
Pagi-pagi sekali ketiga saudara itu bangun tidur. Mereka harus datang tepat waktu untuk hari pertama mereka masuk sekolah kembali, setelah libur panjang ketiganya.
Arkan dan Alea yang saat ini naik di kelas tiga sekolah menengah atas. Sedangkan Arya yang naik ke kelas satu sekolah menengah pertama.
Ketiganya tampak saling sibuk dengan perlengkapan masing-masing. Untuk sarapan untung saja semalam pembantu mereka sudah kembali. Jadi hari ini mereka bisa sarapan dengan tenang.
"Kak Alea, ayo sarapan nanti kita terlambat!" teriak Arya dari depan kamarnya. Kebetulan kamar mereka bertiga sengaja di sejajarkan.
Kamar Arkan di ujung kiri, Alea di tengah dan Arya di ujung kanan. Ketiganya saling membangunkan jika salah satu dari mereka belum bangun. Dan saling mengingatkan.
"Iya dek ini kakak udah siap, mana kak Arkan?" tanya Alea sambil menutup pintu kamarnya.
"Entah, coba Arya lihat ke kamarnya," ucap Arya.
Alea mengangguk, Arya pun ke kamar kakak pertamanya. Sambil menunggu Arya dan Arkan, Alea memakai sepatunya dahulu.
"Kak Arkan, udah bangun belum!" tanya Arya sambil membuka kamar kakaknya itu. Di dalam kamar tak ada siapapun. Arya lalu mengetuk pintu kamar mandi.
"Kak Arkan, kamu masih mandi ya?" teriak Arya.
"Iya dek, sebentar lagi, kalian turun dulu aja!" balas Arkan yang masih di dalam kamar mandi.
"Oke, cepetan kak, nanti kita terlambat loh!" ucap Arya mengingatkan.
"Iya dek," Arkan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuknya.
"Arya sama kak Alea turun dulu ya, kak Arkan cepetan nyusul," ucap Arya lagi,dia bahkan lebih cerewet dari mama mereka. Arkan hanya membalasnya dengan anggukan.
Beberapa saat kemudian ketiganya sudah siap pergi ke sekolah. Dengan diantar supir keluarga mereka. Arya harus turun terlebih dahulu karena sekolahnya lebih dekat daripada kedua kakaknya.
Sedangkan Alea dan Arkan satu sekolah namun beda kelas saja. Arkan kebetulan berada di kelas unggulan sedangkan adiknya, Alea hanya di kelas biasa.
Keduanya sampai di sekolah lima belas menit sebelum bel tanda masuk.
"Kak Arkan,nanti pulang sekolah Alea gak bareng deh," ucap Alea di sela-sela mereka berjalan di halaman sekolah.
"Alea mau jemput teman sekelas di rumah sakit, semalam katanya kecelakaan."
"Sama siapa aja?" tanya Arkan.
"Teman-teman sekelas aja sih," jawab Alea.
"Baiklah, kalau mau pulang dari sana kabarin kakak, nanti kakak jemput."
"Oke," Alea masuk ke kelas terlebih dahulu sedangkan Arkan masih harus berjalan ke lantai dua. Kelasnya berada di atas kelas Alea.
Sebelum sampai di kelas, seseorang menghadang jalan Arkan dengan kakinya. Pria yang sama tingginya dengan Arkan, juga hampir setampan pria itu. Tatapan mata pria itu dipenuhi dengan rasa penasaran. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Udah Fo jangan ribut pagi-pagi gini!" ucap Arkan sambil melangkah melewati kaki pria itu.
"Ah lo gak asik deh Ar," sungut pria yang bernama Afo itu sambil memukul pundak Arkan.
Arkan hanya tersenyum menanggapi teman sekelasnya itu. Afo mengikuti Arkan ke kelas mereka.
"Arkan, ayolah kenalin aku sama adik lo itu?" pinta Afo di sela-sela perjalanan mereka.
"Nggak!" jawab Arkan tegas.
"Napa sih?" Afo selalu tak tahu alasan Arkan tak mau memperkenalkan dirinya dengan Alea.
"Dia udah ada yang punya!" ucap Arkan serius sambil membalikkan badannya membuat Afo dengan cepat mengerem kakinya.
"Bohong kan kamu Ar? Buktinya dia gak ada yang jemput, palingan juga kamu deh," ucap Afo tak percaya.
"Serah deh kalo gak percaya," jawab Arkan tak peduli, dia segera meninggalkan Afo menuju kelasnya.
Afo tak habis pikir, setiap dia menanyakan tentang Alea. Jawaban Arkan selalu begitu. Tapi saat dia mencari tahu tentang Alea, banyak berita yang menyebutkan bahwa gadis itu belum memiliki pacar. Afo hanya mendengus kesal sambil mengikuti langkah Arkan.
Setelah pulang sekolah, Alea yang sudah berpamitan ke kakaknya segera bergabung dengan teman-temannya untuk menjenguk salah satu teman mereka di rumah sakit.Sedangkan Arkan dan Arya pulang ke rumah mereka.