Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Berbaikan


"Put lo masih hidup kan?". tanya Satria yang baru saja datang dengan mengusap lengan Putra dengan kasar


Putra menepis tangan Satria dengan kasar dan memukul lengan lelaki itu dengan kesal


"kalian kenapa tahu gue ada di sini?". Tanya Putra


" Oh itu tadi si Mutia informasi ke kita". sahut Satria


"Jadi gimana? Apa kalian berdua udah ketemu sama salah satu dari mereka bertiga? ". tanya Putra


"belum, Nanti para bodyguard gue yang akan ngelanjutin pencarian nya. kali ini gue nggak bisa tinggal diam Kalau Marsha belum mendapatkan balasan nya". ujar Leon dengan geram


...****************...


keesokan hari nya di sekolah, Lea melihat Sisil yang sedang berjalan menuju ke kelas.


Lea pun langsung mempercepat langkah nya, Namun siapa sangka jika tangan nya di cekal oleh Devan.


hal itu membuat mereka berdua kini berada di tengah lapangan dan menjadi sorotan banyak orang.


saat semua nya berteriak secara histeris menyaksikan kejadian itu, Sisil pun langsung menolehkan kepala nya ke arah sumber suara.


mata nya membulat saat melihat Devan menggandeng tangan Lea di tengah lapangan, kini rasa sesak di dada nya itu semakin membuat rasa sakit hati nya semakin bertambah.


"Lea Please, gue mau ngomong serius sama lo". teriak Devan


"gue tahu kalau perasaan gue ini salah sama lo, tapi gue enggak bisa tenang mikirin ini semua. gue sayang sama lo, Gue suka sama lo! ". lanjut Devan


Lea yang mendengar hal itu langsung menepis tangan Devan dengan kasar, ia memundurkan langkah nya ke belakang menjauh dari Devan.


sedangkan Leon yang melihat nya langsung emosi seketika, tangan nya mengepal menyalurkan rasa amarah pada diri nya.


Saat Leon hendak melangkahkan kaki nya menuju ke arah Lapangan, namun dengan cepat tangan Leon di tahan oleh Satria dan juga Putra.


" Lo jangan gegabah, kita lihat dulu apa yang akan di lakukan sama Le aselanjut nya. percaya aja sama dia". ujar Satria


"Kali ini Devan harus benar-benar mendapatkan penolakan besar dari Lea, baru ia akan berhenti mengejar ngejar Lea. Lo tahu sendiri kan gimana tuh si Devan". Timpal Putra


"tapi dia udah berani nyentuh tangan istri gue". geram Leon


"Lea sudah melepaskan nya, Jadi Lo enggak usah Lebay, jangan buat keributan lagi". Sahut Satria


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Cakra melihat Sisil. lelaki itu langsung melangkahkan kaki nya mendekat ke arah Cakra dan ia pun melepaskan jaket nya untuk menutupi pandangan itu dari Sisil.


kini mereka berdua saling menatap satu sama lain, cakra tersenyum manis ke arah Sisil.


sedangkan Sisil sudah menetaskan air mata nya yang mengalir begitu saja.


"jangan pernah rusak yang sudah ada, gue harap lo bisa paham sama apa yang gue omongin. Kalau Lo butuh apapun, lo bisa hubungin gue. gue akan selalu ada buat lo, karena Kita kan teman". lanjut Cakra tersenyum manis


Sisil pun menelan saliva nya dengan dalam-dalam dan menurunkan tangan cakra, Ia ingin melihat ke arah lapangan itu juga.


Cakra ikut menatap ke arah Devan dan Lea yang berada di lapangan


"gue tahu, gue emang terlalu nekat dan gue beneran Tulus cinta dan sayang sama Lo, gue harap Lo mau nerima perasaan gue". ujar Devan memohon


Lea menatap ke arah Devan dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan.


Plakkk..


Tamparan keras mendarat di pipi Devan, membuat semua siswa dan siswi yang berada di sana histeris.


saat menampar Devan, tubuh Lea terlihat bergemetar setelah melakukan itu.


