Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Bukan Alasan yang di inginkan Alina


Pagi menyapa dengan mentari yang membawa sinar kehangatan bagi alam semesta.


Terlihat Alina mulai mengerjapkan matanya perlahan hingga mata itu terbuka dengan sempurna.


Yang pertama Alina lihat adalah sebuah langit-langit rumah bercat putih yang sudah terlihat sedikit memudar.


Mata Alina menatap ke sekeliling rumah itu, detik kemudian bayangan saat dirinya, dan Abian hujan-hujanan tadi malam mulai bermunculan di ingatannya saat ini.


Alina hendak bangun, namun dia merasakan sakit di semua badannya.


"Aww..! kenapa badanku terasa sakit semua."lirih Alina yang kini mencoba untuk bangkit dari berbaringnya.


Alina bangun, hingga sekarang posisinya menjadi duduk.


Alina begitu terkejut saat mendapati tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun hanya ada sebuah jas hitam yang menutupi tubuh polosnya itu.


"A-apa? apa yang terjadi?"gumam Alina dengan mata yang terbelalak saking terkejutnya.


Tidak lama kemudian Abian datang dari arah luar yang membuat Alina langsung membenarkan jas hitam supaya menutupi tubuh polosnya itu.


"Kamu sudah bangun?"ucap Abian yang kini berjalan ke arah Alina yang masih duduk di sebuah kursi di rumah itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa-?"kata-kata Alina terhenti karena sepertinya Alina enggan menanyakan hal yang menurutnya terlalu vulgar itu, namun dia benar-benar tidak mengingat apapun tentang apa yang terjadi padanya malam tadi.


"Nanti kita bicarakan semuanya di rumah, sekarang lebih baik kamu pakai baju kamu! aku sudah menjemur baju kamu tadi, jadi baju kamu lumayan sedikit kering."tutur Abian seraya tangan menyodorkan baju Alina yang kemarin Alina pakai.


Tangan Alina langsung mengambil baju itu dari tangan sang suami. "Kalau gitu aku tunggu kamu di luar ya,"imbuh Abian seraya kaki berjalan keluar dari rumah itu.


Alina memejamkan mata dalam, sambil membuang nafas kasar.


Setelah beberapa menit Abian menunggu, akhirnya Alina keluar dari rumah itu sudah lengkap dengan baju yang kemarin Alina pakai.


"Sudah selesai, ayo kita pulang!"ajak Abian yang berjalan lebih dulu dengan Alina yang mengekor di belakang.


Kini Abian, dan Alina sudah sampai pada mobil yang kemarin malam mereka tinggalkan disana.


"Bukannya bensinnya habis ya?"tanya Alina.


"Iya, tapi tadi aku sudah beli bensinnya di pom mini di depan sana."tutur Abian menjelaskan yang di jawab anggukan oleh Alina.


"Ya sudah, ayo naik! kita harus pulang."ajak Abian yang membukakan pintu mobil untuk Alina.


Alina mulai berjalan sedikit, dan mulai masuk ke dalam mobil suaminya itu.


Detik kemudian Abian juga langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya, dan mulai melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Alina hanya diam, begitupun dengan Abian yang sepertinya enggan memulai sebuah pembicaraan.


Alina masih sibuk dengan pikirannya saat ini.


Apa mungkin semalam aku, dan Abian? ahh.. masa sih, tapi sepertinya sikap dia biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. suara hati Alina dengan mata sesekali menatap wajah suaminya itu.


Tidak terasa akhirnya mobil yang Alina, dan Abian tumpangi telah tiba di basemen apartemen.


Abian turun lebih dulu dari mobil, detik kemudian Abian kembali membukakan pintu mobil untuk Alina.


Alina turun, dan mereka pun mulai berjalan untuk menuju apartemen.


"Kamu pasti cape, sebaiknya kamu istirahat."imbuh Abian saat mereka sudah memasuki apartemen.


"Tunggu!"ucap Alina saat melihat Abian berjalan untuk menuju kamarnya.


Abian menghentikan langkahnya, dan mulai berbalik ke arah Alina.


