Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Jeruji Besi


Merrie menatap dirinya di sebuah cermin dalam sebuah kamar miliknya, ingatan tentang beberapa jam yang lalu kembali berlalu lalang dalam pikirannya, wanita yang sudah memasuki usia hampir kepala empat itu meremas ujung rambutnya.


"Arrggh sialan kamu Argeil!" teriaknya tak kala mengingat perlakuan pria itu padanya akhir-akhir ini.


Setelah gagal mendapatkan harta keluarga Tan, Merrie telah dikhianati oleh Argeil, pria yang selama ini menjerumuskannya ke dalam kegelapan itu malah mempunyai perempuan lain lagi.


Pria yang selalu mendukungnya saat dia punya segalanya, tapi menginjaknya saat dia tak punya apapun seperti saat ini.


Kebencian wanita itu tak ada gunanya sekarang, apalagi penyesalan yang mencoba menyelusup di celah-celah hatinya,tak lagi berarti.


Semua sia-sia saat dirinya sendiri, tanpa suami dan tanpa anak seperti sekarang,keadaan wanita itu sudah tak karuan lagi,kecantikan yang dahulu terpancar di wajahnya tak lagi bersinar, hanya wajah frustasi terlihat di sana.


Merrie ingat tentang Liana, putrinya serta semua kesalahannya pada sang putri.


"Apa aku masih pantas mendapat maaf dari putriku?" batin Merrie bertanya-tanya saat mengingat kembali bagaimana sikapnya kepada Liana dahulu, putri yang dia lahirkan dari rahimnya sendiri, tapi tak pernah dia akui sampai saat ini.


Wanita itu berjalan keluar dari kamarnya karena mendengar suara ketukan pintu utama, tak butuh waktu lama dia sudah berada di ambang pintu tersebut.


Ketika di buka, dua orang berseragam polisi dan juga dua orang berseragam seperti pegawai bank berdiri di depannya.


"A-ada apa ya?" tanya Merrie heran.


"Maaf apa anda ibu Merrie?" tanya salah satu dari mereka.


"Benar saya Merrie, ini kenapa ya?" tanyanya lagi.


"Maaf bu, rumah ini harus kami sita, dan ibu juga harus ikut kami ke kantor polisi karena kasus penggelapan dana perusahaan keluarga Tan," ucapnya.


"Apa! saya gak salah pak, jangan lakukan ini!" Merrie memberontak dari cengkraman kedua polisi yang mulai menyeretnya ke mobil mereka.


Sedangkan kedua pegawai bank tadi menyegel rumah miliknya, rumah yang secara pribadi dia beli dengan uang dari keluarga Tan,tanpa seorang pun tahu dari keluarga itu,hanya satu orang yang tahu ya itu Argeil.


"Argeil brengsek, ini pasti ulah kamu!" maki Merrie dalam hati.


Dia kini harus mendekam dalam jeruji besi bersama para napi wanita yang lainnya, dia menangis menyesali semua yang pernah dia lakukan dahulu.


Seberapapun dia menyangkal bahwa bukan hanya dirinya sendiri yang terlibat tapi tanpa bukti dia tak bisa menyeret Argeil ke kantor polisi bersamanya.


"Dasar pria licik, aku akan membalasmu suatu saat nanti!" batin Merrie.


Satu minggu berlalu dari penangkapannya, tak seorangpun datang menjenguk selama seminggu itu pula.


"Haha siapa yang akan peduli dengan wanita jahat sepertiku," gumamnya, Merrie tersenyum sendiri jika mengingat betapa mengenaskan hidupnya saat ini, tanpa siapapun yang mau sekedar menyapanya.


"Ibu Merrie, silahkan keluar, ada yang menjenguk anda," di seka-sela lamunannya terdengar suara petugas sedang mengatakan itu sambil membuka kunci jeruji besi di depannya.


Merrie mengikuti petugas itu keluar ke tempat para pengunjung menunggu.


Merrie tak tahu siapa yang datang, dia terkejut saat melihat siapa yang sedang menunggunya.


"Liana?" panggilnya.


"Mama," Liana bangkit dari kursi dimana dia duduk menunggu, kemudian dia memeluk tubuh mamanya.


