Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Jahat Kamu Raffa


Suasana canggung begitu terasa di ruang tamu rumah megah keluarga Raffa. Alea sesekali menghapus air matanya. Sedangkan Raffa di penuhi dengan rasa bersalah,dia duduk di samping Alea.


Sedangkan di sebelah pria itu duduk wanita yang tadi di cium olehnya. Kemudian di seberang tempat Alea duduk ada kedua orang tua Raffa.


"Pa ma ini Alea, dia putri dari om Andrew Tan." Jelas Raffa pada kedua orang tuanya.


"Alea ini kedua orang tuaku dan ini adalah Sanny," Raffa memperkenalkan mereka pada Alea.


"Halo om tante dan kakak Sanny, aku Alea."


"Hai Alea, aku Sanny, calon istri Raffa."


Bagaikan tersengat listrik berdaya besar. Alea sebisa mungkin bertahan agar air matanya tak kembali jatuh.


Sedangkan Raffa hanya bisa mendelik pada Sanny karena mengatakan hal itu. Ingin sekali Raffa memarahinya.


Lalu apa arti beberapa bulan lalu, di saat Raffa belum kembali ke sini. Apa arti ucapannya tentang perasaan pria itu padanya? Semuanya hanya palsu!


Pikiran Alea penuh dengan kekecewaan. Ingin rasanya Alea segera pergi dari rumah itu. Tapi dia tak bisa berbuat tak sopan karena ada kedua orang tua Raffa.


"Alea ternyata kamu sangat cantik, dulu kami lah yang merawat mu, kamu masih sangat kecil waktu itu. Iya kan pa?" ucap mama Raffa.


"Benar ma, dulu dia sangat imut. Sekarang besar pun sangat cantik." Balas papanya Raffa.


"Makasih om,tante, oh ya Alea sepertinya tidak bisa berlama-lama lagi. Masih ada hal yang Alea harus selesaikan, Alea mohon pamit dulu," ucap Alea ingin segera pergi.


"Kenapa buru-buru nak? kamu kan baru datang, ayo makan dulu."


Ajakan mamanya Raffa membuat Alea tak enak hati. Tapi dia sudah tak bisa menahan air mata dan juga rasa sakitnya.


"Ma kayaknya Alea memang buru-buru, sebaiknya Raffa yang mengantarnya."


Raffa ingin menjelaskan semuanya pada Alea. Dia tahu telah menyakiti hati gadis itu.


"Baiklah, mama gak bisa maksa Alea. Mungkin lain kali kamu bisa main lama di sini ya sayang," ucap mama Raffa yang begitu tulus.


"Iya tante, maafin Alea ya," Alea lalu pamit pada kedua orang tua Raffa.


Saat hendak melangkah pergi, Raffa mengikuti gadis itu. Sanny yang melihat gelagat Raffa berfikir pasti ada sesuatu pada dia dan Alea.


Sanny mengikuti Raffa dan Alea dari kejauhan. Sedangkan Alea masih tak mau berhenti berjalan cepat saat Raffa memanggil namanya beberapa kali.


"Alea, tunggu dulu Alea, aku ingin menjelaskannya!" Raffa menarik tangan kiri gadis itu.


"Mau ngejelasin apa lagi kak? Semuanya palsu!" ucap Alea kecewa sambil mengibaskan tangan pria itu. Air matanya sudah mengalir di kedua pipinya.


"Maaf Alea, Sanny dan aku tak sengaja bersama. Saat itu aku mabuk dan semua terjadi tanpa aku sadari. Maafkan aku. Sebagai pria aku harus bertanggung jawab. Tapi perasaanku tak pernah palsu padamu," jelas Raffa.


"Jadi dia hamil?" tanya Alea tak percaya. Raffa menganggukkan kepalanya pasrah.


Plak!


Alea menampar pipi kiri pria itu. Dia sangat marah kali ini. Dia tak percaya pria yang dia cintai ternyata berbuat semenjijikkan itu.


"Aku gak nyangka kita akhirnya seperti ini. Setelah beberapa bulan ini aku menunggumu. Aku pikir kamu juga sama menungguku. Ternyata itu hanya angan ku. Makasih buat lukanya!"


