Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Anak Ketiga


Liera tengah bersembunyi di rumahnya saat ini. Dia sudah tahu bahwa Robi telah tertangkap dan para polisi tengah mengejarnya.


Rumah kosong yang pernah dia beli dahulu saat masih bekerja. Di rumah itu tak banyak yang tahu jika dia di sana.


Niatan Liera untuk sembunyi beberapa bulan di sana harus gagal. Karena saat ini di luar rumah itu sudah ada beberapa polisi yang siap menangkapnya.


Dari balik jendela kaca, Liera melihat keadaan di luar rumah. Ada empat polisi yang berjaga di luar. Salah satunya bersiap mengetuk pintu. Tentu saja Liera tak akan membukanya.


Tapi polisi itu mulai mendobrak pintu rumah miliknya. Liera yang panik akhirnya meloncat dari jendela yang tak di jaga oleh para polisi.


Untungnya jendela itu tak begitu tinggi, jadi Liera dengan mudah bisa lolos dari rumah itu.


Sayangnya salah satu polisi melihat Liera yang berlari menjauh dari mereka.


"Itu dia! cepat tangkap!" perintah polisi itu saat melihat Liera.


Liera semakin kencang untuk berlari, begitu juga para polisi itu sudah memberikan peringatan padanya lewat pistol yang mereka gunakan.


"Sial, kenapa mereka bisa tahu sih!" gumam Liera sambil terengah-engah mengatur nafasnya.


"Berhenti atau kami tembak!" salah satu polisi memperingatinya. Namun Liera tak mau berhenti. Jika berhenti sama saja dia akan masuk ke dalam penjara lagi. Tapi kedua kakinya sudah hampir mati rasa karena berlari dari tadi.


Doooor!


Suara tembakan yang begitu keras, dan suara Liera yang tersungkur ke tanah.


"Ah sakit!" Liera kesakitan saat salah satu kakinya terkena tembakan. Hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.


Setelah melakukan pengobatan untuk kakinya,Liera di bawa oleh pihak kepolisian ke dalam jeruji besi. Wanita itu tampak meringis kesakitan menahan nyeri di kaki kanannya.


Di bantu oleh polisi wanita, Liera di papah berjalan ke ruang tahanannya. Sebelum sampai di ruang tahanan itu, Liera tak sengaja melihat Robi. Begitu pula pria itu yang melihat Liera.


"Robi? Ini semua salahmu!" ucap Liera sambil menunjuk ke arah Robi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Dasar wanita jalang, bisanya hanya menyalahkan orang lain saja, kamu juga terlibat kan?" ucap Robi sengit. Keduanya tampak saling menahan amarah.


"Sudah-sudah jangan bertengkar disini, cepat kamu jalan!" teriak polisi wanita yang memapah Liera.


Wanita itu hanya bisa mendengus kesal saat ini. Akhirnya dia harus mendekam lagi di dalam jeruji besi untuk beberapa tahun lagi.


*****


Delapan bulan berlalu. Kini Zelia tengah menantikan kelahiran anak ketiganya.


Siang ini rencananya dia ingin berkunjung ke rumah James. Kakaknya itu sedang mengadakan syukuran atas kehamilan Liana yang sudah memasuki usia enam bulan. Sebagai rasa syukur James mengundang para anggota keluarga untuk makan bersama di rumahnya.


"Arkan, Alea kalian sudah siap belum?" tanya Zelia pada kedua anaknya.


Andrew menghampiri ketiganya dan membantu Zelia berjalan. Dengan perutnya yang sudah membesar, Zelia sedikit kesulitan saat bergerak.


"Ayo kita berangkat ke rumah paman kalian!" ajak Andrew pada anak-anaknya.


"Iya pa," jawab keduanya.


Keempatnya segera menuju ke rumah James. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sana.


James menyapa mereka dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


"Aduh!" Zelia meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Zelia kenapa?" tanya Andrew khawatir.


"Perutku sakit Ndrew," jawab Zelia sambil menarik nafasnya.


Beberapa orang yang sudah tiba terlebih dahulu di sana menoleh ke arah Zelia.


"Apa sudah waktunya lahiran Ndrew?" tanya mommy pada menantunya itu.


"Seharusnya memang minggu ini ma," jawab Andrew yang sudah bersiap untuk kelahiran anak ketiganya, bahkan waktu kapan anaknya akan lahir dia sudah sangat hafal.


Zelia semakin kesakitan. Andrew akhirnya membopong Zelia ke dalam mobil kembali.


"Ma titip Arkan dan Alea ya, Andrew akan membawa Zelia ke rumah sakit sekarang!" pinta Andrew.


"Iya Ndrew kamu tenang saja!" jawab mommy.


Andrew segera membawa Zelia ke rumah sakit, di belakang mobilnya mommy dan dady juga mengikuti mereka sambil membawa Arkan dan Alea. Untuk Liana hanya di rumah saja karena dia tak boleh terlalu kecapekan oleh dokter.


Sesampainya di rumah sakit,Zelia segera mendapatkan penanganan oleh dokter di sana. Di ruang bersalin Zelia meminta Andrew untuk menemaninya. Kali ini Zelia ingin melahirkan secara normal,bukan lagi operasi seperti dahulu.


"Ndrew, sakit banget!" ucap Zelia sambil memegang tangan suaminya erat-erat.


"Sabar sayang semuanya pasti akan baik-baik saja," jawab Andrew yang merasa ngilu melihat Zelia yang menahan sakit.


Pembukaan sudah mendekati sempurna, Zelia akhirnya hampir menyelesaikan tugasnya. Dengan sekuat tenaga wanita itu mengejan sesuai perintah sang dokter. Zelia bahkan tak sedikitpun melepaskan tangannya dari Andrew.


"Oeeek oeeek," tangisan bayi terdengar begitu kencangnya di imbangi oleh helaan nafas dari Andrew. Zelia juga merasa lega akhirnya bisa melahirkan secara normal.


"Sayang anak kita sudah lahir, baby boy sayang," ucap Andrew bahagia.


"Syukurlah sayang," jawab Zelia.


Setelah proses persalinan selesai, anak ketiga Andrew di bawa ke ruang bayi. Kedua orang tua Zelia merasa lega atas kelahiran cucu ketiga mereka. Begitu pula dengan Alea dan Arkan.