
Alea tak berhenti cemberut saat di atas motor kakaknya. Dia sangat kesal dengan perlakuan Arkan terhadap Rei.
Setahu Alea kakaknya sedang pergi mendaki tapi kenapa bisa kebetulan bertemu dengannya hari ini di restoran itu.Alea tak tahu dengan sikap kakaknya yang sangat dingin pada Rei.
"Kak Arkan bisa nggak sih kalau gak main pukul orang?" ucap Alea kesal.
"Kakak sudah bilang kan gak boleh deket sama dia!"
"Tapi kenapa kak?" tanya Alea. Arkan hanya diam tak menanggapi pertanyaan adiknya lagi.
Alea menjadi semakin kesal karena kakaknya tak mau menjawab pertanyaan darinya.
Saat sampai di depan rumah,Alea langsung saja turun dari motor tanpa mengatakan sepatah kata pun pada kakaknya lagi. Dia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu rumahnya.
Membuat Arya yang sudah di rumah terkejut mendengarnya.
"Siapa sih yang main banting pintunya?" gumam Arya sambil berjalan dari kamarnya untuk melihat ke bawah. Ternyata kakak perempuannya yang melakukan itu.
Tapi wajah kakaknya terlihat sangat marah. Di belakangnya Arkan mengejar Alea.
"Pasti berantem lagi!" tebak Arya.
Saat Alea sudah tiba di depan Arya. Arya mencoba menyapanya.
"Kak Alea kenapa marah lagi?" tanya Arya.
"Diam anak kecil gak boleh tanya!" skak Alea pada Arya. Belum juga tahu masalahnya udah kena semprot duluan oleh kakak perempuannya itu. Arya hanya bisa menggaruk kepalanya.
Muncul Arkan di belakang Alea setelah gadis itu terlebih dulu masuk ke kamar.
"Ada apa sih kak Arkan?" tanya Arya kepo tentang masalah keduanya.
"Udah main sana, anak kecil jangan ikut campur!" jawab Arkan sambil berlalu meninggalkan adik laki-lakinya.
"Tuh kan dua-duanya nyebelin deh! Tau ah Arya mau main aja!" karena kesal Arya memutuskan untuk tak memperdulikan keduanya.
Gimana mau perduli, baru aja mau tanya udah pada sewot semua. Arya lebih baik pergi saja.
Sedangkan di tempat lain, Raffa tengah di landa kesedihan yang mendalam. Rasa bersalahnya terhadap Alea semakin besar. Lantaran telah mengkhianati gadis itu.
Dia kini sedang berada di sebuah bar dan meneguk beberapa botol minuman keras. Raffa ingin meluapkan semua kesedihannya dengan minuman itu.
Di kejauhan Sanny memperhatikannya. Wanita itu sengaja mengikuti Raffa sampai di tempat bar.
Tapi Sanny bukan gadis yang mudah menyerah untuk perasaannya. Dia akan berusaha keras untuk mendapatkan hati Raffa.Pria yang sudah dia cintai dari kecil.
Sanny adalah teman masa kecil Raffa. Mereka tumbuh bersama tapi Raffa malah tak pernah berhenti memikirkan Alea. Sejak pertama kali pertemuan mereka sampai sekarang.
Bahkan Raffa rela pergi menemuinya dan menetap di negara gadis itu.
Sanny merasa sangat terluka karena keputusan Raffa yang pergi dari jangkauannya. Hingga akhirnya dia mempunyai alasan untuk membujuk Raffa kembali ke rumahnya di Inggris.
Dengan membohongi pria itu bahwa kedua orang tuanya sakit dan membutuhkan pria itu untuk merawatnya.
Meski awalnya Raffa marah saat tahu bahwa dirinya di bohongi. Tapi dengan alasan yang kuat Sanny mencoba membujuknya. Dan pria itu mau tinggal beberapa hari di Inggris.
Dan saat hendak kembali menemui Alea. Sanny sengaja mencampur minuman Raffa dengan obat tidur. Hingga membuat pria itu tak jadi menemui Alea.
Dan malam itu ide buruk Sanny muncul. Dia membuat Raffa seolah telah menidurinya. Membuat pria itu terikat selamanya pada Sanny.
Keesokan harinya Raffa yang melihat dirinya tak memakai sehelai pun baju. Merasa sangat terkejut, apa lagi di sampingnya Sanny juga tak memakai apapun.
Sanny menangis di samping Raffa dan menceritakan bagaimana Raffa telah mengambil kesuciannya.
Raffa yang tak ingat apapun hanya bisa mengumpat pada dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa seceroboh itu.
Itu adalah kebenaran yang di tutupi oleh Sanny. Demi bisa bersama Raffa, wanita itu melakukan apapun.
Kini Raffa benar-benar sudah jatuh pada Sanny. Bahkan hari pernikahan mereka sudah di tentukan. Seminggu dari sekarang mereka akan menikah. Tapi Raffa masih saja tak berhenti memikirkan Alea.
"Alea, maafkan aku! Aku mencintaimu Alea!" gumam Raffa yang sudah setengah mabuk. Hanya ada wajah dan nama Alea yang dia ingat sekarang.
Sanny yang berada di belakang pria itu segera mengambil gelas bir milik Raffa.
"Raffa jangan minum lagi!" teriak Sanny.
"Kembalikan aku mau minum lagi! Aku bahagia bisa minum seperti ini!" Raffa mulai berbicara tak jelas.
"Kamu gila Raffa kenapa hanya demi dia kamu sampai seperti ini? Lihatlah aku sedikit saja!" Sanny mencoba menyadarkan Raffa agar melihatnya. Tapi percuma pikiran dan hati pria itu sudah melekat pada Alea.
"Kamu siapa? aku mau Alea!" Raffa benar-benar sudah mabuk. Dia kini terkulai lemas di atas meja.
Sanny hanya bisa berdecak kesal melihat Raffa yang terpuruk seperti itu.Dia ingin Raffa mengakuinya.
Bagaimana pun caranya, Sanny akan membuat Raffa mencintainya dan mau menerima dirinya sampai kapanpun itu. Tanpa ada orang lain yang menghalangi mereka bersama.