
saat Lea membuka pintu apartemen, di depan sudah ada kedua mertua nya dan juga Cakra yang ikut merasakan kesedihan nya.
Lea menatap Mama indah, dan mertua nya itu langsung mendekap tubuh menantu nya dengan erat seakan menyalurkan ketenangan.
"sayang, mas bisa jelasin semua nya.ayo kita pergi ke sana sekarang ya". ajak Leon
" mah, anterin lea ke rumah bapak ya sekarang". pinta Lea ke mertua nya itu tanpa memperdulikan perkataan Leon barusan.
Mama indah yang sudah mengerti keadaan nya langsung memberi kode kepada Leon agar sabar terlebih dahulu jika ingin menjelaskan semua kepada istri nya itu, karena saat ini, wanita itu sedang dikuasai oleh emosi.
Leon menggangguk seakan mengerti apa maksud dari mama nya itu.
"Ya sudah, ayo kita pergi ke sana ya. kamu yang kuat ya sayang, kalau mau nangis, kamu nangis aja. luapkan semua nya". perintah Mama Indah
mereka semua pun masuk ke dalam mobil, Begitu pun dengan Leon yang mengikuti nya dari belakang menggunakan mobil nya sendiri bersama dengan Cakra.
"Sabar ya Kak, gue yakin kalau Kakak Ipar setelah ini bakalan ngerti sama keadaan nya. saat ini dia lagi sedih, dia lagi terpuruk. nggak akan ada anak yang baik-baik saja saat Ibu nya meninggalkan nya untuk selama nya, walaupun kini dia sudah menjadi istrimu. Tapi tetap saja, orang tua nya juga dunia nya". Jelas Cakra yang mendadak menjadi bijak
" Iya Cak, gue cuma ngerasa serba salah. gue enggak ingin kalau Lea sedih dan terluka seperti in. Gue juga gk mau melanggar janji Gue sama mertua gue sendiri, tapi di sisi lain gue pasti mendapatkan kosankuensi yang berat. Lea saat ini menganggap kalau gue ini jahat, tapi yang di katakan nya memang benar, gue emang belum bisa jadi suami yang baik buat dia". ucap leon dengan meneteskan air mata nya
lelaki yang terlihat cuek dan seakan tidak pernah peduli pada orang lain itu kini menangisi dan merutuki kebodohan nya sendiri.
Kini dia telah melukai orang paling dia sayang, bahkan jika dia berada di posisi Lea saat ini, diri nya juga pasti akan marah lebih besar dan menghancurkan siapa saja.
Leon menutupi hal besar seperti ini demi kebaikan, Namun justru bukan kebaikan malah sesuatu yang paling menyakitkan bagi orang yang sangat ia sayangi.
"maafin Mas, Lea. Mas Salah". Lirih Leon
sesampai nya mereka semua di kediaman kedua orang tua Lea, wanita cantik itu langsung berlari masuk ke dalam rumah yang di depan nya sudah berkibar Bendera Kuning.
ada sebuah keranda yang akan mengantarkan Ibu nya menuju kehidupan yang abadi.
"ibu!!". teriak lea histeris dengan air mata yang sedari tadi tak berhenti menetes di pipi nya
semua orang memberikan akses untuk Lea masuk ke dalam, Baru kali ini rumah nya di datangi oleh banyak orang dengan menggunakan pakaian serba berwarna hitam.
"Nduk.. ibu kamu sudah bahagia dan tenang di sana, kamu yang ikhlas ya". Ujar Pak Heru mengusap punggung Lea yang terus memeluk tubuh ibu nya yang sudah terbujur kaku itu dengan mata yang terus tertutup.
