Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Siapa gadis itu


Terlihat kini Alina, Abian dan juga seorang anak kecil yang menggemaskan Siapa lagi kalau bukan Dehan sedang berada di sebuah taman bermain.


Dari kejauhan Alina dan Abian melihat ke arah Dehan yang tengah asik bermain di depan sana.


Sekali-kali Alina tersenyum melihat tingkah laku Dehan yang begitu lucu dan menggemaskan menurutnya.


"Tante Alu ayo main sama Dehan disana!" pinta Dehan yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Alina dan Abian. Seraya tangannya menunjuk ke arah depan sana.


"Tante Alu, nama apa itu?" tanya Abian bingung.


"Om Bian jangan banyak beltanya! Itu adalah nama panggilan kesayangan Dehan untuk tante Alina." tutur Dehan menjelaskan.


"Apa? Bhahahaaa..!" Abian tertawa terbahak-bahak yang membuat Dehan cemberut sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya yang mungil itu.


Alina langsung mencubit pinggang Abian. "Aduh! Al sakit tahu." protes Abian dengan wajah yang meringis kesakitan. "Tante Alu nama yang bagus tante suka." ucap Alina sambil tersenyum manis yang membuat wajah Dehan kini terlihat senang.


"Jadi tante suka sama nama panggilan yang Dehan sebutkan tadi?"tanya Dehan memastikan.


"Bukan hanya suka, tapi tante suka banget dengan nama panggilan dari Dehan itu." kembali Alina meyakinkan Dehan.


"Dehan sayang tante Alu." balas Dehan seraya memeluk Alina yang membuat Alina tersenyum dengan kembali membalas pelukan hangat dari anak kecil itu.


"Dasar aneh masa nama seperti itu di bilang bagus."gerutu Abian yang membuat tangan Alina kembali ingin mencubit pinggang suaminya itu.


"Jangan Al, ampun jangan cubit lagi ini aja yang tadi masih sakit tahu!" protes Abian.


"Makanya jangan ngeselin kalau nggak mau di cubit lagi." jawab Alina sambil tersenyum.


"Jahat kamu Al!"desis Abian yang membuat Alina kembali melukiskan sebuah senyuman di bibir tipisnya.


"Tante Alu ayo!" ajak Dehan seraya menarik tangan Alina.


Mau tidak mau akhirnya Alina mengikuti kemana Dehan menarik tangannya.


"Selain cantik dan baik kamu juga mempunyai sifat keibuan yang tinggi Al." gumam Abian seraya matanya menatap Alina yang tengah asyik bermain bersama Dehan di depan sana.


"Om Abi!"panggil Dehan dari kejauhan yang membuat Abian menoleh dan mulai bergegas menghampiri Dehan dan juga Alina.


"Apa?" tanya Abian yang kini sudah berada di hadapan Alina dan juga Dehan.


"Sini,!" pinta Dehan yang membuat Abian terpaksa harus berjongkok, supaya dia bisa tahu apa yang akan di bicarakan oleh keponakan nya yang lucu itu.


Dehan membisikkan sesuatu ke telinga kanan Abian.


"What!"ucap Abian seraya langsung menggendong tubuh mungil Dehan sambil berlari kencang meninggalkan Alina yang terlihat kebingungan.


Abian mengantar Dehan ke sebuah kamar mandi."Bisa sendiri kan nggak perlu om bantu?" tanya Abian yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Dehan.


Abian membuang nafas panjang sebelum akhirnya dia membantu Dehan untuk puff.


"Kalian dari mana?" tanya Alina saat melihat Abian dan Dehan berjalan mendekat.


"Rahasia!" jawab Abian yang kini saling pandang dengan Dehan sambil sama-sama tersenyum yang membuat Alina penasaran di buatnya.


Kini Abian dan Alina sudah berada di dalam mobil untuk melakukan perjalanan pulang, sedangkan Dehan dia tertidur nyenyak di pangkuan Alina.


