Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Reihan Penyelamatku


Sorot matanya menatap tajam ke arah foto yang saat ini dia pegang.


Wanita itu tersenyum sinis dan penuh arti. Dia sebenarnya bukan gadis jahat, tapi karena berfikir seseorang yang miliknya telah direbut. Dia berubah menjadi wanita yang berkepribadian buruk.


Sanny meremas foto milik Alea. Dia benci pada gadis itu. Setelah pernikahannya di gagalkan, Sanny memutuskan untuk menyusul Raffa.


Dia hanya ingin merebut Raffa kembali dari Alea. Sanny sudah dibutakan oleh obsesinya pada Raffa.


Wanita itu segera melakukan penerbangan untuk menyusul Raffa. Memberikan kejutan pada Raffa, bahwa dia tidak akan semudah itu menyerah pada cintanya.


Tapi kali ini dia harus berhati-hati agar tidak ada yang mengetahui bahwa dia menyusul pria itu. Termasuk orang kepercayaan Raffa.


Beberapa jam kemudian dia telah sampai di tempat. Sanny tidak langsung menemui Raffa tapi dia mempunyai rencana lain.


Hari ini sudah waktunya Arkan dan lainnya kembali ke sekolah. Tinggal satu semester untuk siswa siswi kelas dua belas bisa lulus. Mereka harus fokus untuk mempersiapkan ujian nanti.


Raffa hari ini sengaja meluangkan waktu untuk menjemput Alea. Dia tidak bisa tenang setelah semalam dia belum mendapatkan maaf dari gadis itu.Siang ini dia harus meminta maaf kembali pada Alea.


Raffa menunggu dari kejauhan, memperhatikan gerbang sekolah yang sudah berhamburan beberapa siswanya.


Namun belum juga Alea terlihat di sana. Hanya saja dua orang pria yang Raffa kenal sedang berbicara serius di seberang jalan di sekolah itu.


Keduanya adalah Arkan dan Reihan. Raffa sedang menebak bahwa keduanya sedang memiliki masalah. Terlihat dari raut wajah Arkan yang tidak bersahabat saat ini.


"Ada apa diantara mereka?" gumam Raffa di dalam mobilnya. Tapi tak membuatnya segera turun dari mobil. Dia hanya memperhatikannya terlebih dahulu.


Sedangkan Arkan kini sedang sangat kesal pada Reihan. Karena pria itu lagi-lagi mendekati adiknya.


Meski keduanya satu kelas, tapi Arkan tidak akan mengijinkan Reihan untuk bersahabat dengan Alea.


"Sudah berapa kali aku ingatkan,kamu jangan pernah dekati adikku lagi!" ucap Arkan marah.


"Arkan, dia memang adikmu tapi dia berhak berteman dengan siapa saja, termasuk aku!" teriak Reihan membela diri.


"Kamu gak pantas berteman dengan Alea!" ucap Arkan.


Keduanya saling beradu mulut, tak ada yang mau mengalah satu pun.


Sedangkan Alea kini masih berada di dalam kelas. Dia kembali lagi ke kelas karena ponselnya tertinggal.


"Alea gawat! Gawat!" teriak Monic sambil mengatur nafasnya yang naik turun.


"Ada apa Monic?" tanya Alea.


"Kakakmu!" jawab Monic sambil mengambil nafas.


"Kenapa kakakku?" tanya Alea bingung karena Monic mengatakannya setengah-setengah.


"Kakakmu berantem!" ucap Monic.


"Hah berantem! Sama siapa?" tanya Alea segera mengambil ponselnya dan berjalan cepat ke luar kelas.


"Dia sama Reihan saling memukul! Aku gak berani melerai mereka!" jelas Monic. Keduanya segera mempercepat langkahnya agar segera sampai di depan sekolah.


"Itu mereka!" ucap Monic sambil menunjuk ke arah Reihan dan Arkan yang sudah saling memukul.


"Kenapa sih mereka!" Alea tak habis pikir dengan keduanya yang masih saja bertengkar.


Saat Alea hendak mendekat ke arah mereka. Tanpa dia tahu ada seseorang yang tengah memperhatikannya di dalam mobil. Itu bukanlah Raffa. Melainkan orang lain.


