Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Zelia Terguncang


Perlahan Zelia mulai membuka matanya, wanita itu merasakan sakit luar biasa di area perutnya.


Matanya mengerjap melihat ke sekelilingnya, tangan kirinya telah di pasang selang infus, sedangkan tangan sebelah kanannya sedang dipegang erat oleh Andrew yang tengah tertidur di kursi samping Zelia, kepala pria itu bersandar di ranjang Zelia.


Namun Zelia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, tangan kanannya meraba bagian perut wanita itu.


Tak ada tanda kehidupan, seketika Zelia lemas tak berdaya, dia menangis tersedu hingga membangunkan Andrew.


"Zelia, kamu sudah sadar?" ucap Andrew.


"Ndrew, bayi kita? dia gak ada Ndrew?" ucap Zelia histeris, Andrew lalu memeluknya untuk membuat Zelia lebih tenang.


"Zelia dengar semua ini sudah Takdir-Nya, kamu harus kuat," ucap Andrew.


"Nggak mungkin Ndrew, tadi pagi dia masih disini!" Zelia menunjuk ke arah perutnya.


"Sayang maafkan aku tidak bisa menjaga kalian," Andrew ikut larut dalam kesedihan itu bagaimanapun dia sangat kehilangan calon bayi mereka.


Zelia menggelengkan kepalanya,dia tak menyalahkan Andrew, justru dirinya lah yang salah karena tak berhati-hati saat dia berada di taman.


Lalu perlahan Zelia kembali mengingat kejadian sesaat sebelum dirinya terjatuh dan pingsan.


"Andrew aku melihat dia,"ucap Zelia tiba-tiba sambil menatap kedua mata Andrew.


"Dia? siapa yang kamu maksud?" tanya Andrew heran, mungkin saja dia yang di maksud oleh Zelia adalah orang yang mencelakai Zelia.


"Frielda Ndrew, dia kembali aku melihatnya sebelum pingsan," ucap Zelia.


"Apa dia yang telah mencelakaimu?" tanya Andrew.


Zelia menggeleng.


"Aku tidak tahu Ndrew, aku hanya melihatnya dengan samar-samar," jelas Zelia.


"Sudahlah jangan di pikirkan hal itu dahulu, sebaiknya kamu istirahat saja," pinta Andrew pada istrinya.


"Tapi Ndrew, gimana dengan bayi kita?" tanya Zelia yang masih berharap bahwa bayinya baik-baik saja.


"Sayang, dengarkan aku," tatap Andrew pada kedua mata Zelia,saat memegang kedua pipi wanita itu.


"Dia pasti sudah bahagia di surga, kamu harus ikhlas, suatu saat pasti akan di ganti oleh Tuhan yang lebih indah," ucap Andrew menenangkan kembali Zelia yang masih terguncang.


Zelia mengangguk sambil membenamkan wajahnya pada dada bidang Andrew, mencari ketenangan di sana.


"Apa kamu kira peringatanku dahulu hanya main-main!" ucap Afzriel Tan, Frielda menunduk tak berani menatap pria paruh baya itu.


"Kakek aku hanya-"


"Hanya apa!" teriak Afzriel Tan memotong perkataan Frielda.


"Hanya ingin mendapatkan seseorang yang tak mungkin melihat ke arahmu sedikitpun?" ucap Afzriel Tan langsung mengenai relung hati Frielda.


"Rasa sayangmu itu salah Frielda," ucapnya lagi membuat Zelia tak berkutik di tempatnya.


Hingga akhirnya pria paruh baya itu melepaskan kembali wanita itu dengan satu peringatan yang akan menghancurkan seluruh hidup wanita itu jika dia berani melanggarnya.


Terlepas dari masalah datangnya Frielda kembali,di sisi lain Andrew masih belum menemukan siapa orang yang mencelakai istrinya, saat kejadian pun tak ada saksi mata di tempat, terlebih lagi Cctv yang terpasang di sana sedang rusak.


Tak ada bukti apapun jika itu perbuatan seseorang, tapi Zelia yakin bahwa dirinya di dorong oleh seseorang lalu dia jatuh terpeleset di rerumputan basah itu.


Sayangnya Zelia tak tahu siapa yang mendorongnya dari belakang hari itu.


Sudah dua hari Zelia masih di rumah sakit,dua hari pula wanita itu hanya murung dan tak mau makan apapun.


Zelia masih trauma akan kehilangan sang buah hati,terlebih ini adalah calon bayi pertama mereka.


Tentu saja tak ada orang tua yang mau kehilangan anaknya, termasuk Zelia dan Andrew, tapi takdir berkata lain.


Andrew merasa iba melihat keadaan istrinya yang sering melamun di ruang rawatnya itu, sesekali pria itu mengajak Zelia keliling koridor rumah sakit menuju ke taman di sana, untuk melepas kesedihan wanita itu.


Suasana hati Zelia tak berubah, hingga akhirnya Andrew memutuskan untuk membawa Zelia pulang ke rumah, dia juga harus absen dari perusahaan dan kampus untuk sementara waktu, sampai keadaan Zelia baik-baik saja.


"Sayang, ayo makan ya, aku suapin?" ucap Andrew pada Zelia di meja makan,Zelia hanya terdiam tanpa meresponnya.


Andrew menghela nafas panjang,usahanya gagal membuat Zelia tersenyum kembali.


"Zelia tolong jangan seperti ini, aku gak tega ngelihat kamu seperti ini sayang," ucap Andrew sambil memeluknya.


"Aku yakin kita akan mendapatkan kembali calon bayi kita, kamu harus ikhlasin dia pergi," ucap Andrew lagi, Zelia kembali menitikkan air matanya, baru kali ini hidupnya begitu lemah, dia yang terbiasa kuat dan tak peduli sesakit apapun dunia menghujatnya tapi rasa yang dia saat ini alami benar-benar mengambil separuh hidupnya.


Wanita itu akhirnya mau menuruti ucapan Andrew, setelah merasa semuanya akan baik-baik saja, perlahan hatinya mulai mengikhlaskan kepergian calon bayinya ke surga.


"Tenanglah di sana sayang, meski mama tak pernah melihatmu, meski kita tak pernah bertemu, tapi mama sudah menyayangimu," batin Zelia.


Akhirnya keduanya makan dalam balutan kasih sayang, keduanya saling menangis dalam hati tapi keduanya pula bahagia bisa saling mendukung di saat keadaan terpuruk seperti saat ini.