
"Lo udah sembuh kan Kak? ". Tanya Mutia
"Lo siapa lagi sih?". tanya Putra
" Maksud nya apa? ". Tanya Mutia kebingungan
" Dia Lagi amnesia". bisik Lea
Mutia pun membulatkan mata nya dan langsung berlari mendekat seraya menggeser tubuh Sisil, Mutia langsung memeluk Putra begitu saja membuat semua nya terkejut begitupun dengan Putra yang sangat terkejut.
"Gue mohon, maafin gue ya Kak". lirih Mutia
Leon yang baru saja datang dan membuka pintu langsung terkejut saat melihat pemandangan di depan nya.
"Astaga!".
"eh emang nya kamu lihat hantu apa kaget segala". ujar Lea
"itu siapa yang lagi meluk Putra? mutia kah?" Tanya Leon yang terkejut
"Sejak kapan mereka berdua jadian? ". tanya leon lagi
"Lo Amnesia, tapi kalau di peluk sama cewek Lo diam aja ya". Sindir Leon yang langsung melemparkan bantal ke wajah putra
putra pun langsung melepaskan pelukan itu dan menatap dengan ekspresi terkejut ke arah Mutia, Lelaki itu lalu menatap dada nya dan kedua tangan nya langsung menyilang di depan dada.
"Lo udah nodain gue". Ujar Putra
"enggak Kak, Gue cuma merasa bersalah sama lo". jawab Mutia
"apa iya harus meluk gue kayak gitu? Emang ada masalah apa?". Tanya Putra yang berpura-pura santai, padahal hati nya kinj sedang berdebar debar dengan kencang.
"dihh Lo lagi deg-degan ya? ". ejek Satria
"Apaan sih Lo, pijitin Tangan Gue lagi Cepat!". Perintah Putra kepada Satria
"karena gara-gara gue, lo jadi ketimpa batang pohon yang besar kayak gitu". ujar Mutia
Nenek Asih yang baru datang langsung menghampiri dan menatap ke arah mutia.
Mutia pun langsung membulatkan mata nya dan melirik ke arah nenek Asih dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan.
"Tiara kan? Ehh.. salah orang, Maaf ya nak". Ujar Nenek Asih
Mutia pun menganggukan kepala nya dan menatap ke arah Putra lagi.
"sekali lagi, gue minta maaf ya. Gue bakal ngelakuin apa aja biar bisa balas budi sama Lo". Ujar Mutia menatap Putra
"Oh jadi Lo yang udah buat gue sampai kayak gini?". sahut Putra
"siapa nama Lo tadi? ". Tanya Putra yang masih saja berakting
"Mutia Kak". Jawab Mutia
"Lo harus jadi babu gue mulai sekarang! ". perintah Putra
Tiba tiba Dokter datang dan ingin memeriksa kondisi Putra, setelah itu semua nya langsung menatap ke arah Dokter tersebut.
"Apa benar dia akan amnesia selama nya Dok? ". tanya Lea
"Amnesia? apa dia belum mengingat kalian? saat ini dia sudah baik-baik saja". Jawab dokter tersebut
"Tapi dia enggak ingat sama sekali sama kita semua Dok". timpal Satria
dokter itupun melirik ke arah Satria dengan Tatapan yang sulit di artikan, lalu Putra mengedipkan salah satu mata nya, membuat dokter itu menggelengkan kepala dan langsung berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Woi! Lo tadi siapa nama nya? ". tanya Putra kepada lea
"Lea, kakak mau apa?". tanya Lea yang tersenyum manis
"Tolong dong, Lo taruhin bantal itu di punggung gue". pinta Putra
saat Lea ingin mendekat, tiba-tiba ia langsung di hadang oleh Leon dan lelaki itu langsung memeluk Lea dari belakang.
"enak aja lo, enggak bakal gue Biarin gitu aja ya".
"Dihh.. Lo siapa? Ngapain Lo peluk-peluk, jangan-jangan Lo cowok mesum ya? ". tuduh Putra
"Biar aku saja sayang". Ujar Leon yang mengambil bantal dan langsung menutup wajah Putra dengan kuat, membuat lelaki itu memberontak.
