
Putra pun langsung mengambil surat itu dari tangan Leon dan merobek nya menjadi dua bagian, lalu ia memasukkan nya kembali ke dalam tas nya, karena ia malas membaca surat dari lelaki yang sudah menyakiti diri nya dan juga mama nya.
"gue nggak minat sama harta itu, jadi semua ini bakal gue sumbangin aja". ujar Putra dengan mantap
" Lo Yakin sama keputusan Lo?". tanya Satria
"ya, rumah itu akan gue jadiin Yayasan entah itu Panti Asuhan atau panti jompo, dari pada rumah itu nggak berguna sama sekali dan nanti malah jadi tempat yang sebangsa sama kayak Lo". celetuk Putra kepada Satria
" Sialan Lo, Lo kira gue setan".
"udah ya, kalian semua nggak perlu simpati atau iba ke gue, karena gue masih punya uang tabungan yang cukup kok. dan gue juga bakal usaha sendiri untuk diri gue, jadi gue nggak ingin hidup dari hasil lelaki itu". jelas Putra
mereka semua yang mendengarkan nya hanya mampu mendukung keputusan dari Putra, karena yang paling mengerti nasib nya dan jalan seperti apa yang akan di pilih nya nanti hanyalah Putra yang tahu.
namun mereka semua tetap akan berada di garis paling terdepan, jika Putra membutuhkan mereka.
Putra langsung meletakkan tas nya dan melirik ke Arah Leon dan juga Lea berada
"Oh iya, by the way selamat ya buat pernikahan kalian berdua". Ucap Putra spontan
Leon dan Lea langsung membelalakan mata nya karena terkejut dengan ucapan dari Putra yang tiba-tiba, mereka berdua menatap tajam ke arah Putra.
lelaki itu pun ikut terkejut saat tersadar dari kecerobohan nya, ia melirik ke arah yang lain nya yang sedang membutuhkan penjelasan dari perkataan nya barusan.
"Apa maksud Kak Putra? jadi kalian berdua udah nikah Le..? Demi apa? Lo kenapa nggak cerita sama gue? Kak Leon yang di katain sama Kak Putra beneran, nggak bohong kan? ". tanya Sisil dengan bertubi tubi menampilkan wajah yang serius
Putra langsung tersenyum dengan kaku, Seraya menggaruk belakang kepala nya yang terasa tidak gatal.
Lelaki itu langsung mengangkat tangan nya ke atas dan berlari kabur begitu saja.
"Woi brengsek!! Jangan lari Lo, jelasin sama orang-orang ini". Teriak Leon dengan kesal
"Lea.. jangan diam aja, jawab!". linta Sisil yang dengan tidak sabar
"apaan sih kalian berdua, kalian percaya aja sama ucapan Kak Putra? ya Nggak mungkin lah Gue udah nikah"? jawab Kea
Leon pun langsung berdecih dengan kesal dan bangkit dari duduk nya, lelaki itu langsung berlari mengejar Putra untuk menangkap nya.
"ini semua gara-gara lo! jadi, jelasin semua sama mereka sekarang!!".
"ya sorry ya Leon, gue keceplosan tadi. sumpah, ampun gue tadi nggak sengaja". jawab Putra dengan nafas yang tersengal-sengal
" Cakra!! tolongin gue, tolong Lo jelasin ke mereka ya". Ucap Putra bersembunyi di balik tubuh Cakra dan menarik narik baju nya
"Jelasin apaan sih Woi!! jangan kayak gitu ntar baju gue robek, b*ngs*t!". kesal Cakra yang berusaha melepaskan tangan Putra dari baju nya
"jelasin ke mereka kalau omongan lo tadi nggak bener!! kalau Lo gk jelasin, Gue habisin sekarang juga Lo". ancam Leon yang terus mengejar Putra.
...****************...
sedangkan di tempat lain Sisil dan juga Satria menuntut penjelasan dari Lea, namun wanita itu hanya tersenyum dengan kaku dan mengalihkan pandangan nya dari kedua nya.
"Please.. Lo jujur sama gue apa itu benar? dan apa ini alasan nya lo nggak ijinin gue buat ke rumah lo? ". tanya Sisil
"Astaga Sil.. kalian berdua kenapa sih? secara logika aja ya, masa iya gue masih sekolah dan Kak Leon juga masih sekolah udah nikah?yang masuk akal sedikit dong, Kak Putra kalian percaya, udah tahu dia suka buat onar di sekolah". jelas Lea sedikit gugup
" terus kenapa Lo gugup begitu? kalau emang lo nggak ada apa-apa, harus nya kalian berdua Santai aja dong gk usah gugup begitu". Timpal Satria
"lah ya bener tuh kata Kak Satria". Jawab Sisil
saat ini Lea benar-benar di buat dengan tak berdaya oleh pertanyaan yang bertubi-tubi dari Sisil dan juga Satria, Lea menghembuskan nafas nya dengan kasar dan melirik ke ke arah Devan yang sedang melintas. Lea menatap nya dengan tersenyum smirk.
"Eh itu ada Kak Devan,". Ucap Lea
Sisil yang mendengar perkataan dari Lea langsung menolehkan kepala nya ke belakang dan mata nya langsung berbinar saat melihat Pujaan hati nya, Ia pun langsung menghampiri lelaki itu.
"Kak Devan! ".
Lea menghela nafas dengan lega karena telah berhasil mengalihkan perhatian Sisil, Sedangkan untuk Satria, Lea menatap lelaki itu dengan tatapan tajam.
