
Satu tahun kemudian, Andrew Tan mengadakan pesta untuk kedua anaknya, memang bukan pesta besar karena hanya ada keluarga besar mereka dengan keluarga besar Zelia yang hadir.Ini demi mempererat tali keluarga diantara mereka. Serta memperingati satu tahun kedua anaknya.
"Kakek," sapa Andrew saat sang kakek datang ke rumahnya.
Ya acara itu di adakan di rumah Zelia saja, agar dia tak kecapaian harus ke tempat lain.
"Andrew dimana cicit-cicitku?" tanya Afzriel Tan tak memperdulikan Andrew. Afzriel malah lebih tertarik mencari cicitnya.
Semua orang yang sudah datang sangat ingin melihat anak-anak Zelia. Terlebih lagi bagi James dan Liana yang sudah dari tadi ingin menggendong keduanya.
"Nah itu mereka," tunjuk Andrew ke arah dua anaknya.
Keduanya di bawa oleh para baby sister yang Andrew pilih beberapa hari lalu. Karena keduanya kewalahan mengurus Arkan dan Alea sendiri yang semakin aktif saja.
"Ah ya ampun kenapa kamu mirip sekali dengan bocah tengil itu," ucap James yang tiba-tiba merebut Alea dari salah satu pengurusnya.
"Hei-hei James apa yang baru kamu bilang tadi?" Zelia yang baru tiba dari kamarnya langsung mendengar ucapan sang kakak.
"Kamu kan memang tengil," ledek James dengan suara pelan. Dia lebih fokus pada Alea yang tak mau berhenti bergerak dalam gendongan James. Bahkan gadis kecil itu tak berhenti mengoceh dan tersenyum ke arah James.
Sedangkan Arkan berada dalam gendongan Afzriel Tan. Anak itu mewarisi sifat papanya. Pendiam dan dingin. Bahkan di usianya yang masih kecil seperti ini, dia jarang sekali tertawa seperti Alea.
"Uh dasar kakak jahat," Zelia merajuk. Semua orang di sana hanya menertawakan keduanya yang masih saja sering bertengkar.
"Haiz sudah-sudah mari semuanya kita ptong kue untuk Arkan dan Alea lalu kita makan bersama," ucap Afzriel Tan menengahi keduanya agar segera berhenti bertengkar.
Semuanya mengangguk setuju, James lalu memberikan kembali Alea pada pengurusnya. Keduanya di bawa ke kamar anak untuk di tidurkan setelah acara potong kue.
Usia keduanya sudah satu tahun, keduanya bahkan sudah mulai berjalan. Serta mengucapkan beberapa kata yang begitu menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
Usai acara potong kue mereka semua lalu memulai makan bersama yang telah di siapkan. Hingga beberapa jam berlalu. Salah satu baby sister dari kedua anak Andrew berlari panik ke arah Zelia dan Andrew.
"Tuan, nyonya, gawat," ucapnya.
Zelia dan Andrew terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba sambil berteriak seperti itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Zelia.
"Nyonya, itu nona Alea tidak ada," ucapnya takut-takut.
"Apa?" Zelia lalu berlari ke kamar kedua anaknya. Di ikuti Andrew dan beberapa orang dibelakangnya. Di dalam kamar itu hanya ada Arkan bersama baby sisternya.
"Apa yang terjadi? Dimana Alea?" Zelia begitu panik mendapati ranjang Alea kosong.
"Zelia tenang dulu," ucap Andrew mencoba menenangkan Zelia.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Afzriel Tan pada kedua orang yang menjaga cicit-cicitnya.
"Maaf tuan besar, ini kesalahan saya. Tadi saat itu non Alea menangis karena haus jadi saya membuatkan susu dahulu. Sedangkan rekan saya sedang menimang tuan Arkan di luar kamar. Saya juga tidak tahu siapa yang berani masuk kemari,tolong ampuni saya tuan," kedua baby sister itu berlutut di kaki Afzriel untuk memohon ampun.