"Duhh maafin gue, gue kira itu punggung Lo, soal nya sama sama datar sih". Jawab Leon membuat Putra menatap tajam lelaki itu
"Lo Amnesia Atau enggak, tetap aja ya ngeselin". Timpal Satria
"Biarin aja gue yang akan bantu Lo kak Put". Ucap Mutia menawarkan diri
Sisil langsung menjukurkan kaki nya, hingga membuat mutia tersandung dan terjatuh tepat di atas tubuh putra.
Putra langsung membeku dan gugup, Mutia sendiri langsung bangkit dan melilrik tajam ke arah Sisil seraya mendorong nya dengan kuat.
"Maksud lo apaan hah?".
"Lo yang apaan??!! jangan bilang, lo ke sini cuma mau jadi mata-mata nya si Marsha yakan? habis lo gue buat! ". sungut Sisil
"enak aja lo bilang, gue ke sini karena gue merasa bersalah sama Kak Putra, dan Lo jangan terus cari keributan sama gue dong!!". Ketua Mutia
"Hello epribadehhh!! orang kayak Lo mana bisa tobat, Emang nya Lo bisa merasa bersalah??". Ujar Sisil menohok
Mutia ingin menampar pipi Sisil dengan kuat, namun langsung di tahan oleh nenek Asih untuk menghentikan pertengkaran di antara mereka berdua.
"biarkan Putra istirahat, Jangan membuat keributan di sini". ujar Nenek Asih
"ini nihh nek". Ujar Sisil menunjuk Mutia
Mutia menatap tajam ke arah Sisil, ia tidak terima, namun Lea langsung menarik tangan Sisil agar menjauh dari Mutia.
"Udah dong, kalian berdua enggak usah ribut-ribut mulu dan buat lo Sil, udah deh Biarin aja selagi dia nggak ganggu kita juga nggak papa kan".
"Kalian semua ini kenapa siih?? Gue lagi sakit malah ribut mulu! kalian pulang aja sana! ". Ketus Putra
"hei Lo bocah, tadi siapa nama nya?". tanya Putra kepada Cakra
" gue? gue Cakra temen lo yang paling ganteng Kak". sahut Cakra
"Lo suapin gue!". perintah Putra
"biar gue aja Kak". Ujar Mutia menawarkan diri
"nggak biar dia aja! ". sahut Putra
Cakra pun langsung mengambil makanan yang telah di sediakan untuk putra itu dan langsung menyendokan banyak sekali hingga sendok itu terlihat penuh yang membuat Putra kesusahan mengunyah dan juga kepanasan karena makanan itu baru saja di angkat dari atas kompor.
" Akhh.. panas panass". Ucap Putra
"Ah masa sih?". Tanya Cakra
"Gue Coba ya". cakra memasukkan bubur itu ke mulut nya hingga habis membuat putra membulatkan mata nya
namun yang lain hanya menahan tawa nya, sedangkan Nenek Asih hanya menggelengkan kepala nya.
"iya ya panas". ujar Cakra lagi
"itu makanan gue".
Putra pun langsung mengambil bantal dan melemparkan nya ke wajah cakra.
"Lah iya habis ini gimana dong? ". tanya cakra yang merasa tidak bersalah
"ya udah gue juga udah enggak minat buat makan itu lagi ". Ketus Putra
"Mending kalian semua pergi sana, gue mau sendiri!". usir Putra
"gue?". tanya Mutia
" Lo juga pulang sana, nanti kalau gue butuh Lo, gue hubungi lagi dan Lo harus tepat waktu datang ke sini!".
"Nenek juga pulang aja, enggak apa-apa Putra di sini sendirian aja". ujar Putra lagi
"Biarin nenek di sini aja ya". Pinta Nenek Asih
Putra pun langsung mengangkat kepala nya dan menatap ke arah mereka semua yang satu persatu telah pulang sambil Melambaikan tangan nya kepada Putra, Lalu Nenek Asih pun pamit keluar untuk membeli sesuatu.