Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Kepergian Raffa


Waktu begitu cepat berlalu, tiga hari sudah berakhir sejak Raffa memberinya waktu untuk memikirkan pernyataan cintanya. Hari ini Alea harus memberi jawaban pada Raffa.


Setelah semalaman Alea tak bisa tidur memikirkan hal itu. Namun kini tak ada kabar dari Raffa.


Jika Alea ke apartemen atau perusahaannya, dia takut di bilang terlalu agresif. Tapi seharusnya Raffa menghubunginya saat ini.


"Kenapa dia tidak menghubungiku? Apa dia hanya main-main saja mengatakan perasaannya kemarin?" tanya Alea pada diri sendiri.


Tak berapa lama kemudian suara bel pintu rumahnya berbunyi. Alea segera melihat siapa tamu yang datang malam ini.


Alea keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu. Di sana ternyata Monic tengah menunggunya.


"Monic? Tumben ke sini gak ngabarin?" tanya Alea pada gadis itu.


Monic segera berdiri dan menarik tangan Alea agar duduk di sofa. Tak berapa lama kemudian bibi pembantunya mengantar minuman untuk Monic.


Setelah pembantu itu pergi Monic segera mengambil sesuatu dari tasnya. Dan memberikan sebuah kotak pada Alea.


Alea menjadi bingung kenapa tiba-tiba Monic memberikan kotak itu padanya.


"Apa ini?" tanya Alea.


"Buka saja, itu dari Raffa, aku nggak tahu isinya apa?" jawab Monic


Alea yang penasaran langsung membuka kotak itu.Di dalamnya terdapat sebuah foto pria itu dan sebuah gelang.


Serta sebuah surat yang di tulis oleh pria itu. Alea menjadi curiga kenapa Raffa tiba-tiba memberikannya surat. Bukankah dia bisa saja langsung ke rumahnya atau meneleponnya. Tapi kenapa pria itu tidak melakukannya. Bahkan mengirim kotak itu lewat Monic.


Perlahan Alea mengambil dan membuka lipatan kertas itu. Dia mulai membaca isi pesan yang di tulis oleh Raffa.


Alea maafkan aku, mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah berada di pesawat.


Alea bukan maksudku ingin menjadi pecundang dan meninggalkanmu. Tapi karena sesuatu hal aku harus kembali ke Inggris.


Alea aku selalu menunggumu untuk menjawab pernyataan cintaku. Aku berjanji takan segera kembali kepadamu.


Dan jika saat itu tiba aku ingin jawaban yang jujur darimu.


Aku mencintaimu Alea.


Raffa.


Tanpa terasa air matanya turun begitu saja membasahi kedua pipi Alea. Monic yang berada di sampingnya penasaran apa yang terjadi dengan Raffa sampai pria itu buru-buru kembali ke Inggris.


"Ada apa Alea?" tanya Monic.


"Aku pikir dia serius dengan perkataannya kemarin,tapi sekarang dia meninggalkanku tanpa berpamitan secara langsung Menurutmu orang seperti dia apakah pantas mendapatkan jawaban iya dariku. Apa dia pantas berada di hatiku?" tanya Alea melepaskan semua kekesalan di hatinya.


Monic paham apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.


"Tenanglah Alea mungkin saja Raffa mengalami hal sulit di sana. Jadi dia harus menyelesaikannya terlebih dahulu." Monic mencoba menghibur Alea agar gadis itu tak bersedih lagi.


"Jadi bagaimana perasaanmu sebenarnya pada kak Raffa?" tanya Monic saat melihat Alea sudah tenang.


"Aku- aku dan dia hanya sebatas kakak dan adik saja," jawab Alea, tapi Monic tahu bahwa gadis di depannya itu tidak berkata jujur.


"Benarkah? Kalau begitu bolehkan aku mendekatinya?" goda Monic. Wajah Alea langsung berubah setelah mendengar ucapan Monic.


"Sudahlah Alea, kamu tak perlu menutupi perasaanmu. Jika kamu suka, katakan sebenarnya. Lagi pula aku tak mungkin bisa bersamanya. Karena dia saudara sepupuku."


Monic menjelaskan posisinya. Dia tak mau Alea sampai membenci dirinya hanya karena berebut pria.


"Lagi pula aku sudah menjatuhkan pilihan pada pria lain."


Monic lalu pamit pergi setelah mengatakan hal itu. Alea tak sempat menanyakan pria lain itu siapa?


Sekarang yang ada dalam pikiran gadis itu adalah Raffa. Alasan apa sehingga pria itu meninggalkannya.


"Apa terjadi hal buruk pada keluarganya?" batin Alea menerka.


"Sebaiknya aku meneleponnya nanti, mungkin saja bisa terhubung," Alea mencoba menenangkan dirinya.


Dia harus berfikir positif dan percaya pada Raffa. Pria itu pasti akan baik-baik saja dan tak akan melupakannya.