
Di siang hari saat jam istirahat tiba. Arkan sengaja berdiri di depan pintu kelas milik Alea. Dia tengah memperhatikan adiknya itu.
Terlihat gadis itu sedang bercengkrama dengan seorang pria yang Arkan ketahui adalah Reihan. Alea yang belum menyadari kedatangan kakaknya tak memperdulikan pria itu. Hingga suara beberapa gadis di kelas itu berteriak memanggil nama kakaknya.
"Arkan, ya ampun kamu tumben kesini?" tanya salah satu gadis yang sudah mengidolakan Arkan. Tapi Arkan tak memperdulikannya.
Alea yang mendengar itu langsung menoleh ke arah kakaknya. Begitu juga Monic, entah kenapa gadis itu tiba-tiba merapikan penampilannya.
Alea berjalan mendekati kakaknya.
"Kak Arkan tumben ke sini?" tanya Alea.
"Lagi pengen aja,ayo ikut aku, ada hal penting yang ingin ku katakan," ajak Arkan, tatapan kedua matanya tertuju ke arah Rei. Begitu juga Reihan dia tak gentar dengan tatapan dari Arkan.
"Kenapa gak ngomong disini aja kak?" tanya Alea.
"Nggak ayo ikut!" ajak Arkan sambil menarik lengan Alea. Gadis itu terpaksa harus mengikutinya.
Monic yang berharap bisa lebih dekat dengan Arkan hanya menghela napas panjang. Bagaimana bisa dekat dengan pria itu, sedangkan Arkan meliriknya saja tidak.
Monic sudah lama ingin mendekati Arkan, tapi tak ada kesempatan karena pria itu sangat sibuk sekaligus sikapnya begitu dingin.
Entah apa alasannya, diam-diam gadis itu menjatuhkan hati pada Arkan bukan pria lain yang juga sama tampannya dengan pria itu.
Kini Arkan dan Alea sedang berada di taman sekolah.
"Ada apa sih kak?" tanya Alea.
"Kakak minta kamu menjauh dari Reihan itu!" balas Arkan.
"Hah, memangnya kenapa dengan dia?" tanya Alea penasaran kenapa tiba-tiba Arkan melarang dirinya untuk bersama Reihan.
"Kakak tidak bisa menjelaskan sekarang, yang penting kamu turuti perkataan kakak tadi," ucap Arya tegas. Lalu dia meninggalkan Alea di taman itu sendirian.
"Apa sih sebenarnya yang di maksud kak Arkan,siapa sebenarnya Reihan itu?" tanya Alea pada dirinya sendiri.
Di sudut salah satu koridor kelas. Reihan tengah menopang kan tubuhnya di tembok dengan kedua tangan di lipat di depan dada.
Rei tengah menunggu Arkan yang berjalan ke arahnya. Dengan senyum angkuhnya, Reihan memperhatikan Arkan.
"Lama tak jumpa kawan, aku baru tahu gadis cantik itu ternyata adikmu," ucap Reihan saat Arkan sudah berada di depannya.
"Heh kawan? Apa kamu sedang lupa ingatan?Munafik!" tanya Arkan heran.
"Arkan lupakan lah masa lalu, kenapa masih saja keras kepala?" tanya Reihan, seketika itu perubahan di wajah Arkan begitu terlihat. Wajahnya menahan amarah. Kedua tangan pria itu mengepal saat mendengar ucapan Reihan.
Tapi Arkan bukan pria yang gampang melampiaskan sesuatu. Dia masih menjaga image nya sebagai siswa teladan. Dia tak mau mengotori tangannya untuk berkelahi. Meski Arkan jelas bisa melakukannya.
Reihan menjadi murung setelah mendengar hal itu. Dia akhirnya teringat dengan semua yang terjadi di masa lalu. Kejadian yang tak akan bisa dia lupakan untuk selamanya. Kejadian yang memberinya trauma seumur hidup pria itu.
"Aku tahu kamu lebih tersiksa, tapi itu adalah hukuman buatmu."
Lagi, Arkan tak bisa menghentikan bibirnya untuk tak mengucapkan sesuatu.
"Tapi aku tak akan membuat semuanya kembali terulang, apalagi hal itu terjadi pada adikku.Jangan mencoba mendekatinya, atau tanganku sendiri yang akan membuatmu hancur!" ucap Arkan memperingatkan Reihan. Dia lalu meninggalkan pria itu.
"Sayangnya aku tak akan melakukannya, karena aku sudah merasa nyaman dengan Alea," batin Reihan.
Dia tahu saat ini dia telah keluar dari zona amannya. Dia tahu akan ada sebab akibat dari apa yang dia putuskan saat ini.
Dari kejauhan Alea melihat Reihan yang tengah melamun kan sesuatu.Gadis itu mendekatinya dan mencoba memanggilnya.
"Rei?" panggil Alea.
"Ya," Reihan yang tadinya melamun seketika menoleh ke arah Alea.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Alea.
"Nungguin kamu,"ucap Reihan sekenanya.
"Kurang kerjaan banget sih!" jawab Alea sambil berlalu meninggalkan pria itu.
Tapi salah satu tangannya telah di tahan oleh Reihan.
"Boleh bicara sebentar?" tanya Reihan.
Alea terdiam,di wajahnya terlihat sekali dia sedang bertanya-tanya.
"Ada apa Rei?" tanya Alea.
"Sebenarnya," Reihan hendak mengucapkan sesuatu yang sedang ada di pikirannya.
"Sebenarnya aku-" entah kenapa tiba-tiba keringat dingin mengalir begitu saja.
Bunyi suara bel tanda waktu istirahat telah berbunyi.
"Eh udah masuk kelas,sebaiknya kita bicara nanti saja. Setelah ini jam pelajaran guru killer. Ayo cepat ke kelas!"ajak Alea sambil menarik lengan Reihan.
"Ya," jawab Reihan pelan. Dia mengikuti Alea menuju ke kelas. Sepanjang perjalanan,dia tak henti melihat tangannya yang di gandeng oleh gadis itu.Alea juga tak sadar bahwa dia menjadi pusat perhatian karena menggandeng Reihan.
"Mungkin belum waktunya kamu tahu Alea," batin Reihan mengingat apa yang tadi hendak dia katakan tapi tidak jadi.