Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Penyelamatan


Seminggu setelah kejadian cium paksa yang di terima oleh Alea. Gadis itu berubah sangat dingin pada Raffa.


Tak ada percakapan apapun di antara keduanya. Raffa hanya sekedar mengantar dan menjemput Alea dari sekolah.


Hingga Andrew dan Zelia yang kembali dari luar negeri melihat keanehan di keduanya.


"Arkan, kenapa kakakmu diam banget sama Raffa?" tanya Zelia pada Arkan saat mereka di ruang keluarga.


"Arkan gak tahu ma, akhir-akhir ini Arkan sibuk les."


Jawaban putranya tak bisa membuat Zelia lega. Dia memang harus bertanya sendiri pada Alea nanti.


Tapi putrinya belum juga pulang malam ini. Pagi tadi dia pamit akan berkunjung ke rumah temannya.


Raffa kebetulan lewat di depan Zelia. Wanita itu lalu menghentikannya.


"Raffa, boleh tante bicara sebentar?" pinta Zelia.


"Boleh tante," jawab Raffa yang segera duduk di samping Zelia.


"Maaf ya Raffa, beberapa hari yang lalu membuat kamu kerepotan menjaga Alea."


"Tidak masalah kok tante. Bukan hal sulit."


"Oh ya Raffa kenapa ya Alea akhir-akhir ini agak pendiam?" tanya Zelia menyelidik.


Raffa tampak ragu untuk menjawabnya. Dia lalu menghela nafas dalam.


"Tidak terjadi apapun kok tante. Mungkin dia sedang lelah saja memikirkan pelajaran sekolah," jawab Raffa bohong.


"Begitu kah? Dasar gadis kecilku. Kau tahu Raffa dia sangat manja selama ini. Tapi setelah dewasa tante dan om Andrew jarang lagi memperhatikannya karena pekerjaan kami. Tante merasa bersalah sering meninggalkannya."


Ucapan wanita di depan Raffa itu membuatnya tersentuh. Raffa tak pernah mengerti selama ini ternyata Alea berusaha mandiri. Raffa juga tak tahu jika dia dulu sangat manja pada kedua orang tuanya.


"Ah maaf Raffa, tante jadi ngelantur ngomongnya. Oh ya kemana Alea sekarang? Apa kamu tahu?" tanya Zelia.


Raffa teringat terakhir kali dia mengantar Alea tadi ke salah satu rumah teman wanitanya. Gadis itu bilang dia akan belajar kelompok. Raffa tak menaruh curiga apapun.


"Dia ke rumah temennya tan, tapi belum menghubungi Raffa sampai sekarang. Raffa akan menjemputnya dulu tan."


"Maaf ya merepotkan kamu lagi "


"Santai aja tan," jawab Raffa sambil mengulas senyum di bibirnya.


Raffa lalu meraih kunci motor dan jaketnya. Dia akan menjemput Alea dari rumah temannya.


Tak butuh waktu lama untuk Raffa sampai di tempat yang dia tuju. Langkah kakinya membawa pria itu di depan pintu rumah teman Alea. Raffa segera mengetuk pintunya dan seseorang membuka pintu itu.


"Ya, cari siapa?" tanya seorang ibu muda.


"Saya kakaknya Alea tan, apa dia masih di sini?" tanya Raffa.


"Loh dia baru beberapa menit yang lalu pulang nak. Apa kalian tidak bertemu?" tanya ibu itu.


"Tidak. Dengan siapa dia pergi tan?" tanya Raffa lagi.


"Tadi dia di jemput cowok seumurannya."


"Seumuran dengan dia?" tanya Raffa dalam hati.


"Kalau begitu saya pamit dulu tan," ucap Raffa ingin segera mencari Alea. Dia tahu siapa yang menjemput gadis itu.


"Iya."


Raffa lalu pergi untuk menyusuri jalanan di sekitar tempat itu. Barang kali mereka masih di sekitar sana.


Hingga Raffa berhenti di tepi hutan, dia melihat motor milik Afo di biarkan di pinggir jalan. Namun pemiliknya tak berada di situ. Raffa menaruh curiga pada Afo. Dia lalu turun dari motornya. Dan berjalan masuk ke dalam hutan.


"Lepas! Jangan lakukan itu Afo!" teriak suara wanita tak jauh dari tempat Raffa berdiri sekarang. Dia kenal suara itu.


"Tolong!" teriak gadis itu lagi.


"Heh di sini gak ada orang Alea. Percuma kamu berteriak minta tolong," jawab Afo sambil mendekati tubuh Alea yang sudah tersungkur di tanah.


Suasana hutan yang hanya diterangi oleh sinar rembulan membuat Alea semakin ketakutan. Pasalnya dia tak menyangka bahwa Afo akan berbuat hal tak senonoh seperti ini.


