
Mentari pagi mulai menyeruak, sinarnya perlahan menyilaukan mata penghuni kamar itu.
Pelan-pelan dia membuka mata, hanya atap kamar yang kini terlihat di matanya.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Alea lalu berlari ke arah tempat sampah dimana semalam dia melemparkan bonekanya ke sana.
Alea mengorek tempat sampah itu hingga menemukan boneka dari Raffa.
Dia lalu berfikir kenapa harus memungutnya kembali,setelah mengingat pria itu yang baginya begitu mengesalkan.
Alea lalu bangkit dan segera bersiap untuk ke sekolah, dia mengabaikan boneka itu untuk sementara menaruhnya di ranjang.
Bel listrik berbunyi saat Alea tiba di sekolah. Kakinya melangkah terburu-buru agar segera tiba di kelas. Namun sayangnya dia tak hati-hati hingga menabrak seseorang.
Bruk.
Keduanya jatuh dan Alea menindih tubuh pria itu. Keduanya saling merasa kesakitan.
"Maaf aku gak sengaja," ucap Alea setelah dia bangkit dari tubuh pria itu. Alea merasa bersalah telah menabraknya.
"Punya mata gak sih kamu!" pria itu malah berteriak sambil menatap tajam mata Alea. Sebelum dia pergi meninggalkan gadis itu.
"Iya sih marah,tapi kan aku gak sengaja," gumam Alea sambil berjalan ke kelasnya. Untung saja tadi tak ada yang melihat dia menabrak pria itu.
Di dalam kelas dia sempat memikirkan pria itu, sepertinya Alea belum pernah melihat dia sebelumnya.
"Alea, katanya di kelas kita bakal ada murid pindahan. Dia cakep loh!" ucap Monic antusias di sampingnya. Alea tak menghiraukan ucapan gadis itu.
"Bukannya udah punya Raffa ya? masih aja genit sama cowok lain!" batin Alea kesal jika mengingat kedekatan Monic dan Raffa.
Beberapa menit kemudian, guru mereka datang. Suaranya terdengar nyaring menenangkan para siswa di kelas yang sedang ribut berbicara dengan siswa lainnya.
Setelah suasana kelas tenang, guru itu mempersilahkan masuk seseorang.
Semua mata menatap ke arah pintu di kelas itu. Pria tampan dengan lesung pipi di salah satu pipinya.
Senyumannya begitu manis. Tapi sorot matanya begitu tajam jika bertatap mata dengannya. Satu kata bagi para gadis adalah pria itu tampan.
"Hah dia lagi!" gumam Alea.
"Kamu kenal dia?" tanya Monic.
Alea menggelengkan kepalanya untuk menjawab Monic.
Dia memang tak mengenal pria itu, hanya kebetulan tadi tak sengaja menabraknya.
"Anak-anak perkenalkan ini adalah siswa baru. Dia pindahan dari sekolah lain. Silahkan perkenalkan dirimu dahulu," ucap guru itu.
"Baik bu," jawab pria itu.
"Hai semua, perkenalkan nama saya Reihan. Kalian bisa memanggil Rei."
"Hai Rei, selamat datang" sapa para siswa lainnya.
Bagi para gadis di kelas itu hampir semuanya terpesona dengan ketampanannya. Kecuali Alea, yang tak terlalu perduli dengan pria itu.
"Baiklah kamu bisa duduk di sana, masih ada satu bangku kosong!" perintah sang guru.
"Baik bu," Rei berjalan ke arah bangku tepat di belakang Alea.
Gadis itu sibuk dengan pulpennya yang sedang dia mainkan di atas kertas. Rei memperhatikannya.Dia ingat siapa gadis itu.
"Jadi di sini kelasmu," batin Rei sambil tersenyum.
Lalu mereka semua fokus ke guru yang mulai menerangkan pelajaran hari itu. Hanya perlu beberapa jam saja, tiba mereka untuk break.
Para gadis di kelas Alea segera berebut untuk berkenalan dengan Rei. Termasuk Monic. Dia gadis pertama yang mencoba mendekati Rei. Sedangkan Alea lebih memilih segera bangkit dari bangkunya dan pergi ke kantin.Dia hendak makan siang bersama kakaknya.
Di kantin Arkan sudah menunggu Alea, pria itu bersama dengan dua teman sekelasnya. Satu perempuan dan satu laki-laki.
"Alea cepetan!" teriak Arkan.
Alea segera mendekati kakaknya itu. Dan ikut bergabung dengan mereka.
"Makasih kak," jawab Alea sambil sedikit cemberut.
