
"Aku gk nyangka Kak, Kalau Kak Putra ternyata memiliki kehidupan yang sangat menyakitkan seperti ini. Padahal ia selalu ceria dan tertawa, namun semua itu hanya kedok untuk menutupi rasa sedih nya". Ujar Lea yang menangis
Leon langsung memeluk tubuh istri nya, air mata nya juga lolos begitu saja.
Leon dan Putra sudah bersahabat semenjak mereka dari sekolah dasar, jadi Leon sangat tahu bagaimana perasaan Putra saat ini. Lelaki itu tentu saja tidak sekuat yang selalu ia tunjukan selama ini pada dunia, bahkan Leon tahu jika Putra saat ini sangat rapuh.
Mata Leon membulat saat tak sengaja melihat sosok bapak mertua nya masuk ke dalam salah satu ruangan.
" Bapak?". Ucap Leon
Lea yang mendengar hal itu langsung melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah Leon seraya mengikuti arah pandangan lelaki itu, sedangkan Leon sendiri langsung berjalan yang di ikuti oleh Lea dari belakang.
"Bapak? Bapak siapa Kak?". Tanya Lea yang terus mengikuti langkah kaki Leon
" Bapak aku kah?". Tanya Lea lagi, namun Leon masih terdiam membisu tak menjawab perkataan nya.
Leon dan Lea hendak membuka pintu ruangan yang kini sudah berada di hadapan mereka berdua, namun Cakra tiba tiba datang dan memanggil nya
"Woii.. Kalian ngapain di sana, ayo cepat ke sini". Teriak Cakra
" Ayo Kak kita di panggil tuh, toh kita juga ngapain sih di sini. Kak Putra lagi butuh kita saat ini". Ucap Lea seraya menarik tangan Leon yang masih menatap ke arah ruangan itu
"Ta... Tapi.. ".
Lea terus menarik lelaki itu sampai mereka berdua berada di ruangan tempat Mama nya Putra, kini terlihat para suster sudah membawa jasad Mama Putra yang akan di antar kan ke tempat peristirahatan terakhir nya.
Putra kini berdiri dengan lemas saat menatap jasad Bund anya yang sudah tidak bernyawa lagi dengan tatapan sendu, lelaki itu langsung mengusap kasar air mata nya dan melangkahkan kaki nya meninggalkan para teman teman nya.
...****************...
Kini di tempat pemakaman telah ramai dengan orang yang berziarah, kesedihan dan tangisan mengiringi perjalanan Mama Putra sampai di tempat peristirahatan nya.
Putra gemetar saat memegang jasad Mama nya untuk terakhir kali nya untuk masuk ke tempat peristirahatan nya.
" Ma.. Bahagia di sana ya, Putra juga janji akan bahagia di sini. Putra janji akan buat Mama bangga, walaupun Mama sudah gk ada. sekarang gk ada siapapun lagi yang bisa nyakitin Mama, termasuk lelaki brengsek itu". Lirih Putra
Putra mengusap kasar air mata nya dan langsung berdiri, para petugas langsung melaksanakan tugas nya. Putra juga ikut membantu dengan tangan yang gemetar hebat saat meletakkan gundukan tanah itu.
Banyak bunga yang bertaburan, tercium aroma wangi khas bunga tersebut.
Putra mengedarkan pandangan nya, lelaki itu seakan mencium aroma Mama nya, mata lelaki itu sangat sembab
Ada beberapa perwakilan dari para guru guru SMa Tunas Bangsa yang ikut menghadiri pemakaman itu.
Kini pemakaman sudah nampak terlihat sepi, para pelayat pun sudah satu persatu meninggalkan area itu.
"Kak Putra, ayo kita pulang. hari sudah mulai gelap, dan seperti nya juga akan turun hujan". Ajak Sisil
" Kalian pulang saja duluan, Gue masih mau ada di sini". Jawab Putra
"Put, Nanti Lo sakit kalau tetep berada di sini". Timpal Satria
" Enggak, Kalian pulang duluan, Gue mau sendiri dulu di sini".
