Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Pergi ke Butik


"Silahkan di minum mah, pah!"seru Alina seraya tangannya menyimpan dua buah gelas berisi air putih di sebuah meja.


"Jadi ngerepotin."sahut Lisa sambil tersenyum ramah.


"Enggak ko mah sama sekali nggak ngerepotin."balas Alina sambil tersenyum juga.


"Sini duduk di samping Mama!"pinta Lisa dengan tangan menepuk lembut sofa di sampingnya.


Alina mengangguk, dan mulai berjalan sedikit untuk bisa duduk di samping sang Mama mertua.


"Jadi kedatangan Mama, dan papa kesini itu untuk mengajak kalian ke butik untuk mencari baju untuk kalian pakai ke acara pesta nanti malam."Lisa mulai memberi tahu maksud kedatangannya kesana.


"Kami nggak akan pergi mah."sahut Abian yang berjalan dari arah dapur.


Lisa menatap sang putra sampai Abian ikut duduk di sofa bersama mereka.


"Maksud kamu, kamu nggak akan pergi?"tanya Seno memastikan.


"Yaps.. aku nggak akan pergi ke acara itu, begitupun juga dengan Alina."jawab Abian seraya matanya menatap wajah sang istri.


"Ya nggak bisa gitu dong Abi, kamu harus datang mewakili perusahaan kita."Seno mencoba memberi penjelasan.


"Kenapa harus aku? Kenapa nggak Mama, dan papah aja yang datang ke acara itu."jawab Abian nggak mau kalah.


"Kamu tahu kan Mama, sama papah nggak pernah suka dengan namanya pesta."Seno memberi tahu alasan dirinya tidak bisa datang.


"Ya udah, kalau gitu nggak usah ada yang pergi aja ke acara itu beres kan."lagi-lagi Abian bersikeras untuk tidak datang ke acara pesta kantor Devan.


"Pokoknya papah nggak mau tahu, kamu harus datang ke acara pesta Yogaswara untuk mewakili perusahaan kita."


"Tapi pah."sela Abian.


"Suka atau tidak suka itu sudah menjadi keputusan papah."sambung Seno menegaskan yang membuat Abian tidak bisa menolaknya lagi.


Sedangkan Lisa, dan Alina hanya bisa menyimak percakapan antara putra dan ayah itu.


"Ya sudah sekarang kalian siap-siap untuk pergi ke butik!"pinta Seno yang di barengi anggukan Lisa.


"Kamu siap-siap ya!"ucap Lisa pada Alina yang di jawab anggukan oleh Alina.


Alina berjalan menuju kamarnya, sedangkan Abian tampak memasang wajah kesalnya.


"Ayo kamu juga siap-siap sana!"pinta Seno.


Abian tidak menjawab dia beranjak dari duduknya dengan lesu menuju kamarnya.


Kini Seno, Lisa, Abian, dan Alina sudah berada di dalam sebuah mobil yang sama untuk pergi menuju sebuah butik.


Seno, dan Lisa duduk di jok depan mobil sedangkan Alina, dan Abian duduk di jok belakang.


"Kamu pasti seneng kan, karena bisa pergi ke acara pesta itu."ucap Abian pelan, namun bisa di dengar oleh Alina.


"Apaan sih sotoy banget jadi orang."sergah Alina kesal.


Kini mobil yang mereka tumpangi telah tiba di tempat yang di tuju.


Seno, Lisa, dan Abian mulai menuruni mobil begitupun juga dengan Alina yang ikut turun dari mobil papah mertuanya itu.


"Ayo Alina!"ajak Lisa seraya tangannya menggandeng tangan menantunya itu.


Alina mengangguk sambil tersenyum manis.


Lisa, dan Alina jalan di depan. Sedangkan Abian, dan Seno mengekor di belakang.


Ini kan butik.. suara hati Alina dengan kaki yang terus berjalan memasuki butik itu.


"Alina kamu boleh memilih baju apa saja yang kamu suka ok!"ucap Lisa sambil tersenyum manis.


Alina hanya mengangguk sambil tersenyum juga. "Ca.. Caca!"panggil Lisa pada salah satu karyawannya.


"Ca, tolong kamu ajak menantu saya melihat semua baju-baju disini ya!"pinta Lisa pada Caca.


