
Zelia menatap ketiga anaknya yang baru masuk ke dalam rumah dengan tatapan heran. Bagaimana tidak ketiganya bertingkah aneh satu sama lain.
Alea yang tampak baru saja menangis, Arkan yang juga menunjukkan wajah dinginnya serta Arya yang tampak kebingungan sama seperti mamanya saat ini.
"Alea," panggil Zelia namun bukannya mendengarkan panggilan mamanya, Alea berjalan terus ke kamarnya.
"Kakak,kenapa sih adek?" tanya Zelia pada Arkan.
"Biasa ma, ngambek!" balas Arkan.
"Ngambek karena kamu kak?" tanya Zelia lagi. Arkan mengangguk.
Zelia hanya bisa menghela napas panjang mendengar hal itu.
Malamnya mereka makan bersama di ruang makan. Zelia duduk di sebelah Andrew,Arya duduk di sebelah Arkan dan di kursi yang berhadapan dengan Zelia ada Alea.
Alea tampak tak minat untuk makan malam saat ini. Dia masih kesal dengan kakaknya. Andrew yang menyadari perubahan pada putrinya segera menanyakan hal itu pada Zelia. Lewat tatapan mata Zelia tahu apa yang sedang ingin di tanyakan oleh suaminya itu.
"Lagi ngambek sama kakaknya,"jawab Zelia sambil berbisik di telinga Andrew. Pria itu manggut-manggut seolah mengerti.
Acara makan malam mereka hening, hanya ada sesekali suara sendok dan piring yang saling beradu.
Usai makan malam Andrew ingin mengatakan sesuatu pada anak-anaknya.
"Ehem, papa mau menyampaikan sesuatu pada kalian!" ucap Andrew. Ketiga anaknya menatap serius ke arah papanya itu.
"Dua minggu ke depan bakal ada tamu spesial di rumah kita. Dia juga akan tinggal bersama kita selama dua minggu itu. Dan untuk besok papa mau Alea dan Arkan menjemputnya di bandara," pinta Andrew.
"Iya pa," jawab Arkan.
"Alea nggak mau pa kalau sama kak Arkan," ucap Alea sambil cemberut.
"Kenapa Alea?" tanya Andrew pura-pura tak tahu.
"Nggak mau ya nggak mau pa, biar kak Arkan aja yang jemput sendiri."
Alea hendak berdiri meninggalkan kursinya, namun dengan cepat Andrew menarik lengan Alea untuk duduk kembali.
"Yang jemput harus kamu Alea, kalau gak mau sama kak Arkan, kamu bisa sama sopir keluarga saja. Bagaimana?" tanya Andrew lagi.
"Emang siapa sih pa yang mau datang? Kenapa harus Alea yang menjemputnya?" tanya Alea penasaran.
"Udah pokoknya besok kamu yang jemput dia, kalau udah ketemu nanti juga tahu."
Alea hanya bisa mendesah berat mendengar keputusan papanya. Entah siapa yang akan bertamu di rumah mereka,sampai harus menjemputnya segala.
"Iya pa," jawab Alea.
"Pak Hardi, kita nunggu disini aja deh?" ucap Alea pada supirnya.
"Baik non," jawab pak Hardi yang tengah sibuk membentang kertas besar. Di sana tertulis nama pria yang akan Alea jemput. Tapi gadis itu bahkan enggan untuk melihat siapa nama di kertas yang di bawa supirnya.
Satu jam berlalu, Alea mulai bosan menunggu. Seharusnya orang yang dia jemput sudah tiba, tapi sampai sekarang belum juga menemukannya.
"Pak Har tunggu sini ya? Alea mau ke toilet sebentar," ucap Alea.
"Baik non."
Alea lalu pergi ke toilet di bandara itu, namun sebelum sampai di sana. Tubuh Alea hampir jatuh ke lantai karena seorang pria menabraknya.
Untung saja pria itu dengan cepat menangkap tubuh Alea agar tak jatuh.
"Ahhh!" teriak Alea saat tubuhnya hampir jatuh, tapi beberapa menit kemudian tak dia rasakan sakitnya. Alea sadar seseorang telah menopang tubuhnya.
Alea dan pria itu saling menatap, pria tampan yang sangat menggoda para gadis jika melihatnya.
"Udah puas ngelihat wajah saya?" tanya pria itu dengan rasa penuh percaya diri. Alea yang sadar masih dalam topangan pria itu segera berdiri sempurna.
"Siapa juga yang ngelihat wajah kamu, dasar aneh! Kamu juga yang salah udah nabrak aku!" ucap Alea jutek.
"Kamu aja yang jalan gak lihat-lihat!" pria itu tak mau kalah, dia juga bisa bersikap dingin.
"Ih udah salah ngotot lagi, dasar cowok aneh!" Alea mulai terpancing amarah.
"Jangan sampai ya aku ketemu lagi sama kamu!" imbuh Alea sambil berjalan meninggalkan pria itu.
"Aku juga gak mau ketemu cewek jutek kayak kamu lagi!" teriak pria itu dari jauh. Alea membalikkan wajahnya untuk memandang ke arah pria itu. Dengan ekspresi marah dan memelototkan kedua matanya.
Alea segera menuju ke toilet karena sudah tak bisa menahannya lagi. Dari pada meladeni pria aneh itu dia lebih baik segera pergi saja.
"Uh dasar pria aneh, udah salah gak mau minta maaf lagi!" gumam Alea saat berada di toilet.
Setelah beberapa menit dia harus kembali ke tempat pak Har berada.
"Pak Har gimana udah ketemu orangnya belum?" tanya Alea saat dia sampai di belakang sopirnya itu.
"Udah non ini orangnya," ucap pak Har sambil menunjuk ke arah pria di sebelahnya.
Alea dan pria itu saling menatap.
"Kamu!" ucap keduanya bersamaan. Keduanya sama-sama terkejut.