
Zulian kembali mengingat masa itu, dimana kisah kedua orang tuanya di mulai. Sang ayah yang kebetulan dahulu masih muda tengah bercanda tawa dengan Zulian ketika seorang pria tiba-tiba datang menemui Afzriel Tan di rumah mereka. Tatapan pria itu tampak sangat marah. Entah apa yang membuatnya sampai begitu. Zulian tak tahu menahu.
"Zulian kamu ke kamar dulu ya, papa ada tamu," pinta Afzriel Tan kepada putra semata wayangnya itu.
Zulian yang waktu itu masih berumur sepuluh tahun hanya bisa menuruti perintah ayahnya dan bersembunyi lantaran takut dengan pria itu. Afzriel Tan akhirnya menemui tamunya. Namun baru beberapa menit keduanya berbicara di ruang tamu.
Zulian yang bersembunyi di dalam kamarnya mendengar suara ribut dari ruang tamu. Dia tak berani muncul ke sana. Tapi rasa penasaran begitu memenuhi hatinya. Zulian akhirnya mengintip dari balik pintu kamar yang sedikit dia buka.
Zulian terkejut saat melihat papanya tersungkur di lantai dengan beberapa luka lebam di wajah dan di bagian lain dari tubuh pria itu.
Dan mamanya Zulian yang tengah memisahkan Afzriel dan tamu pria itu. Zulian tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya dengan kedua orang tuanya.
Hingga akhirnya tamu itu pergi sambil memaki sang ayah. Zulian memberanikan diri keluar dari kamar dan menghampiri mama dan papanya.
"Ma,pa ada apa kenapa paman itu jahat ke papa?" tanya Zulian polos.
"Zulian kamu melihat semuanya?" tanya Afzriel pada putranya, Zulian menganggukkan kepalanya karena memang dia melihat semuanya.
"Maaf nak, kamu harus melihat ini. Paman itu adalah pria yang seharusnya menikah dengan mamamu, dia datang karena belum bisa merelakan mamamu," ucap Afzriel Tan.
Sang istri hanya menangis di samping pria itu, dia tak tahu harus bagaimana menghadapi mantan pacarnya. Meski sebenarnya dia masih memiliki rasa pada pria itu. Tapi dia tak bisa mengungkapkannya.
Karena perjodohan keluarga dia terpaksa harus menikah dengan Afzriel Tan. Dan meninggalkan pria yang ternyata adalah pendiri keluarga Alexandra itu.
Sejak saat itu, Afzriel dan Alexandra saling bermusuhan, bukan hal mudah untuk keduanya saling memaafkan karena masalah yang semakin lama semakin membesar saja.
Afzriel Tan yang perlahan membangun perusahaannya, perlahan pula dia mengambil pasar saham di kota ini. Membuat perusahaan Alexandra mempunyai saingan berat. Keduanya saling bersaing dalam memenangkan tender bagi perusahaan masing-masing.
Di puncak masalah sebenarnya adalah ketika Afzriel Tan mengambil alih semua perusahaan Alexandra. Yang membuat pria itu kehilangan semua harta bendanya karena mengalami kekalahan dalam persaingan bisnis dengan Afzriel Tan.
Rasa kesal bercampur benci pada diri Alexandra membuatnya semakin ingin menghancurkan Afzriel Tan. Hingga saat itu dia menghilang entah kemana dan Afzriel Tan merasa lega karena tak akan ada yang mengganggunya lagi.
"Jadi kakek Alexandra sengaja membawa kesalahpahaman ini sampai ke cucunya pa?" tanya Andrew.
"Ya itu benar, sebelum kakekmu meninggal, dia pernah bercerita pada papa tentang dia bertemu kembali dengan Alexandra. Waktu itu kakekmu sangat merasa bersalah, dan dia takut jika semua itu akan membuat keluarga kita yang menanggungnya." Jelas Zulian Tan.
"Jadi karena alasan ini Robi Alexandra hampir mencelakai Zelia dan juga mengacaukan saham perusahaan," gumam Andrew membuat Zulian terkejut.
"Apa yang kamu katakan itu benar Ndrew?" tanya Zulian.
"Iya pa, tapi semua sudah Andrew bereskan, papa tenang saja."
"Papa percaya sama kamu Ndrew,jaga baik-baik istrimu. Papa akan mencari kelemahan keluarga itu."
"Makasih pa kalau begitu Andrew pamit pulang dulu, lain kali Andrew akan mampir lagi."
"Baiklah, hati-hati ya, pamit dulu sama mama kamu," pinta Zulian.
"Baik pa," Andrew pergi meninggalkan Zulian di ruang kerjanya. Pria itu mencari mamanya dan berpamitan untuk segera menemani istrinya.
"Andrew kapan-kapan bawa istri dan cucu-cucu mama ke rumah ini, mama kesepian di sini," pinta Ariana.
"Baik ma, nanti Andrew usahain. Sekarang kan waktunya kalian berdua bermesraan di rumah ini,kalau Arkan dan Alea disini nanti malah mengganggu kalian bagaimana?" goda Andrew pada mamanya.
"Kamu ini Ndrew, pandai sekali menggoda mamamu ya," ucap Ariana di iringi tawa kecil di bibirnya.
"Udah ah,Andrew pulang dulu ma," Andrew berhenti menggoda mamanya dan mencium punggung tangan wanita itu.
Setelah berpamitan Andrew segera menuju ke mobilnya. Rasa lelah bercampur aduk di tubuh pria itu, dia ingin segera merebahkan diri di ranjang lembut di temani sang istri tercinta,Zelia.