
Zelia tengah sibuk berada di panti asuhan, seperti biasanya dia selalu ke tempat itu setiap ada kesempatan. Tak ada yang menemani wanita itu, dia memilih sendiri pergi ke sana.
Arkan dan Alea sedang belajar di sekolah mereka. Keduanya sudah didaftarkan oleh Zelia ke sekolah favorit dengan keamanan yang baik.
Dua jam berlalu sejak wanita itu tiba di panti asuhan. Dia segera berpamitan untuk pulang.
Setelah pamit Zelia segera keluar untuk menunggu jemputan yang berada di ujung gang. Untuk mencapai tempat itu dia harus berjalan terlebih dahulu.
Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba seseorang membungkam mulutnya dan mencengkeram tubuhnya. Zelia merasa pusing dan perlahan penglihatannya menjadi buram.
Dua orang itu segera membawa Zelia yang sudah pingsan ke dalam mobil mereka melalui jalan lain agar tak bertemu dengan sopir pribadi Zelia. Keduanya membawa wanita itu ke suatu tempat.
Sang sopir yang menunggu Zelia merasa aneh karena nyonyanya tadi bilang hanya sebentar akan segera ke mobil tapi sampai sekarang belum juga muncul. Pak Hazen segera berjalan menuju ke panti asuhan itu.
Setelah sampai dia segera menemui pengurusnya dan menanyakan keberadaan Zelia.
"Zelia? loh baru aja dia pamit pulang tuan, apa kalian tidak bertemu di persimpangan jalan?" tanya pengurus itu. Pak Hazen mulai panik.
"Tidak nyonya, saya tidak bertemu. Tapi terima kasih, saya pamit dahulu!" Pak Hazen segera menelepon nomor ponsel Zelia. Namun tak ada jawaban dari wanita itu.
Dia lalu mencoba menelepon Andrew untuk memberitahukan bahwa nona Zelia entah dimana.
Dengan rasa takut dia akhirnya memberitahu tuannya.
"Halo tuan Andrew, maaf tuan mengganggu, tapi nyonya Zelia menghilang," ucapnya dengan rasa bersalah karena gagal menjaga Zelia.
"Apa? bagaimana bisa!" suara dari panggilan di seberang terdengar lebih khawatir dari pak Hazen.
"Saya juga tidak tahu tuan, saya di suruh menunggu di gang sebelum panti asuhan. Nyonya meminta agar berjalan saja sebelum ke mobil. Tapi saya sudah menunggu hampir setengah jam dan juga mencari di panti asuhan juga tak ada." Penjelasan pak Hazen membuat Andrew terdiam sejenak. Dia lalu menutup teleponnya.
Pak Hazen hanya berdiri dengan gugup di samping mobil. Rasa takut menyelimutinya, dengan melihat watak dari tuannya. Pak Hazen sudah menduga apa yang akan dia dapatkan sebagai hukuman.
Sedangkan wanita yang tengah di cari saat ini sedang tak sadarkan diri di sebuah ruang gelap. Kedua tangannya terikat,begitu juga dengan kakinya.
Zelia yang perlahan mulai sadar dari pengaruh obat bius itu. Derap kaki terdengar di telinga Zelia,seketika dia membuka matanya.
Ruang itu begitu gelap hingga tak begitu jelas siapa orang yang menemuinya itu.
"Azelia Jhonson istri dari Andrew Tan, memiliki dua orang anak dan juga sedang mengandung anak di rahimnya," suara itu terdengar tak asing bagi Zelia.
"Siapa kamu?" tanya Zelia dengan suara takut.
"Zelia apa kamu sudah melupakanku?" ucapnya di kegelapan. Zelia tak mengingat pemilik suara itu, tapi suaranya memang familiar. Zelia pernah mendengarnya.
"Siapa kamu! Lepaskan aku!" teriak Zelia.
"Lepaskan kamu!" Wanita itu tertawa keras.
"Mimpi!" teriaknya kemudian.
"Setelah semua yang kamu ambil dariku, kamu masih pantas buat hidup?" ucapnya penuh dendam.
"Kamu siapa? Apa yang kulakukan sampai membuatmu melakukan ini padaku!" Zelia tak habis pikir, kenapa banyak sekali orang-orang yang mengincar dirinya dan juga keluarganya.
Wanita itu berjalan mendekati Zelia, namun karena di dalam ruang yang gelap. Zelia tak bisa melihatnya dengan jelas. Samar-samar Zelia merasakan tangan wanita itu mendekatinya.
Dan kedua tangannya langsung mencekik leher Zelia. Membuat wanita itu merasakan sesak di tenggorokannya.
"Le-pas-kan," ucap Zelia terbata, dia hampir kehabisan nafas. Tangan wanita itu semakin kuat mencekik lehernya.
"Andrew tolong aku!" batin Zelia memohon agar suaminya segera menemukannya. Dia sudah tak bisa menahan lagi jika wanita di depannya ini tak menghentikan aksinya.