"Sebenarnya tadi itu kalian dari mana sih?" tanya Alina yang masih penasaran sedari tadi.


"Kan aku udah bilang rahasia!"jawab Abian sambil tersenyum dengan tangan yang sibuk menyetir mobilnya.


Alina hanya bisa membuang nafas kasar karena merasa tidak puas dengan jawaban dari sang suami.


Kini mobil yang mereka tumpangi telah tiba di pekarangan rumah.


Alina mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki kediaman Narendra.


"Kalian sudah pulang?"tanya Lisa sambil menghampiri menantunya itu.


"Iya mah."jawab Alina seraya mencium punggung tangan sang mama mertua.


"Mana Abian?" tanya Lisa lagi.


"Dia masih di luar mah, lagi angkat telpon mungkin masalah kerjaan." jawab Alina menjelaskan.


"Dehan tidur ya,!"kembali Lisa bertanya


dengan tangan mengelus kepala Dehan yang masih tertidur dengan sangat nyenyak nya di gendongan Alina.


"Iya nih mah."jawab Alina.


"Ya udah langsung di tidurin aja di kamarnya ya Al,!"imbuh Lisa yang di jawab anggukan oleh Alina.


" Makasih ya Al, karena udah jagain Dehan seharian ini."ucap Lusi yang baru saja masuk ke dalam kamar yang dia tempati bersama Dehan.


Alina menoleh dan mulai berjalan menghampiri Lusi."Dehan itu anak yang sangat lucu dan menggemaskan." tutur Alina yang membuat Lusi tersenyum.


"Tapi dia nggak ngerepotin kamu kan Al?" tanya Lusi.


"Enggak ko bi, justru Alina senang bisa dekat dengan Dehan." jawab Alina sambil tersenyum manis.


"Syukur lah, bibi senang dengarnya kalau Dehan nggak ngerepotin kamu." balas Lusi sambil tersenyum juga.


"Oh iya Al, temenin Bibi yuk!"


"Temenin kemana Bi?" Alina balik bertanya.


"Temenin Bibi ke gudang untuk ngambil sesuatu."jawab Lusi.


" Oh ya udah yuk!"balas Alina yang menyetujui ajakan sang Bibi.


Kini Alina dan Lusi sudah berada di dalam gudang, Lusi mulai mencari sesuatu entah apa itu karena Alina tidak banyak bertanya.


Tapi Alina juga ikut melihat - lihat semua barang yang ada di gudang itu, barang yang mungkin sudah tidak terpakai lagi.


Mata Alina menatap sebuah kotak warna coklat yang menarik perhatiannya, dia mulai mengambil kotak itu karena merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak coklat itu.


"Bukannya ini Abian?" gumam Alina saat melihat sebuah foto yang berada di dalam kotak coklat itu.


Mendengar itu Lusi mulai berjalan mendekati Alina.


"Kamu lihat apa Al?" tanya Lusi yang ikut melihat sebuah foto yang sedang di pegang oleh Alina.


"Ini kan foto Abian sama..!" kata-kata Lusi terhenti seketika yang membuat Alina penasaran di buatnya.


"Foto Abian sama siapa Bi?" tanya Alina yang begitu penasaran.


"Enggak bukan siapa-siapa ko, ya udah kita keluar yuk! Karena Bibi sudah nemuin barang yang Bibi cari." jawab Lusi yang sepertinya menghindari pertanyaan dari Alina.


"Bibi belum jawab pertanyaan aku, ini Abian sama siapa Bi?" Alina kembali melontarkan pertanyaan yang sama lagi.


"Aku yakin Bibi pasti tahu sama gadis yang bersama Abian di foto ini." timpal Alina yang membuat Lusi tidak bisa menghindar lagi.


"Kalau Bibi diam berarti ucapan aku benar kan Bi?" Alina terus mendesak Lusi supaya dia mau memberi tahu dirinya tentang sosok gadis cantik yang ada di dalam foto itu bersama sang suami.