Lea melihat sisil yang juga menatap nya, lea ingin menuju ke arah Sisil. wanita itu langsung melangkahkan kaki nya menjauh.


"Sisil tungguin gue". Teriak Lea


Leon yang sudah habis kesabaran nya langsung mendekat ke arah devan.


"Lea bukan wanita sembarangan seperti yang lo pacarin selama ini, lo mendapat Cinta dari sisil Seharus nya lo bersyukur sebelum benar-benar menyesal kehilangan dia". Ujar Leon dan kedua teman nya langsung meninggalkan lapangan


Putra berjalan dengan terpincang pincang karena luka nya belum sembuh dan masih terasa nyari akibat kecelakaan kemarin.


di tempat lain, Lea menarik tangan Sisil. namun Lea mendapat tamparan keras yang mendarat di pipi Lea yang mulus.


setelah tamparan itu mendarat, Sisil langsung membuka mata nya dan menatap tangan nya dengan tatapan bersalah.


dia ingin memegang pipi Lea, namun Ia urungkan.


"gue mau sendiri dulu, jadi lo mending jauhin gue". Usir Sisil


"nggak, Lo bisa tampar gue lagi silahkan sepuas Lo. Gue mau lo tau kalau gue nggak suka sama Kak Devan dan gue nggak ada niat rebut siapapun dari lo. gue udah anggap Lo sahabat gue". Ucap Lea


"tapi sekarang lo bukan sahabat gue lagi". Sahut Sisil dengan cepat


" gue mohon kita harus bicara berdua". Pinta Lea


"gue mau sendiri! gue nggak mau tangan gue nyakitin lo lagi".


"Gue nggak masalah, inti nya lo harus dengerin penjelasan dari gue. kayak nya Lo emang harus tahu semua ini, maafin gue yang udah nutupin nya terlalu lama dari lo". ujar Lea


"Apa maksud lo? ". tanya Sisil mengerutkkan kening nya


Lea nampak melirik ke arah kanan dan ke kiri untuk memastikan jika tidak ada siapapun di tempat itu.


Namun karena tempat nya tidak tepat jika mereka membicarakan sebuah rahasia itu, Lea langsung menggandeng tangan Sisil untuk menuju ke belakang sekolah.


Sesampai nya di belakang sekolah, Sisil langsung menepis kasar tangan Lea dan menatap nya dengan tajam.


"Ngapain Lo bawa gue ke sini hah? ".


"gue sama Kak Leon udah nikah". ujar Lea serius dan berkata dengan tiba-tiba


" Apa maksud lo? ". tanya Sisil yang tidak percaya akan pendengaran nya


"gila ya lo kalau bicara yang benar, jangan bercanda di saat suasana masih kayak gini". Seru Sisil


"enggak, gua enggak bercanda. apa yang gue omongin bener, pertama kali gue pindah di sekolah ini, gue udah tunangan sama kak Leon. kami berdua menikah karena perjodohan orang tua kami sebelum nya". jelas Lea


Sisi langsung memegang pundak Lea dan menatap manik mata wanita yang berada di hadapan nya itu.


"Lo enggak bohong kan?". Tanya Sisil dan Lea langsung menggelengkan kepalanya dengan mantap


"Maaf, gue terlalu lama menyembunyikan dari lo".


"kalau emang ini serius, Lo enggak takut kalau gue bocorin Semua nya sama orang-orang? ". tanya Sisil


"gue percaya sama Lo kok, kalau emang lo mau ngasih tahu satu sekolah juga gue enggak apa-apa. inti nya gue enggak mau kehilangan sahabat baik kayak Lo". Ujar Lea


Sisil langsung memeluk tubuh Lea dan kembali meneteslan air mata nya, Ia merasa sangat bersalah karena telah menyalahkan Lea atas semua nya.


Padahal kesalahan ini juga berasal dari diri nya sendiri yang tidak pernah sadar, Jika Devan menyukai Lea dan bukan diri nya.