Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Tiara adalah...


"maafin tante, Mut. Tante cuma nggak mau kamu terluka lagi, dulu kamu telepon tante nangis-nangis, karena di paksa untuk menjauh dari kehidupan Putra. kamu selalu di bilang anak pembawa sial oleh nenek Asih". ujar sang tante dengan ekspresi Sendu


"maka dari itu tante juga selalu bersikap nggak adil sama Mutia kan? ". tanya Mutia


"maafin Tante sayang, tante salah. kamu kembali ke sini lagi ya". pinta sang tante


"nggak, Mutia udah nyaman di tempat Mutia yang sekarang, dan Mutia mengucapkan terima kasih karena Tante sudah mau merawat Mutia sampai sebesar ini. Mutia tahu harta warisan milik Mutia juga tante yang kuasai kan? Maka nya tante waktu itu masih terima Mutia tinggal di sini. dan sekarang Mutia mau ambil hak Mutia itu lagi, Kalian juga selalu bilang, kalau kalian adalah orang tua asuh Mutia Bukan Saudara Mutia. hahaha orang tua macam apa yang seperti ini? ya sudah Mutia cuma mau bilang itu saja, makasih ya. Mutia pergi dulu". Jelas Mutia panjang Lebar, hati nya benar benar hancur. kehidupan nya sangat kelam, jauh dari kata di sayangi oleh keluarga.


Mutia pun langsung meninggalkan tempat itu dengan menaiki taksi Untuk Kembali menuju ke rumah sakit, ia pun mengeluarkan foto itu di dalam tas nya.


"Apa benar itu Lo? dan kenapa gue nggak pernah sadar kalau selama ini lo ada di dekat gue? Apa bener nenek tadi bernama nenek Asih? dan apa lo masih ingat tentang gue?". gumam Mutia


sesampai nya di rumah sakit, Mutia langsung berlari menuju ke ruangan Putra dengan tergesa-gesa.


Ia membuka pintu ruangan itu dan melihat tidak ada siapapun di sana, saat mata nya tak sengaja melihat ada suster yang sedang lewat, ia langsung menghampiri nya.


" Sus, pasien di kamar ini mana ya?".


"oh pasien ini sudah pulang baru saja bersama dengan nenek nya, karena dia memilih di rawat di rumah saja". jelas suster tersebut


"Kalau boleh tahu, rumah nya di mana ya Sus?". Tanya Mutia karna tak tahu alamat rumah Putra


"Maaf, saya tidak tahu".jawab sang suster


"kalau gitu makasih ya Sus".


Mutia pun langsung berjalan keluar kembali dengan mengusap kasar rambut nya.


"Put, Lo ada di mana? gue kangen sama lo!!". teriak Mutia di barengi dengan air mata nya yang menetes begitu saja


"apa gue minta tolong sama Satria aja ya, akkhhh Apa dia mau nolongin gue? Lea? ya dia pasti mau nolongin gue". Ucap Mutia dan langsung menghubungi Lea


"hallo Lea,ini gua Mutia".


"Oh Mutia, ada apa?". Tanya Lea


"apa Lo tahu di mana rumah Putra atau rumah nenek nya? ". Tanya Mutia memastikan


" gue enggak tahu sih,btapi mungkin kak Leon tahu". Jawab Lea.


"ya udah cepetan tanya sama suami Lo".


"A...PA? sama suami Maksud lo? ". tanya Lea yang terkejut


"cepetan kasih tahu atau gue sebarin pernikahan lo". Ancam Mutia


"Sebentar, nanti gue kirim alamat Kak Putra. Gue tanya dulu sama Kak Leon". ujar Lea mematikan sambungan telepon nya secara sepihak


Mutia pun menunggu pesan dari Lea, namun belum juga ada.


Mutia berdecih dengan kesel dan melihat lagi ponsel nya yang sudah tertera pesan masuk dari Lea


Mutia pun langsung menunggu taksi untuk menuju ke alamat yang tertera di ponsel nya, namun tidak ada satu pun taksi yang melintas.


hingga ia tak sengaja melihat Devan sedang melintas.