"Biarin aja Kak, Kak Putra emang perlu waktu buat sendiri terlebih dahulu". Ucap Lea
" Ya sudah, lebih baik sekarang kita nunggu dia di dalam mobil". Usul Lea
Mereka semua langsung menganggukan kepala nya dan berjalan menuju ke arah mobil Leon untuk menunggu Putra pulang.
Putra masih terdiam di atas gundukan tanah yang bertaburan dengan bunga, Lelaki itu terus memandangi foto Mama nya yang terlihat sangat cantik dan juga menatap sebuah Nisan yang bertulis nama Mama nya itu.
...****************...
"Kalian semua pulang duluan aja, gue masih mau nebus biaya perawatan Mama Gue selama ini". Ucap Putra berusaha tersenyum walau dengan terpaksa
" Nggak!! Gue bakal ikut Lo, dan kalian semua tunggu di dalam mobil aja". Ucap Leon
Leon langsung keluar dari dalam mobil dan mengikuti langkah kaki Putra, sebenar nya Leon mempunyai alasan sendiri untuk ikut dengan Putra.
Ya, lelaki itu masih penasaran dengan bapak mertua nya yang berada di rumah sakit itu.
"Bentar Ya, Gue masuk dulu". Ujar Putra
" Iya, Gue juga mau ke toilet sebentar. nanti kalau udah selesai Lo hubungin gue". Ucap Leon
Putra menganggukan kepala nya dan langsung menuju ke arah meja resepsionis rumah sakit.
sedangkan Leon berjalan ke arah ruangan tadi yang belum ia sempat buka, dan kini Leon membuka pintu ruangan tersebut dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi!!".
" Nak Leon!!". Ujar Pak Heru dan Bu Lastri dengan terkejut
"Bapak, Ibu? jadi benar kalau tadi yang Leon lihat itu Bapak".
" Bapak dan Ibu kenapa bisa ada di sini? Ibu kenapa? Ibu sedang sakit apa?". Tanya Leon
"Ibu gk kenapa kenapa kok, Ibu cuma kecapekan saja. biasa faktor usia sudah tua. kamu sendiri kenapa berada di sini Nak?".
" Teman Leon, Mama nya meninggal dan Leon ke sini untuk menemani nya". Jawab Leon
"Lea juga ada di sini juga Pak, Bu... Apa Mau Leon panggilkan juga untuk ke sini? ". Tanya Leon
" nggak usah Nak, malah nanti membuat dia cemas berlebihan. Jadi Ibu mohon sama kamu jangan kamu bilang sama Lea kalau kami ada di sini". Ujar Bu Lastri memohon kepada menantu nya itu
Leon sendiri langsung mengerutkan kening nya saat mendengar perkataan dari Ibu mertua nya itu, ia kini merasa aneh dengan tingkah dari kedua mertua nya itu.
Namun saat ini Leon berusaha untuk menepis semua fikiran buruk yang bersarang di otak nya, bisa saja apa yang di katakan oleh mertua nya itu benar bahwa Beliau sedang kecapekan dan perlu beristirahat.
"Leon... Leon... Leooonn!!!". Teriakan Putra dari luar
Leon yang mendengar teriakan dari teman nya itu langsung keluar untuk memberitahukan keberadaan nya
" Apa? Gue di sini".
"Lo dari mana aja sih? kata nya tadi ke toilet, Gue cariin di toilet malah gk ada. Ehh tunggu dulu deh, ini ruangan istri nya Pak Heru kan? Lo kenal?".
" Kenal, dia itu kan mertu..." Leon langsung menutup mulut nya karena hampir saja ia keceplosan
Putra langsung masuk ke dalam ruangan itu, membuat Leon membulatkan mata nya dan berusaha menarik tangan Putra untuk keluar.
Namun Pak Heru sudah melihat kedatangan Putra dan langsung menghampiri nya
"Kamu yang kuat ya Nak, umur gk Arab yang tahu, semoga Mama kamu di tempatkan di sisi Nya".
" Kenalin Nak, ini Leon suami nya anak Bapak". Ujar Pak Heru yang tidak mengetahui jika Putra adalah teman dari Leon
Putra dan Leon sama sama membulatkan mata nya dan saling menatap satu sama lain