
Seorang anak berusia sekitar dua belas tahunan sedang berjalan bolak-balik ke sana kemari di depan ruang ICU rumah sakit ternama di kota itu. Dia sedang menunggu seorang anak kecil yang tadi ditemukannya di dasar jurang.
Dia yang kebetulan sedang melewati tempat itu segera menolong gadis kecil yang sampai sekarang belum dia ketahui namanya itu.
Ketika dokter keluar dari ruang itu, dia segera menghampirinya.
"Bagaimana om keadaannya?" tanyanya pada dokter yang ternyata masih salah satu kerabat dari mamanya.
"Dia sudah melewati masa kritis,tapi kaki sebelah kanannya patah, serta luka di bagian kepalanya mungkin akan membuatnya sedikit amnesia," ucap dokter itu.
"Kamu sebaiknya menghubungi orang tuanya Fa," saran om Heri.
"Tapi aku tak tahu siapa orang tuanya om, dia jatuh dari jurang sendirian," jelas Raffa.
"Hem begitu ya, sebaiknya tunggu dia sadar saja," ucap om Heri, Raffa mengangguk setuju. Setelah memberitahu kepada Raffa, dokter Heri kembali ke ruangannya.
Raffa lalu menghubungi kedua orang tuanya, karena dia tak bisa jika harus mengurusi administrasi rumah sakit.
Satu jam kemudian kedua orang tua mereka tiba dengan rasa panik yang luar biasa. Keduanya bertemu dokter Heri di koridor rumah sakit.
"Heri, gimana keadaan Raffa? Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Wina-mama dari Raffa- sambil mengguncang kedua pundak adiknya.
"Kak, tenang dulu, Raffa baik-baik saja," jawab Heri.
"Jadi siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Ardan pada adik iparnya itu.
"Itu, hanya anak kecil yang ditemukannya di hutan," jelas Heri.
"Apa! Di hutan?" tanya keduanya serentak, Heri hanya terkejut mendengar reaksi keduanya.
"Dimana dia?" tanya Wina.
Heri lalu menunjuk ke arah belakang Wina dan Ardan. Di sana Raffa tengah nyengir menunjukkan beberapa deretan giginya yang putih. Wina dan Ardan segera menghampiri Raffa.
Wina lalu menarik telinga kiri putranya, Raffa mengaduh kesakitan sambil memegang tangan mamanya yang masih bertahan di telinga pria itu.
"Aduh ma, sakit,aduh!" teriak Raffa, telinganya memerah perlahan.
"Dasar anak nakal, udah mama bilang jangan berburu lagi ke hutan. Gak mau denger ya!" ucap Wina kesal.
"Ampun ma, sakit nih telinga Raffa," ucap Raffa. Wina lalu melepaskan tangannya dari telinga putra semata wayangnya itu.
"Udah ma, jangan buat keributan di rumah sakit. Raffa siapa gadis kecil itu?" tanya Ardan pada Raffa.
"Aih anak papa emang udah besar, mau ngebantu orang lain. Tapi lain kali papa gak akan ngizinin kamu ke hutan lagi."
"Iya pa," jawab Raffa lega.
Setelah ketiganya bertemu, Mona yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan segera mereka temui.
"Ya ampun gadis yang cantik sekali," ucap Wina setelah melihat wajah Mona.
"Iya bener ma, anak siapa ya ini?" tanya Ardan pada istrinya.
"Kalau gak ada yang nyariin kita rawat aja ma," Raffa memberikan idenya. Wina dan Ardan saling memandang.
"Tapi kita gak tahu asal-usulnya sayang," jawab Wina.
"Apa sih ma artinya asal-usul, Raffa udah lama pengen punya adik perempuan," Raffa tetap mempertahankan keinginannya.
Wina dan Ardan hanya diam,keduanya belum bisa memutuskan apapun. Mereka harus menunggu gadis kecil itu tersadar terlebih dahulu.
Setengah jam berlalu saat ketiganya menunggu, hingga akhirnya Mona tersadar. Raffa yang mengetahuinya terlebih dahulu segera mendekat ke ranjang Mona.
"Hai kamu sudah sadar? Dimana yang masih terasa sakit?" tanya Raffa penuh perhatian.
"Kamu siapa?" tanya Mona tak mengenal ketiga orang yang berada di ruangan itu.
"Eh iya aku Raffa, aku yang menemukanmu di hutan tadi pagi."
"Siapa namamu nak?" tanya Wina.
"Saya Mona tante," jawab Mona.
"Apa kamu ingat dimana rumah kedua orang tuamu?" tanya Ardan.
Mona menggelengkan kepalanya, dia tak ingat apapun, hanya namanya sendiri yang dia ingat. Selain itu dia tak mengingatnya.
Wina dan Ardan saling menatap satu sama lain. Keduanya lalu tersenyum. Sebuah kesepakatan akhirnya mereka putuskan lewat tatapan mata itu.
"Panggil saja saya mama Wina dan ini papa Ardan,yang nolong kamu ini kak Raffa ya. Mulai sekarang kami yang akan merawatmu," ucap Wina.
Mona masih terdiam, dia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Setelah beberapa saat dia akhirnya mengangguk. Raffa tersenyum senang. Akhirnya dia bisa memiliki adik perempuan juga.