"Ibuu... Kenapa Ibu nggak mau kasih tahu Lea tentang penyakit Ibu? kenapa kalian semua tega sama Lea? ibu lihat Lea, Lea mohon Ibu bangun ya, Lea akan selalu temani Ibu di sini, mereka semua jahat sama Lea, mereka sembunyiin kenyataan ini dari Lea". Teriak Lea histeris dengan menangis tersedu-sedu
Leon langsung mendekat dan duduk di sebelah istri nya itu, saat lea tidak terkendali Leon langsung memeluk istri nya itu dan memegang kuat tangan nya dengan air mata yang mengalir begitu saja.
"sayang, kamu harus sabar. kamu harus kuat ya".
"Kenapa kalian semua jahat, Lea cuma mau bicara sama Ibu sekali saja, tapi kenapa kalian semua enggak ngizinin? apa ini alasan pernikahan Lea di percepat? ". lirih nya lagi
Leon pun langsung menatap Mama indah dan papa Damar saat mendengar perkataan Lea itu, karena bagi nya perkataan istri nya itu juga terdengar masuk akal, maka nya mereka menitipkan Lea pada diri nya dan mereka percaya kepada Leon untuk menjaga Lea.
namun saat di tatap, Mama Indah malah menunduk ke bawah.
Leon kembali membawa lea ke dalam pelukan nya untuk menenangkan istri nya itu.
"yang sabar ya sayang, kita Doain sama-sama biar Ibu tenang di san". Ucap Leon
hari itu juga pemakaman ibu diadakan, mereka semua berada di rumah Singgahan terakhir wanita paruh baya itu.
Manik mata Lea terus menatap ke arah lubang yang sedikit demi sedikit tertutup rapat oleh tanah, kemudian air mata nya terus saja menetes tanpa bisa terkendali.
Leon terus merangkul Lea dan memberikan kekuatan untuk istri nya itu, agar bisa sabar dengan cobaan yang pasti semua orang akan mengalami nya.
Saat pemakaman telah selesai, satu persatu orang telah pergi melangkahkan kaki nya menjauh meninggalkan tempat peristirahatan terakhir ibu Lea.
Kini hanya tersisa Lea dan Leon saja di pusara itu, Lea terus menatap bunga yang bertaburan di atas gundukan tanah dan juga Nisan yang bertuliskan nama ibu nya.
"Ibu, harus bahagia di sana ya. sekarang ibu sudah enggak sakit lagi". lirih Lea
"Lea di sini akan mencoba mengikhlaskan Ibu, maafin Lea yang suka menyusahkan Ibu. maafin Lea yang nggak tahu tentang sakit yang Ibu derita selama ini, maafin Lea yang nggak bisa ngerawat ibu di detik-detik terakhir ibu di dunia ini, Lea kali ini merasa gagal jadi anak Ibu, Sampai ketemu di surga nanti ya Bu, Tungguin Lea di sana". lirih Lea dengan air mata yang tak pernah surut dari mata nya
Leon yang Mendengar hal itu tidak mampu menahan air mata nya juga, Lelaki itu Menangis sesenggukkan memalingkan wajah agar tak di lihat oleh Lea, namun Lea sendiri melihat nya dan berkata kepada suami nya itu.
"mas, Pulanglah dulu. aku masih ingin di sini". Ucap Lea
"enggak, Mas akan nungguin kamu di sini, Mas akan selalu berada di samping kamu". Sahut Leon yang tidak ingin meninggalkan istri nya itu
"Terserah, tapi untuk saat ini aku ingin sendiri.". tegas Lea
"Sayang, maafin mas ya".
"Mas, denger kan yang Lea katakan tadi?". Ucap Lea lebih lembut
Leon menganggukan kepala nya, dan mengecup lembut kening istri nya itu.
"kamu harus kuat ya, mas nunggu di mobil".
setelah kepergian leon, Lea pun kembali menetap ke arah Nisan yang bertulis nama Ibu nya. lalu ia melihat lurus ke arah depan, mencoba membuat halusinasi nya sendiri bahwa di depan sana ada ibu nya yang sedang tersenyum ke arah nya dengan Melambaikan tangan nya.