"apa lagi? mau penjelasan apa lagi sih? Kalau gitu tanya aja sana sama Kak Putra, da minta pertanggung jawaban sama dia". Sungut Lea
" Ini seriusan? Tenang aja gue juga bisa jaga rahasia kok kalau emang beneran". ujar Satria
"Astaga Kak, gue harus ngasih penjelasan yang gimana lagi coba biar lo itu ngerti!". ucap Lea yang langsung mendorong tubuh Satria agar segera pergi dan bergabung dengan tim basket nya
"udah ah sana".
sedangkan di tempat lain tepat nya Sisil dan Devan terlihat sedang berseteru, terlihat juga mereka sedang membicarakan hal yang serius.
"Lo ngapain sih ngikutin gue terus? ". tanya Devan dengan ketus
"ya kan, aku suka sama lo kak". ujar sisil
"Gue nggak suka sama lo, jadi tolong jangan ikutin gue terus. mendingan lo jaga jarak deh, Gk usah kayak gini. gue nggak mau ngasih kepastian sama lo, gue nggak ingin loh berekspektasi terlalu tinggi, karena itu nggak akan pernah terjadi". Ketus Devan
Sisil tahu Resiko yang akan ia hadapi di masa depan, karena walaupun perasaan nya dengan Devan hanya sekedar kagum dan suka saja, namun ia Belum memasuki ekspektasi untuk menjadi kekasih dari lelaki itu.
"Gue tahu kok, dan gue bisa buat Kak Devan suka sama gue". ujar Sisil tersenyum manis
" Lo ini susah banget ya di bilangin!". ujar Devan yang langsung melirik ke arah Lea dan langsung menghampiri nya
Sisil menatap punggung Devan dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan, sedangkan Devan malah duduk di sebelah Lea dan tersenyum manis ke arah wanita itu, membuat menyisakan sedikit rasa sesak di dada sisil.
"Lea, lo mau nggak nonton sama gue?". tanya Devan
"apa? Kenapa lo ngajak gue? Jelas sisil yang suka sama Lo kak".
" tapi gue suka nya sama lo". JawabDevan
"lo ngomong apa sih Kak? nggak lucu ah Lo bercanda gini". Ujar Lea yang terkejut dengan pernyataan yang keluar dari Mulut Devan
" Gue nggak bohong, Gue tahu kalau lo udah jadi milik Leon, tapi perasaan gue bebas untuk siapapun kan dan gue bakal ngasih tahu kebusukan Leon". ujar Devan dengan serius
"Kebusukan apa? ". Ucap Lea yang langsung menatap ke arah Sisil yang sedang menatap mereka dengan Tatapan yang sangat sulit dbiartikan, namun saat ia ingin berdiri tangan Devan menarik tangan Lea, hingga wanita itu kembali terduduk.
"Lea, gue serius suka sama lo dari awal lo masuk di sekolah ini".
"please Kak, perasaan lo ini nggak bener, lo harus coba balas perasaan Sisil dan nggak seharus nya Lo bilang gini ke gue pas ada Sisil di sini". jelas Lea yang menatap Devan dengan Tatapan yang kesal
"gue suka nya sama lo bukan suka sama Sisil, Jadi lo bisa ngerti nggak sih tentang perasaan gue".
Sisil yang mendengarkan hal itu langsung meninggalkan tempat itu dan membuat Lea langsung turun mengejar teman nya itu.
"Sisil..".
Sisil langsung menghentikan langkah nya dan membalikan tubuh nya saat nama nya di panggil, ia mencoba memperlihatkan senyuman termanis nya.
"udah gue nggak mau masalah tentang itu kok, gue nggak apa-apa". jawab sisil
" Sil, Lo harus percaya sama gue. Gue nggak suka sama Kak Devan, Jadi Lo Jangan berpikiran yang enggak-enggak ya".
Sisil hanya tersenyum dan menganggukkan kepala nya
" ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya". pamit Sisil dengan Melambaikan tangan nya dan langsung berjalan menuju ke arah parkiran
sedangkan Lea merasa sangat bersalah sekali karna sudah membuat Sisil kecewa, walaupun ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Devan.
Lea menarik nafas nya dengan panjang saat melihat Leon melangkah ke arah nya begitupun juga dengan Devan yang membuat Lea langsung berlari menuju ke arah Leon dan memeluk nya.
Hal itu membuat Devan menatap nanar ke arah mereka berdua dan langsung mendekat ke arah Lea dan juga Leon
"Lea... Lo jangan percaya sama lelaki busuk ini, lo mau tahu yang sebenar nya kan? ". tanya Devan
kepada Lea
Leon langsung mengeraskan rahang nya dan menatap ke arah depan dengan Tatapan yang panik dan juga emosi
"Sialan Brengsek!! lo jangan bicara omong kosong ya di sini! ". ujar Leon
"Gue bicara omong kosong? Cihh.. Lo tahu kan kenapa waktu itu kita bisa bertengkar? ".
"jadi ada apa?". Tanya Lea dengan menatap mata Leon dengan Tatapan yang tajam
"Apa masalah nya? ". tanya Lea lagi kepada Kedua lelaki itu
"Sayang, jangan denger omongan Devan. dia tuh cuma omong kosong aja, kamu percaya sama aku kan? ". tanya Leon
"Iya aku percaya sama kamu, tapi aku cuma ingin tahu apa Masalah kalian berdua waktu itu". tanya Lea menatap mereka berdua secara bergantian
"Lea, Lo cuma di jadikan...".
Buuugghhh...