
Empat hari berlalu begitu cepat, suasana pengantin baru pun harus segera mereka tinggalkan lantaran kesibukan masing-masing.
Zelia tengah bersiap merapikan pakaiannya, sedangkan Andrew sedang menyelesaikan rapat lewat video call nya dengan para manager di perusahaannya.
Afzriel Tan sudah menyerahkan urusan perusahaan kepada Andrew, meski masih dalam pengawasan pria paruh baya itu, tapi Andrew cepat beradaptasi dan mengerti seluk beluk bisnis keluarga Tan.
Karena waktu, Andrew memutuskan kembali dua hari lebih cepat daripada perkiraan, karena ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan pria itu, Zelia hanya bisa menerima dengan lapang bahwa liburan mereka hanya beberapa hari saja.
Meski sebenarnya dia masih kurang puas, tapi dia harus mengerti keadaan suaminya.
Siang harinya mereka sudah sampai di rumah,Andrew yang baru sampai segera menuju ke perusahaannya untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Sayang, kenapa langsung ke kantor, istirahat dulu saja," ucap Zelia.
"Ada pekerjaan penting siang ini sayang,aku cuma sebentar kok," balas Andrew.
Zelia hanya cemberut ketika suaminya sudah berjalan meninggalkannya, tapi sesaat kemudian Andrew kembali ke hadapan Zelia.
"Ada yang tertinggal?" tanya Zelia,Andrew menggeleng pelan, lalu mencium kening dan bibir Zelia.
"Aku lupa menciummu," ucap pria itu lalu bergegas keluar rumah.
Zelia hanya bisa tersenyum melihat perlakuan romantis suaminya itu.
Di perusahaan Afzriel Tan sudah menunggu Andrew sejak setengah jam lalu.
"Kakek,maaf aku terlambat," ucap Andrew saat masuk ke dalam ruang kerja kakeknya, saat ini Andrew berada di induk perusahaan milik keluarga Tan yang di pegang langsung oleh kakeknya sendiri.
Sedangkan papanya memegang salah satu anak perusahaan saja, karena hal sepele yang dahulu terjadi membuat Afzriel Tan tak lagi mempercayai Zulian sebagai pemegang perusahaan induknya.
Untung saja Zulian menerima konsekuensi itu,dia merasa pantas mendapatkannya karena kelalaiannya sendiri.
"Masuk dan duduklah," ucap Afzriel kepada Andrew.
Setelah keduanya duduk saling berhadapan, Afzriel mulai membicarakan hal penting kepada cucunya.
"Maksud kakek? aku harus memegang semua perusahaan ini?" tanya Andrew terkejut setelah mendengar apa yang di inginkan oleh kakeknya.
Afzriel Tan mengangguk.
"Aku sudah tua Ndrew, sekarang semuanya ku serahkan kepadamu," ucapnya.
"Tapi kek, Andrew belum siap?" balas Andrew.
"Tenang saja, Flo akan mengajari semuanya," ucap Afzriel tak mau di bantah.
Andrew hanya bisa menghela nafas panjang, dia menerima jika hanya salah satu anak perusahaan yang dia kelola saat ini,tapi sang kakek malah memberikan semua perusahaannya kepada Andrew,ini adalah tanggung jawab berat bagi pria itu.
"Baiklah kek, Andrew akan berusaha keras untuk memimpin perusahaan ini," ucap Andrew pasrah.
"Bagus," Afzriel tersenyum senang.
Di sebuah taman yang tengah bermekaran bunganya,kini Afzriel Tan berdiri, dia menatap ke penjuru tempat tapi belum juga datang seseorang yang dia tunggu.
"Kamu selalu tepat waktu Afzriel," ucap seorang wanita seumurannya dari samping.
"Tentu saja, bagaimana kabarmu?" tanya Afzriel pada wanita itu.
"Tentu saja baik," balasnya lalu hening diantara keduanya
"Oliv, kamu ingat tempat ini?" tanya Afzriel Tan di sela-sela keheningan itu.
"Tentu saja aku ingat," ucap Oliv, nenek dari Zelia.
"Apa kamu juga ingat tentang kita?" tanya Afzriel lagi.
"Jangan ungkit masalah itu Afzriel, itu sudah lama terjadi," ucap Oliv menatap mata Afzriel.
Menekan pria itu agar tak lagi membahas tentang masa lalu mereka.
"Tapi perasaan itu masih sama, apa kita tidak bisa bersama?" tanya pria itu serius sambil memegang kedua tangan wanita di depannya.
"Jangan gila Afzriel, kita sudah terlalu tua untuk hal seperti ini," jawabnya.
"Aku tak peduli usia, aku hanya yakin kamu masih memiliki rasa itu untukku," Afzriel tak mau mundur.
"Kamu masih saja sama seperti dahulu," ucap Oliv sambil tersenyum tipis di bibirnya.
Dia ingat bagaimana kisah cintanya dahulu, dimana dia begitu menyukai Afzriel Tan pada awalnya tapi seiring berjalannya waktu mereka harus terpisah karena sebuah perjodohan masing-masing.
Kadang mereka ingin kembali seperti dahulu, tapi semuanya tak semudah yang mereka bayangkan, apalagi mereka memiliki keluarga yang perlu di jaga.
"Aku tahu kamu masih bimbang, aku akan menunggumu," ucap Afzriel Tan sedikit kecewa, dia lalu berbalik ingin pergi dari tempat mereka bertemu tersebut.
Tapi tangan Oliv menghentikan langkahnya.
"Tunggu," ucap wanita itu.
Afzriel menoleh ke arahnya kembali.
"Aku pikir tak ada salahnya kita bersama," ucap Oliv,membuat Afzriel Tan tersenyum.
"Benarkah?"
Oliv mengangguk.
"Tapi bantu aku mengurus cucu lelakiku itu!" Oliv kembali seperti sebelumnya,wanita yang tegas.
"Baiklah."
Keduanya saling tertawa bahagia, dengan kebersamaan mereka saat ini, mereka ingin mengulang kembali kenangan indah bersama seperti dahulu.