Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Akhirnya Pindah


Waktu begitu cepat berlalu. Raffa sudah siap dengan kopernya di dalam kamar. Hari ini dia akan pindah ke apartemen yang telah dia beli sebelumnya. Dia harus fokus dengan pekerjaannya untuk ke depannya.


Raffa berjalan menuruni anak tangga dengan menenteng kopernya. Dari ruang tamu tampak para anggota keluarga Andrew menatap ke arahnya.


"Kak Raffa beneran mau pindah sekarang?" tanya Arya dengan raut wajah kecewa.


"Iya dek, kakak pindah sekarang. Jangan sedih gitu dong?" ucap Raffa. Kini langkahnya sudah berada di ujung anak tangga. Dia lalu berjalan mendekati mereka.


Alea yang duduk di samping mamanya tampak diam membisu. Hanya sesekali bola matanya melirik ke arah Raffa. Tapi secepat kilat dia menghindar dari tatapan pria itu jika tak sengaja beradu pandang dengannya.


"Kapan-kapan boleh ya kak,Arya main ke tempat kakak," pinta Arya seperti anak kecil yang kehilangan temannya di samping Raffa berdiri.


"Iya boleh dong, main aja kapanpun dek." Raffa membelai rambut Arya, memperlakukan remaja itu seperti adiknya sendiri. Memang keduanya lebih akrab selama Raff adi rumah keluarga Tan.


Raffa menatap ke arah Alea dan memberinya seulas senyum pada gadis itu. Alea menjadi canggung menerima sikap Raffa yang baginya begitu aneh akhir-akhir ini.


Bagi Alea yang baru mengenal pria itu, dia tak bisa memastikan bagaimana sifat Raffa sebenarnya. Kadang pria itu sangat dingin pada Alea, kadang juga hangat. Alea tak tahu harus bagaimana menilainya lagi.


"Om dan tante gak bisa larang kamu Raf, tapi sering-sering main ke sini ya. Anggap saja ini rumah sendiri. Pintu rumah ini terbuka lebar buat kamu," ucap Zelia.


"Benar Raf yang di ucapkan tante Zelia," ucap Andrew menimpali ucapan istrinya.


"Iya om tante, Raffa berterima kasih sekali kalian mau menerima Raffa di sini."


Zelia dan Andrew tersenyum dan memeluk Raffa secara bersamaan.


"Tentu saja, kami sudah menganggap mu seperti anak kami sendiri Raf," imbuh Andrew.


"Makasih om," jawab Raffa,lalu pria itu menghampiri Alea. Gadis itu salah tingkah karena Raffa tiba-tiba mendekatinya.


"Alea,kalau kamu rindu aku, kamu bisa langsung ke apartemenku saja," goda Raffa. Seketika itu pipi Alea merona. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menahan bibir mereka agar tak tersenyum karena mendengar godaan Raffa pada Alea.


"Apaan sih aku gak bakalan rindu kamu juga kali!" ucap Alea ketus.


"Aduh kak Alea jangan ketus gitu dong, ntar gak ada cowok yang mau loh!" Arya ikut menggoda kakaknya. Dia tak tahan jika harus diam saja.


"Diam kamu anak kecil!" Alea mengambil bantal sofa di pangkuannya dan melempar ke wajah Arya.


"Tuh kan udah ketus, suka marah-marah lagi! Takutnya kalau Arya udah punya pacar kak Alea masih sendiri aja. Iya kan kak Arkan?" Arya malah semakin menambah keruh suasana hati Alea.


"Aku gak ikutan dek," jawab Arkan santai.


"Ampun kak Alea, Arya salah deh!" teriak Arya saat Alea berhasil menangkapnya.


"Dasar anak kecil nakal!" ucap Alea sambil menarik telinga adiknya. Zelia dan Andrew hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak-anaknya itu.


Arya tak berhenti meminta ampun saat telinganya memerah karena di tarik saudara perempuannya. Hingga mereka berhenti bertingkah saat Raffa pamit untuk segera ke apartemen.


Semua orang mengantar Raffa ke depan pintu rumah mereka. Alea hanya menatap punggung Raffa dari kejauhan. Entah kenapa ada perasaan kesepian yang tiba-tiba menyeruak ke hatinya.


"Dia hanya pindah Alea, bukan pergi. Dan kenapa kamu harus sesedih ini?" batin Alea tak mengerti dirinya.


Hingga malam pun tiba, Alea hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Perasaan tak menentu sedari tadi mengikis hatinya.


Alea gelisah jika mengingat tentang Raffa,saat pria itu sakit dan memeluknya. Saat pria itu menjaganya selama ini.


Seharusnya Alea senang karena dia bisa terbebas dari penjaga itu. Dan dia bisa kembali menjalin hubungan dengan pria di luar sana. Tapi kali ini dia tak seantusias seperti dulu lagi.


Di waktu yang sama, Raffa baru sampai di apartemen barunya. Sebelum dia masuk ke dalam apartemen itu, seorang gadis menepuk pundaknya.


"Kak Raffa?" panggilnya, Raffa segera menoleh ke arah gadis itu.


"Monic?" Raffa sedikit terkejut dengan kehadiran Monic.


"Iya kak ini aku, kok bawa koper segala?" tanya Monic heran.


"Oh ini aku akan tinggal di sini, kamu kenapa di sini?" tanya Raffa.


"Aku tinggal di apartemen sebelah ini kak, jadi kita bisa tetanggaan?" jawab Monic.


"Wah kebetulan sekali."


Keduanya asik bersapa hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen masing-masing.


Kini pikiran Raffa di penuhi dengan wajah Alea. Baru beberapa jam tak melihat gadis itu, Raffa merasa ada yang kurang.


"Astaga Raffa kenapa sih mikirin dia lagi," batin Raffa heran dengan dirinya sendiri.


Setelah perdebatan panjang antara hatinya dan juga pikirannya,Raffa memutuskan untuk pergi membeli makanan. Karena perutnya sudah keroncongan kali ini.