Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Cewek Bawel


Tepat pukul dua malam, Alea terjaga dari tidurnya karena merasa tenggorokannya begitu kering. Gadis itu meraba-raba meja kecil di samping ranjangnya untuk mencari segelas air yang biasa di siapkan oleh sang pembantu sebelum Alea tidur.


Tapi malam ini tak ada gelas apapun di sana, sepertinya sang pembantu rumah mereka lupa menyiapkannya terlebih dahulu.


Karena sudah tak tahan ingin segera minum, Alea terpaksa harus beranjak dari ranjangnya. Langkahnya gontai menuju ke dapur. Dengan perlahan dia menuruni anak tangga sebelum ke lantai satu.


Rasa kantuk masih menyelimuti wajah gadis itu. Tak biasanya dia begitu haus di malam hari.


Setelah sampai di dapur, gadis itu hendak menyalakan lampu di sana. Namun belum sempat menyalakannya. Alea melihat bayangan seseorang di depan kulkas.


"Jangan-jangan itu maling?" batin Alea khawatir. Dia segera mengambil stik kayu di pojok ruangan itu. Membawanya dengan kedua tangan di depan tubuhnya. Alea bersiap untuk segala sesuatu yang kemungkinan terjadi pada dirinya


Bugh


Bugh


Bugh


"Dasar pencuri sialan, rasakan pukulanku ini!" Alea memukul orang itu beberapa kali dengan kekuatan penuh.


Suara pukulan itu terdengar nyaring di telinga Alea, disertai suara teriakan dari orang yang disebut pencuri olehnya.


"Argh sakit," ucap seorang pria. Alea segera menyalakan lampu. Betapa terkejutnya Alea setelah melihat siapa yang baru saja dia pukuli. Pria itu tak lain adalah Raffa, bahkan Alea bisa melihat betapa dia merasakan sakit akibat pukulannya.


"Ka- kamu ngapain di sini? Dimana pencuri tadi?" tanya Alea.


"Pencuri apaan sih!" ucap Raffa kesal.


"Tadi bukannya pencuri, ta-tapi itu kamu?" tanya Alea.


"Dasar gadis bodoh, ini aku bukan pencuri."


Raffa memegang punggungnya yang terasa sakit karena pukulan dari Alea.


"Hah emangnya aku tahu itu kamu, lagian ngapain gak nyalain lampu?" ucap Alea.


"Aku haus, malas nyalain lampu!" balas Raffa.


"Ya bukan salahku juga,aku gak tahu itu kamu, salah sendiri mengendap-ngendap kayak pencuri," ucap Alea tak peduli.


Raffa menatap kesal ke arah Alea, gadis itu tetap tak merasa bersalah telah melukai Raffa. Alhasil keduanya saling beradu pandang dengan disertai cipratan kebencian.


Raffa pergi meninggalkan Alea di dapur sendirian, rasa hausnya sudah hilang digantikan rasa kesal dan sakit di punggungnya.


"Dasar cewek bar-bar, apes banget sih," gumam Raffa sambil berjalan ke kamarnya.


Pagi harinya suasana aneh terasa di meja makan. Di sana hanya ada Zelia, Andrew, Arya, Raffa dan juga Alea. Yang membuat udara terasa berat adalah sikap Alea dan Raffa yang saling mengintimidasi. Zelia dan Andrew hanya bisa bertanya dalam hati. Apa yang terjadi dengan keduanya.


Sedangkan Arkan sudah pamit terlebih dahulu karena dia ada hal yang harus di urus di sekolah pagi-pagi sekali.


"Pa, ma Arya sudah selesai. Arya juga mau berangkat dulu sama pak sopir," ucap Arya berpamitan.


"Iya kamu berangkat sana!" ucap Zelia sambil mengusap puncak kepada Arya.


"Gak bisa kak, Arya mau jemput temen-temen Arya. Mobilnya gak muat deh kalau kakak ikut," ucap Arya sambil meninggalkan meja makan.


"Lah terus kakak berangkat sekolah sama siapa?" tanya Alea bingung.


"Sama papa aja!" teriak Arya sambil berlari ke arah depan rumahnya.


Alea menatap ke arah papanya, Andrew segera menyibukkan diri menyantap makanannya yang belum habis.


"Em kayaknya papa gak bisa deh antar kamu Alea, papa ada meeting pagi ini."


"Yah papa," jawab Alea kecewa.


"Gimana kalau nak Raffa aja yang ngantar Alea?" tanya Zelia.


"Eh tapi tan Raffa kan belum tahu area sini," jawab Raffa.


"Udah gak apa-apa, Alea bisa menunjukkan jalannya kok. Ayo cepat kalian berangkat nanti terlambat loh!" pinta Zelia.


"Nggak ma, Alea bisa naik bus sekolah aja!" ucap Alea sambil beranjak ingin pergi. Namun Andrew segera mencegahnya.


"Jangan Alea, kamu bisa terlambat, lagian gak apa-apa kan Raffa kalau om minta tolong ke kamu?" tanya Andrew.


"Eh iya om," Raffa merasa tak enak menolak Andrew,alhasil dia terpaksa mengantar Alea. Gadis itu juga terpaksa menerima permintaan mama dan papanya.


Keduanya lalu segera pamit untuk ke sekolah Alea. Raffa memakai salah satu koleksi motor milik Andrew.


"Ayo!" ajak Raffa. Alea masih mematung di samping motor itu.


"Kenapa gak naik?" tanya Raffa dengan nada dinginnya.


"Kenapa gak mobil aja sih?" tanya Alea.


"Udah jangan bawel, kalau naik motor gak akan kena macet. Cepat naik!"


"Uh iya-iya, tapi jangan ngebut!" Alea akhirnya naik ke atas motor sport itu.


Raffa bersiap untuk melajukan motornya.


"Pegangan! kalau jatuh aku gak akan tolongin!" Raffa berbicara seperti itu membuat Alea semakin kesal saja.


"Iya!" jawab Alea singkat. Dia lalu memegang baju di samping Raffa.


Dengan sekali putaran Raffa melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Alea terpaksa memeluk pinggang Raffa agar tak terjatuh.


Setelah sampai di depan sekolah, Alea segera turun dari motor.


"Lain kali jangan ngebut-ngebut deh!" ucap Alea kesal sambil merapikan pakaiannya.


"Udah di anterin masih aja bawel, sana sekolah yang bener!" ucap Raffa.


Alea berpaling meninggalkan Raffa dengan langkah cepat. Begitu pula dengan Raffa yang segera melajukan motornya.