
Sepanjang perjalanan keduanya saling diam di dalam mobil. Keduanya juga saling memandang ke arah luar jendela. Tak ada percakapan yang mereka lakukan. Bahkan tak ada sama sekali setelah masuk ke dalam mobil.
Pria tampan dengan tubuh atletis itu hanya bisa diam setelah gadis di sampingnya itu mengabaikannya di bandara tadi. Pertemuan pertama yang penuh dengan aroma kekesalan diantara keduanya.
Kunjungannya kali ini adalah untuk menemui gadis kecilnya dahulu. Gadis kecil yang pasti sudah remaja saat ini.
Sedangkan pria itu tak lain adalah Raffa. Anak laki-laki yang dulu pernah menolong Alea, namun sayangnya gadis itu belum mengingat akan kejadian waktu itu.
Di depan rumah Andrew dan para anggota keluarganya sedang menyambut Raffa. Tampak Andrew Tan memeluk tubuh Raffa.
"Bagaimana kabarmu Raf?" tanya Andrew.
"Baik om, bagaimana dengan om sekeluarga?" tanya Raffa kembali.
"Yah seperti yang kamu lihat sekarang Raf," ucap Andrew sambil mengedarkan pandangannya ke semua orang yang berada di sana.
Semua menyalami Raffa,mulai dari Zelia kemudian Arkan juga Arya.
"Om dimana Alea?" tanya Raffa tak tahu.
Andrew dan Zelia saling memandang.
"Lah yang menjemputmu itu kan Alea," jawab Andrew. Raffa hanya tertegun.
"Hah dia Alea?" tanya Raffa tak percaya sambil menunjuk ke arah Alea. Gadis itu sedikit kesal dengan sikap Raffa. Andrew dan Zelia mengangguk.
"Iya Raf, apa kalian belum berkenalan saat bertemu tadi?" tanya Zelia. Raffa dan Alea menggelengkan kepala bersamaan. Zelia malah tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Ya udah kenalan dong, Alea ini kak Raffa, ingat nggak waktu kecil dulu kalian sering bersama?" tanya Zelia.
Alea hanya terdiam sambil memandang sekilas Raffa dari atas ke bawah. Tapi tak ada sedikitpun memori tentang pria itu di masa lalu.
Melihat anaknya hanya terdiam, Zelia segera memperbaiki suasana.
"Em mungkin Alea sedikit lupa, dulu kan dia masih kecil. Ayo nak Raffa kita masuk. Tante sudah masak khusus buat kamu!" ajak Zelia.
"Benar, ayo kita masuk," Andrew ikut menimpali.
Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah, Alea hanya terdiam selama makan malam keluarga itu. Dia tak terlalu bersemangat saat bersama Raffa.
"Alea tolong kamu antar Raffa ke kamar tamu ya!" pinta sang papa setelah mereka selesai makan malam.
Alea hanya bisa mendesah berat, dia tak ingin melakukannya tapi dia tak bisa menolak papanya. Alea terlalu sayang pada sang papa. Entah karena dia anak perempuan satu-satunya dan dia lebih dekat dengan sang papa daripada sang mama.
"Ayo ikut aku!" pinta Alea pada Raffa,pria itu mengikuti langkah gadis di depannya menuju ke lantai dua.
Di sana masih ada satu kamar kosong untuk Raffa tinggali sementara.
Di meja makan, Arkan dan kedua orang tuanya memperhatikan mereka setelah Arya pamit ke kamarnya juga.
"Pa, apa papa yakin mendekatkan mereka sekarang?" tanya Arkan pada Andrew.
"Em tentu saja, memangnya kapan lagi. Bukankah ini idemu dahulu, papa hanya menuruti kalian saja," jawab Andrew.
Sadar akan kesalahan di masa kecil, Arkan merasa sangat menyesal sekali. Dia hanya berharap semoga Raffa adalah pria baik yang bisa membahagiakan adiknya.
"Ini kamarmu!" ucap Alea acuh tak acuh pada Raffa setelah mereka sampai di depan kamar.
"Iya dasar cewek jutek!" gumam Raffa.
"Bilang apa kamu?" tanya Alea kesal.
"Nggak bilang apa-apa kok!" jawab Raffa tak peduli.
Alea mengarahkan kedua jari nya ke arah Raffa.
"Awas ya kalau buat ribut di sini!" ancam Alea.
"Bodo amat!" Raffa masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintu kamar itu.
"Ah kenapa Alea kecil yang lemah lembut jadi seperti itu sekarang?" batin Raffa tak percaya.