"Kak Devan, stop!! please, gue mohon anterin gue ya ". ujar Mutia yang langsung naik ke atas motor sport milik Devan


"apa apaan sih lo, turun!!". perintah Devan


"Kak Devan please!! ini penting banget". mohon Mutia


"kemana?". tanya Devan


lelaki itu melihat jam di tangan nya masih ada satu jam lagi untuk bertemu dengan Sisil.


"Ya udah cepetan, Lo mau ke mana? ".


Devan yang tanpa basa-basi langsung bergegas menuju ke tempat itu, karena tidak ingin telat untuk menemui Sisil yang meminta bantuan nya.


karena Devan membawa motor nya dengan kecepatan tinggi, membuat mutia melingkarkan tangan nya di pinggang Devan.


Sesamapai nya di rumah nenek nya Putra, Devan pun langsung menaikkan satu alis nya.


"rumah Nenek Asih, ngapain Lk ke sini? ada urusan apa, Emang nya Lo kenal? Ini rumah nenek nya Putra kan? lo tahu dari mana?". tanya Devan bertubi tubuh karena merasa heran


Mutia pun menganggukan kepala nya dan langsung membunyikan bel secara terus-menerus, hingga ada seseorang yang membukakan pintu.


"Mutia, Devan? ngapain kalian ke sini?". tanya Putra


" Kak, Lo udah ingat semua nya? Lo udah enggak amnesia lagi?". tanya Mutia


Putra pun bergeming, karena ketahuan dia bingung harus beralasan apa lagi.


"gue ingat kalau dia Devan, emang benar ya dia Devan?". Ucap Putra beralasan


"maksud nya? Putra hilang ingatan gitu?". Tanya Devan yang kebingungan


" kalian berdua ngapain ke sini? ". tanya Putra lagi


"Kak, Lo ingat gue nggak?". tanya Mutia


"lah Lo kan bilang kalau nama Lo Mutia dan juga lo yang buat gue sampai begini". Ucap Putra mengerutkan kening nya


"Enggak, bukan itu".


"apaan sih, jadi siapa atau anak siapa gitu? Yaa mana Gue tahu, tanya aja sama emak bapak Lo sono! ". ketus Putra


" Gue Tiara". Ucap Mutia yang kurang jelas karena nenek Asih yang tiba tiba datang


"Siapa Put? ". tanya Nenek Asih


"Ini si Mutia yang tadi Rumah Sakit Nek. ". sahut Putra


"tadi lo ngomong apa? ". Tanya Putra


tiba-tiba ada seekor anjing yang ingin menghampiri mereka semua, Putra pun langsung menutup pintu nya dengan kuat membuat Mutia dan Devan yang ingin masuk tidak bisa, sehingga Devan dan Mutia naik ke atas motor lagi dan melajukan motor nya dengan kencang.


"Kak Devan, nanti turunin Gue di depan gang itu aja ya, soal nya lo juga lagi sibuk kan". ujar Mutia tanpa banyak bicara


Devan pun langsung menurunkan Mutia dan setelah wanita itu turun dari atas motor nya, Devan menatap nya dengan serius.


"tadi lo bilang apa? Lo Tiara? ". Tanya Devan


"Lo denger kak?". Tanya Mutia yang terkejut


" Ya denger lah, Lo kira gue udah budek apa! ".


"nama gue mutiara Alexa, dulu waktu kecil panggilan gue Tiara. dan sekarang Putra nggak inget gue karena bertahun-tahun lama nya, inti nya Cerita nya panjang, gue mohon sama Lo, Tolong jaga rahasia ini dulu ya . dan jangan ceritakan ke siapapun, termasuk Kak Putra. karena gue mau bilang sendiri sama dia". jelas Mutia


" Jadi kalian berdua teman masa kecil?".


Mutia pun menganggukan kepala nya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Devan.


"Ya udah deh, kalau gitu gue duluan ya".


Mutia pun langsung melangkahkkan kaki nya meninggalkan Devan sendirian yang masih terpaku, tiba tiba ponsel Devan bergetar, Dia teringat janji nya dengan Sisil.


"Astaga, gue udah telat satu jam lebih". ujar Devan yang terkejut saat melihat jam di tangan nya


Devan pun langsung melanjukan motor nya menuju ke tempat janjian