
Di kegelapan Zelia tak mampu lagi menahan kedua tangan wanita yang mencekiknya. Rasa sesak benar-benar membuatnya perlahan kehilangan kesadaran.
Klak!
Suara saklar lampu terdengar, ruangan yang tadinya gelap gulita kini berubah sangat terang. Seorang pria berlari ke arah dua wanita di depannya.
Plak!
Pria itu menampar wajah wanita yang berdiri. Wanita yang tadinya tengah mencekik wanita yang satunya itu, akhirnya melepaskan kedua tangannya dari leher wanita di depannya.
"Kamu gila ya!" teriaknya. Pria itu mulai tersulut emosi ketika melihat sanderanya di perlakukan seperti itu.
"Ke-kenapa kamu menamparku?" tanya Liera. Ya wanita itu adalah Liera, dan pria yang menamparnya adalah Robi.
"Aku memang membantumu, tapi kamu tak berhak membunuhnya," ucap Robi. Dia lalu memeriksa denyut nadi Zelia. Untung saja wanita itu masih hidup hanya pingsan saja. Robi membelai lembut wajah Zelia yang menutup mata.
"Tapi Rob, aku sangat membencinya. Dia pantas mati!" ucap Liera kembali.
Plak.
Satu tamparan lagi mengenai wajah Liera. Wanita itu hanya bisa meringis menahan sakit.
"Ka- kamu?" ucapnya tak percaya. Demi seorang wanita bernama Zelia, pria didepannya telah menampar wajahnya untuk kedua kali.
"Kenapa? kamu pikir kamu siapa bisa mengaturku seenaknya," ucap Robi sambil memegang dagu Liera, membuat wanita itu harus mendongak menatap wajah Robi.
"Pantas saja jika Andrew tak memilihmu dan lebih memilih dia. Jika aku jadi dia, aku juga akan memilih Zelia. Dia lebih cantik dan lebih segalanya dari kamu. Bahkan dia bisa memberikan anak, bukan seperti dirimu!" ucap Robi. Membuat Liera seketika menangis, ucapan Robi benar-benar membuat hatinya terluka. Ternyata pria itu tahu jika Liera tak akan mungkin memiliki anak. Kedua tangannya mengepal sempurna. Dia semakin membenci Zelia.
Liera hendak menyerang kembali Zelia dengan memukulnya menggunakan kayu, namun Robi segera menangkapnya. Dan menghempaskan tubuh Liera ke tembok.
"Aaah!" Liera berteriak kesakitan.
"Sudah ku bilang jangan melukainya!" teriak Robi.
"Kalian ikat dia!" perintah Robi pada kedua pengawalnya yang tiba-tiba masuk karena mendengar sesuatu dari ruang itu.
"Baik tuan." Keduanya segera mengikat Liera. Wanita itu berusaha meronta.
Satu jam kemudian,Zelia mulai tersadar. Kini dia berada di sebuah kamar yang megah. Zelia segera bangun dan sedikit kebingungan.
"Dimana aku?" tanyanya pada diri sendiri.
Dia mencoba membuka pintu kamar itu namun tak bisa, sepertinya seseorang menguncinya dari luar. Zelia yang masih lemas karena mendapatkan perlakuan tak baik dari Liera tadi akhirnya hanya bisa terduduk di lantai.
Upayanya untuk membuka pintu tak bisa dia lakukan saat ini. Dia lalu mencoba mendekati jendela. Namun juga terkunci.
"Sial kenapa aku dikurung seperti ini! Siapa sebenarnya kalian?!" batin Zelia. Dia berharap semoga suaminya segera menemukan dia.
Zelia mencari ponselnya di saku bajunya, namun tak ada apapun di tubuhnya selain pakaian yang dia kenakan saat ini.
Suara pintu terbuka, Zelia melihat ke arah pintu. Untuk memastikan siapa yang datang ke kamar itu.
"Oh ternyata kamu sudah sadar," ucap Robi saat melihat Zelia yang berdiri tak jauh dari jendela. Pria itu bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh wanita di hadapannya.
"Kamu siapa?" tanya Zelia tak mengenali pria itu.
"Perkenalkan, aku Robi Alexandra. Pewaris utama keluarga Alexandra." Robi mengulurkan tangannya ke arah Zelia, namun wanita itu tak segera menerimanya.
"Robi?" tanya Zelia sedikit mengingat sesuatu.
"Ya aku Robi, apa kamu mengingatnya. Ketika kamu berusia tujuh tahun kita pernah bertemu," ucap Robi.
"Ka-kamu anak laki-laki itu?" tanya Zelia ketakutan sat mengingat tentang pria itu, Robi mengangguk.
"Ya kamu ternyata masih mengingatnya," Robi tersenyum tipis, sambil mendekati Zelia.
"Berhenti, jangan mendekat ke sini!" Zelia tampak ketakutan, kakinya bahkan tanpa sadar melangkah ke belakang hingga membentur dinding.
"Kenapa Zelia, kenapa kamu begitu ketakutan melihatku?" tanya Robi.
Zelia menggelengkan kepalanya, dia gemetar ketakutan saat Robi semakin dekat dengan dirinya. Ingatan tentang masa lalu silih berganti hadir di kepalanya.
"Ahh," teriak Zelia sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan wanita itu. Tubuhnya merosot perlahan ke lantai. Robi yang melihat itu hanya bisa menahan diri untuk tak lagi mendekati Zelia.Robi lalu meninggalkan Zelia di dalam kamar itu sendirian.