"Tumbenan tuh pipi mengembung Lea?" tanya Laras teman sekelas Arkan yang sudah sangat mengenal Alea.
"Iya ya, patah hati lagi apa?" tanya Falo. Pacar Laras, mereka satu kelas.
"Tuh ada anak baru ngeselin banget di kelasku kak, baru ketemu aja aku gak sengaja nabrak dia. Eh malah dia marah-marah sama aku!" jawab Alea sambil mengaduk gelas berisi jus lemon di depannya dengan gerak kasar.
Ketiganya saling memandang mendengar jawaban dari Alea. Setelah itu ketiganya tertawa terbahak-bahak.
Alea menjadi bingung karena respon ketiganya sangat aneh.
"Kok malah ketawa sih kalian ini!" protes Alea.
"Gimana nggak ketawa coba, baru kali ini loh ada yang buat kesal kamu pas baru pertama ketemu!" jawab Arkan.
"Tuh kan kalian malah mengejekku, balik ke kelas aja deh!" Alea merajuk. Arkan segera menarik tangannya sebelum tuan putri itu pergi meninggalkan mereka.
"Udah duduk, makan dulu biar ada energi buat marah nanti!" pinta Arkan.
Alea menuruti ucapan kakaknya, karena kebetulan juga perutnya sangat lapar siang itu.
Rei yang menyadari bahwa Alea tak berada di kelas segera menelusup diantara sekumpulan gadis yang memperebutkannya. Rei sudah terbiasa dengan situasi macam itu. Tapi dia lebih penasaran dengan gadis yang telah menabraknya tadi.
Bahkan gadis itu tak tertarik berkenalan dengannya. Rei ingin tahu siapa nama gadis itu.
Meski dia masih kesal karena kejadian tadi pagi yang membuat punggungnya sedikit sakit karena menahan beban tubuh gadis itu.
"Kemana dia?" batin Rei mencari keberadaan Alea.
Dia lalu keluar dari kelas itu meninggalkan para gadis yang sedang antri berkenalan dengannya.
Rei yang belum paham denah sekolah itu hanya bisa menyusuri tempat yang lebih ramai dari kelas mereka.
Langkah kaki pria itu membawanya ke arah kantin sekolah. Di sana dia melihat Alea yang tengah asik makan bersama dengan tiga orang yang tak Rei kenal.
Rei melangkah mendekati mereka. Dia memesan minuman terlebih dahulu,dan duduk di kursi tak jauh dari mereka. Tepatnya di belakang Alea duduk.
Rei bahkan mendengar cerita gadis itu. Menceritakan tentang pria yang ditabraknya pagi tadi. Rei paham siapa yang dia maksud.
Pria itu hanya bisa menahan kesal, karena Alea menganggap dirinya sombong.
Di pikiran Rei jelas-jelas Alea yang salah. Tapi gadis itu malah menjelek-jelekkannya didepan teman-temannya.
"Dasar gadis aneh, awas saja nanti kalau ketemu di kelas!" batin Rei.
"Udah deh Alea, jangan terlalu benci sama orang itu. Nanti kamu malah jadi suka gimana?" tanya Laras pada Alea.
"Gak akan deh kak aku suka sama dia!" ucap Alea yakin.
Laras hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar adik dari temannya itu berbicara.
"Jangan gitu dek, benci dan cinta itu beda tipis aja, awas kemakan omongan sendiri loh!" peringat Arkan.
"Kok kakak malah bilang gitu sih, emang rela adik paling cantikmu ini dapat cowok kayak gitu. Ogah banget deh!" ucap Alea kesal.
"Iya deh, ampun kakak gak akan bilang gitu lagi. Yang penting tuan putri senang!" ucap Arkan menenangkan adiknya.
Perbincangan mereka akhirnya harus selesai, setelah bel masuk tanda istirahat berakhir telah berbunyi. Alea dan yang lain kembali ke kelas mereka masing-masing.
Di ikuti Rei dari belakang gadis itu. Saat tiba di depan pintu kelas. Rei sengaja menyenggol lengan Alea aat masuk ke dalam kelas.
Alea terkejut, untung saja keseimbangannya bisa terkendali. Hingga dia tak terjatuh.
"Heh kamu jalan pakai mata gak sih?" tanya Alea. Rei hanya menatap angkuh pada gadis itu.
"Kamu menghalangi jalanku!" ucapnya.
Kedua tangan Alea sudah mengepal, dia hendak memukul wajah pria itu. Jika saja guru mereka belum datang di belakangnya.
"Sial!" batin Alea, sambil menatap tajam pada Rei. Pria itu malah membalasnya dengan senyum angkuhnya lagi.