
Di sebuah taman belakang rumah, dua kakak beradik tengah bergembira bersama. Sang kakak membantu adiknya untuk perlahan berjalan menggunakan tongkat kayu.
"Kak Raffa, Mona takut," ucap Mona saat hendak perlahan melangkahkan kakinya setelah di bantu berdiri oleh kakaknya.
"Tenang saja Mona, kak Raffa bantuin pegang tangan Mona biar gak jatuh."
Mona mengangguk, dia perlahan mencoba melangkah di bantu oleh Raffa. Kakinya yang masih belum sepenuhnya sembuh itu lebih baik daripada sebelumnya. Meski masih terlihat kesulitan untuk berjalan normal. Tapi Mona tak boleh menyerah.
Demi bisa segera sekolah, dia harus sembuh. Sang kakak selalu memberinya dukungan pada Mona. Sang kakak juga menceritakan bagaimana anak-anak yang bersekolah itu.
Setelah mendapatkan perawatan terbaik oleh salah satu dokter khusus yang di pilih oleh kedua orang tua Raffa. Kaki Mona semakin membaik.
Kini gadis kecil itu perlahan mulai membiasakan diri berjalan dengan tongkat kayu.Jika di dalam rumah dia berpegangan pada dinding atau kursi yang ada di sekitarnya. Raffa pun tak lupa mengawasi sang adik sepulang sekolah.
Di bantu oleh asisten rumah tangga, Mona di jaga olehnya sebelum Raffa pulang. Setelah pelajaran sekolah selesai, Raffa bergantian menemani Mona.
"Nah begitu Mona, kamu pasti bisa," ucap Raffa menyemangati adiknya. Mona mulai berjalan perlahan, jika kakinya sudah kuat menopang tubuhnya. Mona melepaskan tongkat kayu yang di pakainya.
Sejak kehadiran Mona, Raffa lebih ceria. Dia juga tak lagi pergi ke hutan sembarangan seperti dahulu.
Sikapnya juga mulai bisa di atur, tak lagi melawan Wina dan Ardan. Keberadaan Mona telah merubah Raffa secara perlahan.
Setelah beberapa jam Raffa dan Mona latihan berjalan, mereka memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Di dalam rumah Wina dan Ardan yang kebetulan telah libur kerja sedang menunggu keduanya.
"Ayo sayang, sini kita makan dulu!" ajak Wina setelah selesai menyiapkan makanan mereka.
"Iya ma," keduanya kompak menjawab.
Mereka semua menikmati makan siang bersama dalam balutan keluarga yang lengkap.
Berbeda dengan Zelia yang saat ini tengah merindukan keberadaan putrinya. Di temani Arkan, Zelia kini berada di sebuah restoran. Keduanya menikmati makanan juga. Namun Zelia tak begitu bersemangat untuk melahap makanannya.Dia masih memikirkan keadaan Alea di luar sana.
Hari ini seharusnya waktu berkumpul bersama keluarga, namun Andrew yang masih sibuk dengan pekerjaannya tak bisa menemani mereka.Pria itu tengah memeriksa beberapa masalah perusahaan.
"Bukan begitu sayang, mama agak sedikit lelah saja. Lagian papa kan sibuk buat kita juga."
"Kalau begitu Arkan ingin cepat dewasa, biar bisa bantu papa ma," ucap Arkan polos begitu saja. Zelia merasa tersentuh dengan ucapan putra kecilnya. Di usianya yang belum genap lima tahun bahkan Arkan sudah berfikiran dewasa.
"Anak pintar, Arkan harus janji belajar yang bener, biar kalau dewasa bisa bantu papa."
Zelia mengelus puncak kepala putranya lembut.
"Iya ma, Arkan akan cepat dewasa dan bisa membantu papa mencari Alea juga."
Lagi-lagi hati Zelia tergetar mendengar ucapan Arkan. Tak terasa kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Seharusnya Arkan dan Zelia saat ini bersama. Seharusnya keduanya bisa belajar bersama. Tumbuh bersama.
"Mama kok nangis,Arkan salah bicara ya, Arkan gak akan nakal lagi ma," Arkan turun dari kursinya dan memeluk Zelia. Wanita itu segera menghapus air mata yang sempat turun ke pipinya.
"Tidak sayang, kamu tidak salah dan nakal. Mama hanya teringat adikmu saja."
Zelia membalas pelukan Arkan dengan kasih sayang.
"Arkan pasti akan menemukannya nanti ma, Alea pasti akan bersama kita." Bisik Arkan di telinga mamanya.
"Iya sayang,mama percaya sama Arkan."
Lagi air mata Zelia tak bisa terbendung, semuanya tumpah begitu saja. Bagaimana dia bisa serapuh ini sedangkan putra kecilnya begitu tegar.
"Terima kasih Tuhan untuk malaikat kecil terbaikmu untuk keluargaku,dan persatukanlah kami lagi seperti dahulu," batin Zelia mengenang masa dimana Alea masih bersama mereka.
Zelia rindu, sangat merindukannya. Setiap hari dia tak berhenti untuk berdoa agar putrinya kembali pada mereka. Harapan itu semakin besar setiap hari, setelah mengetahui bahwa Alea telah di tolong seseorang. Zelia semakin yakin bahwa mereka akan segera bertemu.