Abian membuang nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Alina. "Iya."jawab Abian seraya menganggukkan kepalanya.


Mata Alina terbelalak setelah mendengar jawaban dari suaminya itu. "Tapi kenapa?"tanya Alina yang meminta penjelasan atas apa yang telah di lakukan suaminya itu.


"Maafin aku Al, tapi itu harus aku lakukan supaya kamu tidak mati kedinginan."tutur Abian menjelaskan keadaan yang memaksanya untuk melakukan itu.


Alina hanya diam tidak bicara lagi, dia lebih memilih berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Abian dia merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan pada Alina.


"Al..!"panggil Abian yang tidak di hiraukan oleh Alina. Alina terus berjalan, dan mulai menutup pintu kamarnya.


Meninggalkan Abian yang masih diam mematung di tempatnya.


Alina duduk di tepi ranjang sambil mengingat kata-kata Abian barusan.


"Kamu melakukannya karena kamu takut jika aku akan mati karena kedinginan, itu sudah jelas membuktikan kalau pernikahan kita tidak akan pernah bisa menjadi pernikahan yang sebenarnya."gumam Alina dengan bulir bening yang kini lolos membasahi pipi putihnya.


Entah sampai kapan aku harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini? sampai kapan?pak Alina nggak kuat lagi pak, Alina nggak bisa terus-terusan berada di dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak ada cinta di dalamnya pak! hiks.. hiks.. hiks.. suara hati Alina sambil menangis.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼*


Semenjak kejadian itu, Alina jadi jarang sekali bicara. Dia jadi lebih sering menghindar dari Abian.


Karena Alina tidak ingin terlalu dalam memberi harapan pada pernikahannya, dia tahu jika Abian tidak akan pernah bisa menerimanya sebagai istrinya sampai kapanpun.


Walau jujur dalam lubuk hati Alina yang paling dalam, Alina sudah mulai bisa menerima pernikahannya, dan bahkan Alina juga sudah mulai tertarik pada Abian.


Tapi setelah kejadian kemarin malam membuatnya berpikir jika Abian mungkin tidak akan pernah bisa menerimanya sebagai istrinya.


"Al, kita berangkat bareng ya,!"ajak Abian saat melihat Alina keluar dari kamarnya, sudah dengan pakaian kerjanya.


Alina tidak menjawab, dia malah berjalan begitu saja melewati sang suami.


"Al..!"panggil Abian yang masih tidak di hiraukan oleh Alina.


"Al, kamu kenapa sih?"tanya Abian yang kini memegangi tangan Alina, namun Alina langsung menghempaskan tangan Abian yang memegangi tangannya.


"Kamu marah karena masalah malam itu, ok aku minta maaf, mungkin seharusnya aku biarkan saja kamu mati kedinginan malam itu supaya aku tidak perlu melihat sikap kamu yang seperti ini sekarang."kata-kata Abian mampu membuat air bening terpupuk di sudut mata Alina.


Setelah mengucapkan itu Abian langsung berjalan meninggalkan Alina yang masih diam mematung di tempatnya.


Hari itu keduanya sama-sama menjalani hari mereka dengan mood yang sangat buruk.


Apalagi Abian yang uring-uringan di kantor, tidak sedikit para karyawan di perusahaannya yang kena semprot Abian karena bawaannya marah-marah nggak jelas.


Terlihat Alina keluar dari perusahaan Yogaswara bersama bosnya Devan.


Mereka berjalan berdampingan, seperti sedang membicarakan sesuatu.


"Alina awas..!"teriak Devan dengan tangan menarik tangan Alina karena Alina hendak terserempet sebuah motor.


"Kamu tidak apa-apa kan Alina?"tanya Devan memastikan jika Alina baik-baik saja.


"Tidak pak, saya tidak apa-apa, terima kasih karena sudah menyelamatkan saya."jawab Alina sambil tersenyum.


"Syukurlah, kalau kamu tidak apa-apa."balas Devan sambil tersenyum juga.


Di tengah kebersamaan Alina, dan Devan ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka dari dalam sebuah mobil.