Caca mengangguk sambil tersenyum. "Baik Bu."


Tuh kan bener ini butik tempat Caca bekerja. suara hati Alina seraya berdiri membelakangi Lisa, dan juga Caca sahabatnya itu.


Lisa berjalan meninggalkan Alina untuk menuju ke ruangan kerjanya.


"Mari mbak saya antar untuk melihat baju-baju bagus disini."ucap Caca seraya mulai berjalan untuk menghampiri Alina.


Namun, Alina masih saja membelakangi sahabatnya itu yang membuat Caca sedikit curiga.


"Mbak mari!"kembali Caca mengajak Alina untuk melihat-lihat baju disana.


"Hemm!"jawab Alina singkat yang membuat Caca semakin curiga.


Akhirnya Caca memberanikan diri untuk melihat wajah sang menantu bosnya itu, dengan menarik lembut bahu wanita di hadapannya saat ini.


"Alina!"ucap Caca saat dia berhasil melihat wajah menantu bosnya itu.


"He..Hay..!"sapa Alina mengangkat tangannya sambil nyengir.


Caca hanya bisa mengerjap dengan mulut terbuka. "Sumpah demi apa? ternyata Lo adalah menantu Bu Lisa pemilik butik ini."ucap Caca yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui.


"Dan bukan cuma itu aja, Lo juga jadi istri seorang pak Abian yang tampannya nggak ketulungan."timpal Caca yang kini tengah duduk di sebuah kursi yang ada di butik itu bersama Alina.


Mendengar itu Alina hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Al ajarin gue dong gimana caranya supaya bisa menikah dengan cowok setampan dan setajir pak Abian. Ayo dong Al kasih tahu caranya."Caca merengek sambil mengguncang-guncang tangan Alina.


"Ih Caca apaan sih."sahut Alina.


Wajah Caca manyun. "Lo beruntung tahu nggak sih Al bisa menikah sama cowok setampan, dan setajir pak Abian."lirih Caca masih dengan wajah manyunnya.


"Caca tidak semua kebahagiaan itu di nilai dari kekayaan atau harta."jawab Alina mencoba menjelaskan.


"Kau tahu aku menikah sama Abian karena terpaksa."tutur Alina yang menarik perhatian sahabatnya itu.


"Apa terpaksa? maksudnya gimana?"tanya Caca yang mulai penasaran dengan ucapan sahabatnya itu.


Akhirnya Alina menceritakan semuanya pada Caca, bagaimana dia bisa sampai menjadi istri sekaligus menantu dari pak Seno yang cukup kaya di kota itu.


Lagi-lagi Caca tidak percaya dengan semua yang ceritakan sahabatnya itu.


"Dan kamu tahu Ca, nikah sama orang yang sama sekali tidak kita cintai, jangankan kita cintai kenal juga nggak itu rasanya nggak enak."ungkap Alina mengeluarkan isi hatinya.


Mendengar itu Caca menjadi prihatin dengan nasib sahabatnya itu. "Maafin aku ya Al, aku pikir jalan kehidupan kamu nggak serumit itu."lirih Caca sambil merangkul bahu sahabatnya itu.


Alina hanya bisa tersenyum. " Ya udah yuk gue anterin Lo lihat-lihat baju disini. Lo kesini mau lihat-lihat baju kan."ucap Caca sambil mengusap kasar air bening yang ada di sudut matanya.


Alina hanya mengangguk sambil beranjak dari duduknya.


Kedua sahabat itu mulai melihat-lihat semua baju yang ada disana.


Caca juga membantu Alina mencarikan sebuah baju yang cocok untuk sahabatnya itu.


Setelah dirasa semua beres akhirnya keluarga Narendra memutuskan untuk pulang dari butik itu.


Lisa berjalan berdampingan bersama Seno, sedangkan Alina berjalan berdampingan bersama Abian di belakang Lisa, dan Seno.


Tanpa di sadari tangan Abian merangkul pundak Alina dari belakang sambil berjalan keluar dari butik itu.


Melihat perlakuan Abian pada Alina, mengubah cara pandang Caca tentang semua cerita Alina tadi.


"Aku yakin pak Abian tidak lama lagi akan mencintai kamu Al."gumam Caca seraya matanya menatap Alina, dan Abian yang mulai menjauh dari pandangannya.