Alea melangkah pergi setelah mengatakan hal itu. Tapi sekali lagi Raffa mencegahnya. Dia ingin memeluk gadis itu. Tapi dengan sekuat tenaga Alea menepisnya.


"Jangan sentuh aku, dan jangan pernah lagi kita bertemu!" bentak Alea.


Raffa menyesal telah menyakiti Alea. Jika bisa di ulangi kejadian satu bulan lalu tidak ingin Raffa alami. Sekarang semuanya menjadi berantakan.


"Jadi dia gadis yang membuatmu jatuh cinta!" batin Sanny.


Alea tak lagi memperdulikan Raffa, dia segera berlari menuju ke mobilnya.Dan meminta kedua pengawalnya untuk kembali ke hotel.


Rasa sakit di hatinya benar-benar tak bisa Alea tahan lagi. Hingga membuat kedua pengawal itu khawatir karena Alea menangis tak mau berhenti.


"Nona kenapa?" tanya pengawal perempuan yang bernama Rara itu.


"Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu melapor pada papa," jawab Alea.


Kini dia tiba di hotel. Alea segera berbaring di ranjang dan menangis sejadinya. Dia masih tak percaya jika yang dia alami hari ini adalah kenyataan.


"Pasti ini hanya mimpi? Pasti dia masih menungguku!" gumam Alea.


Tapi saat mencubit kedua pipinya dia merasakan sakit. Dan semua memang bukanlah mimpi.


Harapannya hancur seketika hanya dalam sehari.


"Kenapa kamu tega Raffa, kenapa?" jerit Alea, dia menangis tak henti-henti. Bahkan dia mengacak rambutnya.


Di tengah-tengah tangisnya,sebuah panggilan video masuk ke dalam ponselnya.


Alea lalu meraih ponsel itu, tertera nama Reihan di layar. Alea ragu untuk menerima panggilan itu. Dia sangat kacau saat ini. Apa lagi kedua matanya sudah sangat sembab karena terlalu lama menangis.


Meski tak di acuhkan, Reihan masih berusaha menghubungi Alea. Pria itu merasa khawatir padanya.


Hingga panggilan ke lima, Alea akhirnya menerimanya. Dengan malu dia merapikan rambutnya terlebih dahulu.


"Halo Alea?" sapa Rei dari seberang telepon. Wajah pria itu terlihat sangat senang bisa menghubungi Alea.


"Ya halo Rei," jawab Alea. Suaranya parau karena menangis.


"Kamu kenapa? kok nangis?" tanya Rei khawatir.


"Aku gak apa-apa kok Rei," Alea tak mungkin menceritakan kisah cintanya yang memilukan sebelum sempat resmi berpacaran. Karena terlalu malu untuk mengakuinya. Bahwa dia sedang patah hati.


"Kamu serius?" tanya Rei.


"Kamu jangan khawatir Rei aku baik-baik saja," jawab Alea tapi kedua matanya tak bisa berbohong. Alea menangis lagi mengingat Raffa.


"Kamu bohong Alea!" Rei tahu bahwa gadis itu telah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Aku ingin pulang besok Rei!" akhirnya tangis Alea pecah lagi. Dia tak bisa melupakan begitu saja tentang hari ini.


"Cerita saja Alea jika memang bisa membuatmu lebih baik! Aku siap mendengarkan mu!" pinta Reihan.


"Raffa udah punya calon istri Rei. Dia tega membohongi ku. Sakit!" Alea mengeluarkan semua isi dalam hatinya. Berharap bahwa Raffa hanya sedang bercanda. Berharap Raffa akan mencarinya dan menjelaskan bahwa semuanya hanya permainan saja.


"Apa kamu sudah mencari tahu kebenarannya Alea? Mungkin saja dia di jodohkan?" tanya Rei mencoba menenangkan Alea.


"Aku gak tahu Rei, tapi wanita itu telah hamil darinya!" jawab Alea.


"Astaga kenapa dia tega sih!" Rei tak habis pikir tentang Raffa, kenapa dia mempermainkan perasaan seorang gadis baik seperti Alea.


Akhirnya Alea menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini. Rei mendengarkan gadis itu dengan sabar. Hingga Alea tertidur sebelum telepon itu di matikan.


Rei bisa melihat bagaimana wajah Alea yang tengah tidur saat ini. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mematikan panggilan video itu beberapa menit setelahnya.