinya dia menginjak sesuatu. Sebuah bandana yang dipakai oleh Mona.
"Ini bandana milik Mona," gumam Bram. Dia lalu berusaha menuruni jurang itu dengan perlahan. Meski tak ada pencahayaan, Bram bisa merasakan bahwa jurang itu cukup dalam.
"Mona papa akan menolongmu," ucap Bram. Sesampainya dia di dasar jurang dengan bantuan dari nyala korek apinya, Bram mulai menyusuri dasar jurang itu.
Namun tak ada tanda-tanda Mona di sana. Bram semakin kalut,dia berteriak memanggil nama Mona.
Hingga malam berubah terang, matahari yang mulai muncul perlahan memberikan penerangan bagi Bram. Dia masih berada di dalam jurang itu untuk mencari Mona. Namun tak menemukan jejaknya sama sekali.
Akhirnya Bram memilih kembali ke atas dan pulang ke rumah untuk segera menemui Liera. Barangkali saja Mona sudah pulang semalam.
Namun baru saja dia sampai di depan rumah yang kini dia tinggali, dirinya di kejutkan dengan kehadiran Andrew bersama beberapa orang pengawalnya. Bram seketika bersembunyi dibalik pohon besar di samping rumah itu.
Bram yang merasa terancam segera berjalan perlahan menjauh dan bersembunyi di semak-semak di dalam hutan.
"Bagaimana mereka bisa menemukanku di tempat ini?" batin Bram.
Dia mengkhawatirkan Liera yang berada di dalam rumah itu. Bagaimana jika rencana mereka gagal karena Liera tertangkap terlebih dahulu.
"Bagaimana Han? Apakah pria itu ada di dalam?" tanya Andrew penasaran.
"Sepertinya dia pergi lebih dulu tuan muda,rumahnya telah kosong," jawab Han.
Andrew hanya berdecak kesal, lagi-lagi perburuannya gagal. Dia sebelumnya telah membayar mata-mata untuk menemukan keberadaan Bram. Tak di sangka saat dirinya sudah menemukan tempat tinggal pria itu, malah orang yang di cari sudah pergi lebih dulu.
"Apa tidak ada lagi orang di dalam?" tanya Andrew lagi.
"Tidak ada tuan muda," jawab Han.
Andrew hanya mendesah pelan, usahanya sia-sia kali ini.
"Baiklah kita kembali dulu, tapi kalian terus cari tahu keberadaannya," pinta Andrew.
"Baik,"jawab Han bersama para pengawal.
Andrew kembali ke kota dengan tangan kosong, dia tak mendapatkan apapun. Di tengah perjalanan Andrew melihat seorang pemuda yang panik tengah menggendong anak kecil yang terluka. Namun wajah anak itu tak terlihat karena tertutup oleh tubuh pemuda itu.
Sepertinya dia sedang terburu-buru ke rumah sakit, Andrew ingin menawarkan bantuan, tapi sebelum itu dia lakukan. Seseorang yang tengah membawa mobil lain menghampiri pemuda itu dan membantunya.
Andrew hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan, dia akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke kota.
"Tuan muda apa ada yang ingin tuan lakukan lagi di sini?" tanya Han hati-hati.
"Tidak, ayo kita kembali."
Andrew hanya menikmati pemandangan di sepanjang jalan lewat kaca jendela mobilnya.
Tiga tahun sudah dia berusaha mencari putrinya, tiga tahun juga hasilnya masih sama seperti saat ini. Dia terkadang menyerah, tapi demi senyum istri dan anaknya Andrew berusaha mencari kembali putrinya.
"Alea sebenarnya kamu dimana sayang?" gumam Andrew pasrah, Han mendengar itu, hati pria yang telah setia menemani Andrew itu ikut miris merasakannya. Tuannya bahkan menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mencari putri kecilnya. Namun belum membuahkan hasil sampai saat ini.