
Arkan berjalan ke kamar Alea dan mengetuk pintunya.
"Dek ini kakak, buka dong pintunya, kakak mau bicara nih!" ucap Arkan. Di balik pintu kamar itu Alea masih enggan beranjak dari lantai. Setelah pertengkaran tadi Alea hanya duduk bersandar kaki di lantai kamarnya.
Alea masih belum menjawab atau membuka pintu kamarnya. Arkan yang berada di luar ruangan hanya bisa menghela napas dalam. Karena sang adik sudah marah dengannya.
"Ayolah dek buka pintunya. Ada hal penting yang harus kakak sampaikan, ini pesan dari papa dan mama buat kamu," jelas Arkan.
Klek
Suara pintu terbuka, tampak Alea dengan mata sembab dan rambutnya yang berantakan.
"Apa?" tanya gadis itu dengan ketus.
"Duh jelek banget sih kalau marah gini," goda Arkan.
Dari pintu kamar yang lain Raffa tengah mendengarkan percakapan keduanya.
"Kalau cuma mau menggodaku mending kakak balik ke kamar deh!" ucap Alea kesal sambil hendak menutup pintu kamar kembali.
"Eits tunggu dulu," Arkan menahan pintunya agar tetap terbuka.
"Oke-oke kakak gak akan mengodamu lagi."
"Cepetan bilang pesan papa apa?" tanya Alea.
"Papa minta kamu mulai besok harus di antar jemput sama kak Raffa. Kemana-mana juga harus di temenin dia."
"Apa!" teriak Alea tak percaya.
"Serius ini dek, kalau gak percaya telepon papa aja deh!" pinta Raffa.
Brak! Alea menutup pintu kamarnya dengan cukup keras. Tanpa mengatakan apapun pada Arkan. Membuat Arkan seketika mundur agar hidungnya tetap terselamatkan.
"Duh dek jangan marahnya ke kakak dong, itu kan papa sama mama yang minta."
"Pergi kamu kak!" usir Alea dari dalam kamar. Mendengar kakaknya tak berhenti berceloteh membuatnya semakin pusing. Di tambah lagi kebebasannya semakin di batasi jika papa meminta Raffa untuk menjaganya.
"Kenapa harus sama Raffa sih?" gumam Alea yang tak bisa membayangkan bagaimana dirinya akan menghadapi pria dingin itu.
Keesokan paginya, di meja makan keempat anak itu duduk di kursi masing-masing dengan roti dan susu di depan mereka.
Tak ada yang berbicara atau sekedar saling menyapa. Hanya Arya yang tengah sibuk memperhatikan ketiga kakak-kakaknya itu.
"Ini kenapa sih suasananya mengerikan begini?" batin Arya yang merasakan atmosfer di sekitarnya berubah drastis saat Alea muncul.
"Udah belum dek?" tanya Arkan pada Arya.
"Kalau gitu ayo berangkat," ajak Arkan.
"Eh iya," Arya mengambil tas dan menggendong di punggungnya, dia lalu mengikuti langkah kakak laki-lakinya itu. Namun baru beberapa langkah saja Arya tiba-tiba berhenti.
"Kak Arkan,tungguin kak Alea dong!" ucapnya.
"Biarin dia nanti di antar kak Raffa," Jawab Arkan yang masih tak menghentikan langkahnya. Arya harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah kakaknya itu.
"Tumbenan kak?" tanya Arya penasaran.
"Udah diam aja, nanti di mobil aku ceritain."
Arya hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Raffa dan Alea masih di meja makan.
"Ayo berangkat!" ajak Raffa.
Alea hanya mengikuti langkah pria itu. Sejujurnya dia tak mau jika terlalu dekat dengan Raffa. Tapi entah mengapa kedua orang tuanya seperti ingin mendekatkan mereka.
Di atas motor Alea hanya terdiam saja tanpa sedikitpun mengajak Raffa berbicara. Sesampainya mereka di sekolah Raffa juga mengikuti Alea turun dari motor.
Alea berhenti sejenak untuk melangkahkan kakinya,dia lalu menatap tajam ke arah Raffa yang berada di belakangnya.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Alea kesal.
"Memangnya kenapa lagi? aku kan di suruh menjagamu?" ucap Raffa tenang.
"Tapi tidak perlu sampai ke kelas juga kan?" tanya Alea.
"Itu juga termasuk, aku akan menunggumu di luar!" ucap Raffa.
Alea menahan amarahnya dan perlahan menghembuskan nafas pelan-pelan.
"Itu tidak perlu, kamu bebas kemana aja setelah mengantarku ke sekolah."
"Aku tidak mau," ucap Raffa gigih.
"Ah terserah kamu!" Alea sudah di ambang batas kesabarannya. Dia tak memperdulikan pria itu lagi.
Sepanjang perjalanan ke kelasnya,semua mata memandang ke arah Raffa. Terlebih lagi bagi para gadis-gadis di sekolah itu. Tak berhenti mengagumi ketampanan pria itu. Alea semakin kesal karena hal itu membuat dirinya akan terlibat masalah lagi. Alea sudah bisa menebak bagaimana nanti para gadis itu mendekatinya untuk membantu mereka mengenal Raffa.Itu berarti beban dia menjadi bertambah.
"Aku benci di kelilingi cowok tampan!" jerit hati Alea, namun tak akan ada yang mendengarnya. Yang perlu Alea saat ini lakukan adalah menutup telinga dan juga bersembunyi dari para gadis-gadis itu.
Raffa benar-benar menunggu Alea di depan kelasnya. Sesekali pria itu mengawasi Alea dari luar. Membuat gadis itu semakin risih, karena Afo juga tak bisa mendekatinya untuk sementara waktu.
Alea sudah memberi tahu Afo jika pria di luar itu menjaganya. Dan Afo bisa paham hal itu. Keduanya mungkin akan bertemu secara diam-diam jika ada waktu.