"Sudahlah, lebih baik kita segera mencari Alea. Flo dan Han segera kirim beberapa orang untuk menyisir tempat ini. Kalau perlu kota ini kalian cari semua. Jangan biarkan penculik itu kabur begitu saja!" perintah Afzriel Tan pada kedua orang kepercayaan keluarga Tan itu.
Zelia tak berhenti menangis, mommy dan dadynya mencoba menenangkan wanita itu.
"Sayang tenanglah dahulu, biarkan mereka mencarinya," ucap mommy.
Sedangkan Andrew ikut mencari anaknya bersama James dan Liana.
Anak buah Han dan Flo berkeliling ke semua tempat, namun belum juga menemukan Alea.
Andrew dan James pun sama, hingga larut malam mereka masih mencarinya.
"Ndrew sebaiknya kita pulang dulu, biar mereka meneruskan pencarian," ucap James.
Andrew mengangguk, terlihat dari wajahnya dia begitu gelisah dan takut, jika hal buruk sampai terjadi pada putrinya Andrew tak akan memaafkan orang itu.
"Dimana kamu Alea, papa khawatir denganmu," batin Andrew.
Sayangnya Cctv di rumah Andrew telah dimatikan oleh penculik itu, sepertinya dia sudah hafal dengan area perumahan Andrew.
"Menurutmu siapa yang sedang kamu singgung Ndrew?" tanya Liana, mencoba mencerna kemungkinan apa yang terjadi pada keluarga Andrew.
Pria itu sejenak berfikir, namun tak mengingat apapun. Dia tak menyinggung siapapun akhir-akhir ini.
"Aku tak menyinggung siapapun Liana, apa mungkin teman lama, tapi siapa?" tanya Andrew bingung sendiri.
"Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat dulu di rumah, aku tetap akan membantumu mencari Alea, bagaimanapun dia adalah keponakan kesayanganku," ucap James.
Mereka lalu pulang kembali ke rumah Andrew. Zelia yang melihat ketiganya masuk ke dalam rumah segera menghampirinya.
"Andrew gimana? Apa kalian menemukan Alea?" tanya Zelia dengan penuh harapan menatap ketiganya.
Andrew terdiam, Liana dan juga James sama.
"Ndrew! Alea dimana?" Zelia tak berhenti menangis.
"Kami belum menemukannya Zelia, tapi kamu harus tenang, aku sudah memberitahu kepolisian untuk menangani kasus ini," ucap Andrew.
Zelia lemas seketika, pikirannya tak bisa berhenti memikirkan putrinya.
"Alea dimana kamu nak?" Zelia menangis dalam pelukan Andrew. Hingga dia lelah dan tertidur. Andrew membopong tubuh Zelia untuk diletakkan di atas ranjang kamar mereka.
James dan Liana pamit pulang, begitu juga semua orang. Kecuali mommy yang memilih tinggal di sana untuk menemani Zelia.
Keesokan harinya Zelia bangun dan segera berlari ke kamar Arkan dan Alea. Dia mencari Alea. Barangkali semalam hanya mimpi buruk saja. Tapi kenyataannya memang lebih pahit, semalam itu benar-benar terjadi. Zelia kehilangan Alea, putri kecilnya.
"Alea," Zelia terduduk lemas di kamar anaknya. Dilihatnya Arkan yang tak mau berhenti menangis dalam gendongan baby sisternya.
Zelia lalu menggendong Arkan, mendekapnya dalam pelukan hangat seorang ibu.
"Arkan sayang, apa kamu sedang merindukan adikmu?" tanya Zelia pada Arkan.
Anak itu terdiam dalam pelukan mamanya, tapi Arkan tampak gelisah. Mungkin ikatan antara Alea dan Arkan begitu kuat. Hingga anak itu bisa merasakan Alea dalam bahaya.