Tanpa ada perlawanan atau penolakan Merrie menerimanya, dia merasakan hangatnya pelukan sang putri yang selama ini dia abaikan.


"Ya mama baik-baik saja, kamu tak membenci mama lagi?" tanya Merrie hati-hati.


"Liana gak pernah benci sama mama, memang dulu Liana sempat kecewa sama mama, tapi itu dulu, sekarang hanya mama yang Liana punya, Liana gak mau mama juga pergi ninggalin Liana sendiri," ucap Liana sambil menitikan air mata dari kedua matanya.


Dia terharu bisa memeluk mamanya, meski saat ini keadaan keduanya terpisah.


"Maafin mama Liana, mama banyak salah sama kamu dan juga papamu, maafin mama," ucap Merrie meminta ampun pada putrinya.


"Iya ma, Liana juga minta maaf belum bisa bebasin mama," ucap Liana, Merrie menggelengkan kepalanya.


"Biarkan mama di sini, ini memang kesalahan mama, tapi kamu harus hati-hati dengan Argeil, dia bisa saja mengancam nyawamu," peringatan Merrie di dengar oleh Liana dengan baik.


"Iya ma, Liana akan menjaga diri Liana, dan juga Liana akan sering jenguk mama disini," ucap Liana.


Karena waktu jenguk hanya dua puluh menit, maka Merrie harus kembali.


"Iya Liana mama akan menunggumu," balas Merrie sebelum dia kembali ke jeruji besi.


Liana hanya mampu menatap punggung mamanya yang mulai menjauh,dirinya masih rindu ingin lebih lama bersama wanita itu, tapi keadaan tak memungkinkan keduanya.


Usai menjenguk mamanya dia memutuskan untuk menemui seseorang yang bisa membantunya menangkap Argeil agar hukuman untuk mamanya dapat lebih ringan atau setidaknya ada sedikit keadilan bagi mamanya itu.


Liana sampai di sebuah rumah megah yang pernah dia datangi sebelumnya,gadis itu pergi menemui Afzriel Tan.


"Maaf apa anda mencari tuan besar?" tanya Flo yang kebetulan melihat Liana sedang berdiri di gerbang rumah itu.


"Iya,apakah kakek ada di rumah?" tanya Liana.


"Ada silahkan masuk, saya akan menyampaikannya kepada tuan besar," ucap Flo sambil membuka pintu gerbang, dia lalu berjalan ke rumah menuju ke ruang kerja tuannya, di ikuti oleh Liana di belakangnya.


"Tuan ada nona Liana ingin bertemu anda?" ucapnya setelah mengetuk pintu ruangan itu.


"Biarkan dia masuk!" balas Afzriel Tan.


Flo mempersilahkan Liana untuk masuk ke dalam ruang kerja Afzriel Tan, dia juga ikut masuk ke dalam menemani tuannya.


Liana memberi salam kepada Afzriel Tan, dia lalu di persilahkan duduk olehnya.


"Ada apa Liana kamu sampai datang kemari?" tanya Afzriel Tan.


"Sebenarnya Liana ingin meminta bantuan kepada kakek untuk menjebloskan Argeil ke penjara, dia sudah menjebak mama selama ini," pinta Liana.


"Kami tenang saja, aku tahu kapan akan menyeretnya ke penjara juga, tapi apa kamu baik-baik saja masih berhubungan dengan Merrie?" tanya Afzriel Tan meragukan ketulusan Merrie mau menerima Liana, dia takut bahwa wanita itu memanfaatkan kepolosan Liana untuk menjadikannya alat balas dendam kepada keluarga Tan.


"Bagaimanapun dia adalah mamaku kek, tak ada alasan lain selain karena kami sedarah, dan terlebih hanya mama yang aku punya, aku akan membantunya berubah menjadi lebih baik lagi," jelas Liana, Afzriel Tan mengangguk tanda dia bisa memahami bagaimana posisi Liana saat ini.


"Baiklah aku percaya padamu," ucap pria paruh baya itu pada Liana.


"Makasih kek," Liana tak tahu apa rencana Afzriel Tan untuk menjebloskan Argeil ke penjara, tapi dia yakin bahwa kakek itu pasti bisa melakukannya.


Setelah selesai dengan tujuan Liana ke rumah itu, dia lalu kembali ke rumahnya sendiri.