Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Rumah Sakit


Setelah menikah Defin dan Adel kembali ke negara Inggris. Mereka memulai kembali kehidupan baru bersama, tanpa meninggalkan pekerjaan masing-masing.


Saat ini keduanya tengah berada di sebuah rumah sakit terbaik di negara itu. Sudah beberapa hari ini Adel tak berselera makan. Setiap pagi dia selalu mengalami mual hebat.


Defin mengira kalau Adel hamil, untuk memastikan benar atau tidaknya hal itu, hari ini dia menemani sang istri untuk memeriksakan kandungannya.


Keduanya kini sedang menunggu antrian di ruang tunggu. Sesekali Adel merasa tak nyaman,dia memegang perutnya yang mulai mual kembali.


"Apa kamu ingin ke toilet sayang?" tanya Defin.


Adel lalu menggeleng, terlihat sekali wajahnya pucat. Tubuhnya mulai melemah.


"Tidak, hanya mual sedikit, tidak apa-apa Def," jawab Adel menenangkan suaminya.


"Baiklah," Defin khawatir melihat Adel seperti itu.


Keduanya lalu terdiam sambil menunggu giliran mereka. Masih ada empat orang lagi sebelum giliran Adel masuk ke ruangan khusus kandungan.


Dari jauh Defin tak sengaja melihat seorang anak yang di temani oleh dua orang dewasa serta satu anak remaja. Keempat orang itu baru saja masuk ke dalam rumah sakit itu.


Defin merasa familiar dengan gadis yang berada di kursi roda. Wajahnya mengingatkan seseorang yang dia kenal.


"Tapi siapa ya?" batin Defin mencoba mengingat-ingat.


Sebelum keempatnya menghilang di lorong lain. Defin sengaja memfoto mereka. Barangkali dia bisa mengingatnya jika lebih detail melihat gadis itu di dalam ponselnya.


"Def, ada apa?" tanya Adel yang melihat tingkah aneh suaminya.


"Kamu lihat anak gadis itu,wajahnya mirip dengan seseorang, tapi aku lupa siapa orang itu."


Adel lalu memperhatikan foto yang di tunjukkan oleh Defin. Dia mengamati dengan cermat. Lalu mengingat siapa saja yang mirip dengan gadis itu.


"Iya sih, mirip seseorang tapi siapa ya?" tanya Adel juga bingung.


Keduanya saling berfikir, lalu suara panggilan nama Adel membuyarkan pikiran mereka.Sudah waktunya mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Defin segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan membantu Adel berjalan.Keduanya lalu masuk ke ruangan itu.


Setengah jam berlalu sejak keduanya masuk ke dalam ruangan. Adel akhirnya telah selesai melakukan pemeriksaan.


Defin segera membawa Adel pulang ke rumah. Di dalam mobil Adel tampak lemah.


"Untung saja ini hanya akan berlangsung beberapa bulan pertama Def, jika lebih lama aku pasti sangat kesulitan," Adel merasa lega setelah mendengar penjelasan dokter tadi. Bahwa rasa mualnya itu hanya akan berlangsung di awal-awal bulan kehamilannya.


"Iya Del, kamu kalau ngerasa gak enak atau gimana langsung hubungi aku ya, aku gak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa," jawab Defin.


"Iya sayang, jadi ke ingat Zelia deh, dulu katanya dia pas hamil kayak gini juga, malah lebih parah." Tiba-tiba Adel teringat dengan cerita Zelia saat mereka bertemu dahulu.


"Benarkah?" tanya Defin. Adel mengangguk mengiyakan.


Defin tiba-tiba mengingat sesuatu, dia perlahan menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.


"Kenapa berhenti Def?" tanya Adel bingung.


"Aku mengingat sesuatu Del," Defin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan ke Adel.


"Jangan-jangan?" Adel juga mulai teringat seseorang.


"Yup, aku juga berfikir begitu, dia begitu mirip dengan Arkan," jawab Defin. Keduanya saling memandang.


"Apa mungkin dia Alea, putri Andrew yang hilang empat tahun lalu itu?" tanya Adel penasaran.


"Mungkin saja Del, mereka memang terlihat mirip sekali, hanya saja gadis ini berambut panjang."


"Iya Def, kalau begitu cepat beritahu Andrew dan Zelia, mungkin mereka bisa mencari tahu tentang gadis ini," pinta Adel pada suaminya.


Defin mengangguk dan segera mengirim foto itu ke Andrew dan Zelia melalui pesan singkat.


Setelah mengirimkannya Defin kembali fokus mengemudi, untuk kembali ke rumah segera.


Keduanya berharap jika memang itu adalah Alea, putri sahabat mereka itu.


Siang ini Andrew baru saja selesai meeting dengan beberapa manager perusahaannya. Dia baru sempat membuka ponsel miliknya.


"Sepuluh panggilan tak terjawab dari Zelia? ada apa ini?" gumam Andrew saat melihat siapa penelepon di ponselnya. Andrew segera menghubungi Zelia, mungkin ada hal penting yang terjadi.


"Halo sayang,ada apa? aku baru selesai meeting tadi," ucap Andrew di telepon.


"Coba lihat pesan singkatmu Ndrew, aku mendapat pesan dari Defin."


"Baiklah," Andrew lalu membuka pesannya tanpa mematikan sambungan telepon, matanya membelalak melihat pesan yang di kirim oleh Defin. Foto gadis yang dia cari selama ini.


Di dalam pesan itu Defin bertanya tentang kemiripan gadis itu dengan Arkan, dia juga mengira mungkin itu adalah Alea.


"Ndrew, kamu masih di sana?" tanya Zelia di seberang telepon.


"Iya sayang, aku masih disini. Sepertinya kita harus segera menyusul Defin dan Adel."


"Iya aku juga harus ikut," tampak sekali dari suaranya Zelia begitu bersemangat. Setelah melihat isi pesan dari Defin,Zelia segera menghubungi Andrew.


"Tentu saja." Andrew lalu menutup telepon mereka. Dia segera meminta Han menyiapkan pesawat pribadinya dan beberapa pengawal yang terbaik.


"Han,siapkan pesawat pribadi, kita akan ke Inggris segera."


Han melongo mendengar perintah tuannya itu, Andrew bahkan membatalkan beberapa pekerjaan sebelumnya.


"Tuan muda ada apa? kenapa tiba-tiba ingin ke sana?" tanya Han tak mengerti.


Andrew lalu memberikan ponselnya dan menunjukkan foto itu ke Han. Pria itu melotot tak percaya, jika di dalam foto itu adalah gadis yang selama ini mereka cari.


"Baik tuan akan segera saya siapkan," Han segera pamit keluar untuk menyiapkan semuanya.


Andrew juga segera pulang ke rumah, setelah Han selesai dengan tugasnya.


Dia tak sabar segera terbang ke Inggris. Andrew juga meminta Defin untuk melacak alamat keluarga itu tinggal selama Andrew belum sampai di sana.


Defin dengan senang hati membantu mereka. Dia yang sudah mengantar Adel segera kembali ke rumah sakit.


Mencari informasi dari rumah sakit adalah salah satu hal yang bisa Defin lakukan sekarang.