Mobil itu sengaja melaju dengan kecepatan tinggi bersamaan dengan Alea yang hendak menyeberang.


"Alea awas!" teriak Monic, tapi gadis itu terlalu jauh dari Alea, sedangkan mobil itu sudah sangat dekat dengannya.


Arkan dan Reihan menoleh ke arah suara Monic. Keduanya terkejut karena ada mobil yang hendak menabrak Alea.


Tanpa pikir panjang keduanya segera berlari ke arah Alea. Karena mereka lebih dekat dengan gadis itu.


Brak!


Suara tubuh membentur mobil begitu keras terdengar. Semua orang terdiam di tempat dengan perasaan khawatir. Namun mobil itu pergi begitu saja setelah menabrak seseorang.


Raffa yang tadi di mobil seketika keluar setelah mendengar teriakan Monic. Tapi dia terlalu jauh dari mereka.


"Tidak!" teriak Arkan mengira bahwa Alea tertabrak. Namun bukan adiknya, Reihan yang berada di jalan raya itu.


Darah segar mengalir dari kepalanya. Arkan terkulai lemas melihat kejadian itu.Dia terlambat menyelamatkan Alea. Tapi pria yang telah dia benci beberapa tahun ini malah menyelamatkan adiknya.


Alea sangat terkejut, tapi dia selamat setelah Rei mendorongnya ke tepi. Tapi kini air matanya mengalir sempurna. Setelah melihat kondisi Reihan.


"Reihan!" teriak Alea mendekati tubuh Reihan yang tersungkur tak berdaya dengan darah mengalir dari kepalanya.


Begitu pula dengan Arkan,dia segera menghampiri keduanya. Arkan menangis melihat kondisi Reihan.


Penyesalan memenuhi hatinya saat ini. Kenangan manis diantara mereka seperti di putar kembali di pikiran pria itu.


Suara sirine mobil ambulan memecah jalanan kota sore itu. Tak ada yang berani menghentikannya. Karena di dalam mobil itu terdapat pria yang sedang sekarat melawan maut.


Alea dan Arkan tak berhenti memanggil nama Reihan. Raffa mengantar keduanya mengikuti ambulan yang membawa Reihan.


Sedangkan Monic membawa motornya sendiri mengikuti mereka.


Saat sampai di rumah sakit, Reihan segera mendapatkan penanganan darurat.


Alea, Arkan dan Raffa serta Monic menunggu di luar ruang operasi. Keempatnya saling terdiam dan berdoa kepada Tuhan agar Reihan bisa selamat.


"Ini semua salahku! Aku tidak hati-hati menyeberang jalan!" ucap Alea menyalahkan dirinya sendiri.


"Alea jangan menyalahkan dirimu!" ucap Monic menenangkan Alea. Dia merangkul gadis itu.


"Monic aku takut dia kenapa-kenapa! Aku harus bagaimana?" tanya Alea khawatir.


"Dia pasti baik-baik saja!" Monic berharap Rei bisa bertahan.


Arkan hanya duduk di kursi dan menundukkan kepalanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Arkan sedang kacau, dia tak bisa berhenti mengkhawatirkan Reihan.


Dari ujung koridor, terdengar suara kaki berlari. Mila dan Arya berlari ke arah mereka.


"Kak Alea gimana keadaan kakakku?" tanya Mila khawatir, di kedua pipinya sudah basah oleh air mata.


Hanya kakaknya yang selama ini menjaganya, Mila tidak tahu bagaimana dia bisa hidup jika sang kakak pergi meninggalkan gadis itu.


Sedangkan kedua orang tuanya baru saja bercerai. Dan mereka saling berpisah tanpa memperdulikan kakak beradik itu.


"Mila!" Alea melepaskan pelukan Monic lalu memeluk Mila. Dia ingin menenangkan gadis itu. Meski dirinya saat ini tidak tenang juga.


"Mila, Reihan pasti akan baik-baik saja. Ada kita yang mendoakannya disini dan berharap dia tidak akan terjadi apa-apa,maafkan kak Alea. Karena kakakmu telah menyelamatkan kakak. Seharusnya kak Alea yang berada di ruangan itu!" Alea tak bisa menahan dirinya untuk tidak merasa bersalah.


Mila hanya menangis mendengar hal itu. Keduanya menangis sambil berpelukan.