"Jangan, aku mohon kamu jangan lakuin ini!" pinta Alea memelas.


Tapi Afo tak perduli. Dia semakin ingin melahap Alea. Dirinya sudah tak bisa mengendalikan keinginan untuk memiliki gadis itu sepenuhnya. Sudah lama dia merencanakan hal itu pada Alea.


"Ah!" Alea menjerit ketakutan karena Afo berhasil menangkap tubuhnya. Sekuat apapun dia berlari dan meronta tapi tenaganya tak sekuat pria itu.


"Tolong!" teriak Alea lagi. Hingga seseorang menarik Afo dari atas tubuh Alea. Pria itu memukulnya berkali-kali hingga Afo jatuh tak sadarkan diri.


"Kamu gak apa-apa? Maaf aku terlambat!" ucap Raffa, Alea mengenali suara pria itu. Dia lalu berhambur memeluk Raffa.


"Aku takut,aku takut sekali!" ucap Alea masih dengan tubuh gemetar.


"Udah tenang, ada aku. Ayo pulang!" ajak Raffa. Alea mengangguk dan Raffa menggendongnya di punggung. Pria itu tahu pasti Alea sangat ketakutan akan kejadian ini.


Setelah beberapa menit perjalanan menaiki motor. Tiba-tiba langit yang tadinya penuh bintang dan bulan seketika itu turun hujan lebat.


Raffa terpaksa berhenti di sebuah rumah kecil yang sepertinya tak berpenghuni.


"Sepertinya kita harus berhenti disini untuk berteduh sementara."


"Ya, makasih untuk yang tadi," ucap Alea.


Tampak baju gadis itu basah karena air hujan. Raffa lalu melepas jaketnya dan memakaikannya pada Alea. Gadis itu tersipu malu dengan perlakuan Raffa. Untungnya saat itu malam hari. Jadi Raffa tak mungkin melihat rona wajahnya.


"Setelah kejadian ini. Seharusnya kamu bisa lebih berhati-hati dengan pria itu bukan?" tanya Raffa.


"Aku tahu, tapi bisakah kamu tak memberitahu keluargaku tentang ini. Aku tak mau mereka khawatir."


"Tentu saja, tapi ada syaratnya?"


"Syarat? Apa itu?" tanya Alea.


"Jangan pernah dekat lagi dengan pria-pria itu. Dan kamu harus menuruti ucapan ku! Bagaimana?" tanya Raffa.


"Ya jika itu hal yang baik aku akan menurutimu!" jawab Alea.


"Bagus," Raffa tersenyum, menunjukkan giginya yang berderet rapi di sana. Wajahnya yang tampan masih terlihat meski di gelapnya malam. Sejenak Alea merasa jantungnya berdetak tak karuan saat berdekatan dengan pria itu.


Hawa dingin mulai menusuk tubuh keduanya. Hujan pun tak mau segera berhenti. Alea bahkan masih saja menggigil kedinginan.


Tiba-tiba Raffa memeluk tubuhnya dari belakang. Membuat Alea terkejut.


"Ah!"


"Maaf, aku gak mau kamu kedinginan jadi memelukmu!" ucap Raffa.


"Ya," jawab Alea semakin tersipu. Dia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Raffa. Serta detak jantung pria itu. Bahkan nafasnya begitu terasa di tengkuk Alea. Membuatnya sedikit bergidik karena merasa geli.


"Alea," untuk beberapa saat setelah mereka terdiam. Raffa mencoba mengajak bicara gadis itu lagi.


"Ya, kenapa?" ucap Alea dengan suara lirih.


"Bagaimana aku menurut pandanganmu?" tanya Raffa.


"Kamu seperti kak Arkan, menjaga adiknya dengan sangat baik," jawab Alea.


Raffa yang mendengar itu sedikit kecewa. Dia lalu melepas pelukannya.


"Apa aku salah?" tanya Alea bingung.


"Lihat aku," Raffa mendongakkan wajah Alea agar bisa memandangnya.


"Apa kamu menganggap ku seperti kakakmu sendiri?" tanya Raffa.


Alea mengangguk.


"Jika seperti ini?" Raffa mendekatkan bibirnya di bibir Alea. Gadis itu terkejut tapi tak bisa menghindarinya. Bibir Raffa terasa lembut saat menyentuh bibirnya. Sejenak Alea terlena akan ciuman itu.


"Apa kamu tak bisa merasakan sesuatu yang berbeda?" tanya Raffa setelah mencium Alea.


"A- aku," Alea tampak ragu menjawabnya.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Hujannya sudah berhenti," ucap Raffa, Alea tak menyadari bahwa hujan benar-benar sudah berhenti. Mereka akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Namun keduanya hanya terdiam di perjalanan. Berperang dengan pikiran mereka masing-masing.